oleh

Keluarga Korban Yoga Tepis Semua Pengakuan Pelaku dan Minta Dihukum Maksimal

SUMEKS.CO – Menindaklanjuti pemberitaan tentang meninggalnya H Ahmad Yoga Medio (28), Selasa 22 April 2020 lalu, pihak keluarga korban kembali meluruskan apa yang dikatakan tersangka.

Pertama, korban meninggal dunia setelah ditusuk 8 kali oleh teman kerjanya bernama Pramos (41) pada Selasa 22 April 2020. Kejadian sekitar pukul 11.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB Korban dinyatakan meninggal dunia.

Setelah ditusuk berkali-kali Alm Yoga dibawa ke RS Charitas untuk pemeriksaan. Lalu keluar pemberitaan di berbagai media yang sangat sepihak dan tidak cover both side, tidak balance atau seimbang dan tidak check and recheck.

Bahkan media mengadili korban yang sudah dibunuh secara terencana tanpa Asas Praduga tak Bersalah (Presumption of Innocent). Media dan pelaku penusukan serta pihak kepolisian telah memvonis korban bersalah melalui pemberitaan.

“Hal ini sangat merugikan keluarga karena telah membentuk opini yang sangat negatif terhadap korban. Opni negatif tersebut terlihat dari respon-respon yang diberikan pembaca,” ujar Prof Isnawijayani MSi, PhD, salah satu keluarga saat memberikan rilisnya melalu pesan WhatsApp, Sabtu (25/4/2020).

Seharusnya pihak Kapolsek IT I menolak ajakan wartawan untuk membuat pernyataan sepihak dalam pemberitaan tersebut. Atau menyatakan pemberitaan ini baru menurut tersangka.

Pihak keluarga menjelaskan, dalam kesehariannya korban adalah anak yang penurut apa yang diarahkan oleh kedua orangtuanya, tidak banyak omong, tidak pernah berkelahi dan sangat mudah memberi pertolongan kepada siapapun.

“Sebagai informasi dengan adanya opini-opini yang negatif bahwa almarhum berasal dari keluarga normal dengan lingkungan yang baik, bukan dari keluarga yang lain bentuknya,” beber Isnawijaya lagi.

Pelaku mengatakan almarhum sering menggoda istrinya, ternyata itu tidak benar sebab dari yang kami teliti dari pembicaraan di WA kontennya terjadi percakapan yang biasa dan normal saja. Tidak tersirat adanya kata-kata yang menggoda.

Almarhum dipanggil adik oleh istri tersangka dan sebaliknya almarhum menyebut Ayuk kepada istri tersangka. Dari sini tidak terlihat adanya unsur menggoda dari almarhum.

Di sisi lain almarhum lebih muda usinya dibandingkan istri tersangka yang telah memiliki anak dua. Menurut logika perilaku almarhun dalam berteman sehari-hari, sesuatu yang kurang mungkin kalau almarhum menggodanya.

Dalam kesehariannya korban adalah sosok yang sering membantu teman-temannya meminjamkan uang yang memerlukan untuk berbagai kepentingan. Dalam isi WA-nya yang terakhir istri tersangkan menulis belum dapat membayar hutangnya karena uang yang ada masih digunakan untuk keperluan keluarga.

“Dalam konten pesan di-WA terlihat bahwa yang paling aktif mengirim pesan adalah istri tersangka, sementara almarhum hanya menjawab sepatah kata saja misalnya dengan “au”. Jadi unsur menggoda istri tersangka nampaknya tidak terbukti,” katanya lagi.

Lalu, dalam WA tidak ditemukan adanya kiriman video porno seperti yang tersangka katakan. Melihat kejadian ini menurut analisis yang menjadi sumber masalah dan malapetaka musibah ini adalah istri tersangka.

“Sepatut dan sebaiknya istri tersangka ikut di-BAP (diambil keterangan) oleh pihak kepolisian, sesuai apa yang dikatakan tersangka. Dan pihak keluarga menginginkan tersangka dihukum maksimal sesuai pasal 340 KUHP,” tukasnya.

Sebelumnya, Rabu (22/4/2020) di rumahnya di Jl Bank Raya I, Demang Lebar Daun, pihak keluarga korban juga membantah tuduhan dari tersangka Ramos yang menyebutkan kalau korban sering menggoda dan mengirimkan video tidak benar dan menjadi fitnah. Pihak keluarga juga menduga, kemungkinan pelaku tidak berniat membunuh tetapi lupa diri hingga membabi buta.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, korban merupakan pegawai honorer Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Sumsel tewas dibunuh oleh teman sekantornya sendiri, lantaran sering menggoda istri pelaku.

Korban tewas mengenaskan setelah dihujami tusukan secara bertubi-tubi hingga tewas di lantai dua ruangan kerja, kantor BPKAD Sumsel, Jl Arivai Palembang, Selasa (21/4/2020) sekitar pukul 12.00 WIB. Tersangka Prasetyo Ramos (34), akhirnya menyerahkan diri ke Polsekta IT I Palembang usai kejadian.(dho)

Komentar

Berita Lainnya