oleh

Kerajinan Telok Abang Memprihatinkan!

SUMEKS.CO – Pada masa pandemi Covid 19 perayaan HUT RI ke 75 tetap semarak. Telok Abang merupakan bentuk kerajinan berbahan baku akar kayu gabus.

Kerajinan itu muncul hanya setahun sekali atau bersamaan dengan HUT kemerdekaan RI.

Rahmat (45), pengrajin telok abang, Lorong Hodijah, Jalan Silaberanti, Kelurahan Silaberanti, Seberang Ulu I, Palembang.

Dia salah satu pengrajin yang masih melanjutkan tradisi membuat telok abang. Selain Rahmat. Ada tiga kepala keluarga lagi yang masih eksis menjadi pengrajin telok abang.

“Ya hanya tinggal kami,” ujarnya pada SUMEKS.CO.

Dijelaskannya, telok abang punya banyak bentuk. Miniatur pesawat terbang dan kapal laut yang paling banyak.

Dalam perkembangannya, ada miniatur becak, bus, mobil, sepeda, dan jenis kendaraan lain.

Rahmat mengaku sudah jadi pengrajin sejak 15 tahun lalu. Belajar dari ayahnya dan dia bersedia melanjutkan usaha dan tradisi tahunan itu.

“Memang dimulai dari turun temurun. Tidak tahu saya generasi ke berapa. Yang pasti saat masa awal kemerdekaan,” kenangnya.

Mengapa dikatakan telok abang atau telor merah?

Simpel kata Rahmat. Karena telor itu berwarna merah.

“Diwarnai, ya sengaja diwarnai. Warna merah mungkin karena hari kemerdekaan dan warna bendera kita merah dan putih,” ujarnya tersenyum.

Bagaimana telurnya, bisa dimakankah?

“Ya, bisalah, tapi dalam waktu tertentu, kalau tidak busuk,” cetusnya.

Namun ada cerita sedih. Rahmat mulai berkeluh kesah.

Beberapa tahun terakhir minat orang membeli telok abang menurun.

“Utamanya telok abang asli. Itu yang dari akar pohon gabus,”

“Sekarang banyak bahan alternatif. Ada dari kertas, styrofoam dan kardus”, ungkapnya.

Rahmat berharap pemerintah turun tangan. Tradisi telok abang ini makin terpinggirkan.

“Hanya tinggal beberapa orang yang membuat telok abang asli”

“Kita butuh bantuan dan uluran tangan pemerintah,” pesannya. (att)

 

Komentar

Berita Lainnya