oleh

Kerincing, Kolektor Medali Panjat Tebing

Dihantui Tangan Basah, Target Naik Podium

Olahraga panjat tebing identik dengan pria. Namun di Kabupaten OKU, olahraga ekstrim itu digeluti seorang wanita. Kerincing. Begitu sapaan akrab wanita muda disapa. Dia atlet Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) OKU sekaligus anggota KPA Gempa Sabatra OKU. Prestasinya cukup banyak, khususnya di Sumbagsel.
—————————————————–
MUSTOFA, Baturaja Timur
—————————————————–

Sekretariat Gapura kampus Unbara pada 16 Februari petang sepi. Beberapa mahasiswa pecinta alam bersantai sembari bercanda.  

Keramaian justru terdengar dari salah satu berukuran 3 x 3 meter. Posisinya berdampingan dengan sekretariat. Dari ruangan itu sedikit gaduh.

Dinding ruangan itu tidak seperti dinding pada umumnya. Tiap sisi berupa papan panjat setinggi 2 meter. Lengkap dengan point panjat.

Sejumlah pecinta olahraga panjat tebing sedang berlatih. Merayap dari satu point ke point lainnya. Ketika cengkraman tangan tidak kuat. Brukkk… Pemain jatuh di atas matras yang dipasang di bawahnya.

Di ruangan yang disulap menjadi arena panjat itu, Siti Sumarni alias Kerincing, berlatih setiap petang.

Mengasah kemampuan dan tenaganya, serta mempelajari teknik menaklukkan point (tempat pegangan dan pijakan di dinding panjat tebing).

Peluh membasahi wajah wanita berdarah Jawa itu. “Mau latihan di tower (dinding panjang tebing), cuaca kurang mendukung, ” katanya.

Petang itu, sekitar pukul 15.30 wib, awan mendung dan disertai rintik hujan. Hanya selang beberapa menit, hujan turun deras. Beruntung latihan petang itu di dalam ruangan sehingga tidak terganggu.

Sarana latihan itu berada di kampus Universitas Baturaja. Satu-satunya tempat melatih kekuatan dan kemampuan memanjat.

Sebenarnya ada dua tower di Baturaja. Tapi tower di komplek GOR Baturaja kondisinya tidak memungkinkan digunakan karena rusak. Hanya kerangka besi yang menjulang tinggi.

Nama Kerincing lebih akrab dari nama aslinya. Nama tersebut merupakan nama rimba yang didapatnya dari KPA Gempa Sabatra.

Persis saat dirinya lulus menjadi anggota muda 2013 silam. “Lebih terkenal Kerincing,” kata Siti sembari tersenyum.  

Bagi dirinya, panjat tebing merupakan hobi yang membuahkan prestasi. Dari olahraga yang kurang lazim bagi kaum hawa ini, dirinya berhasil menggondol sejumlah medali.

“Medali saya koleksi sejak 2015 hingga tahun kemarin,” jelas wanita berambut ikal panjang ini.

Perolehan prestasi itu, buah dari perjuangan keras. Banyak yang harus ditaklukkannya. Seperti rasa takut, serta ganjalan restu orang tuanya.  

“Rasa takut itu ada. Tapi, karena sering latihan, alhamdulillah sekarang tidak takut lagi,” ceritanya.

Pengalaman pahit, menempa peraih juara 3 lead Bupati Cup Muara Enim 2016 ini menjadi pribadi yang ulet. Karena keikutsertaan pada panjat tebing pertama ia kalah.

“Dapat juara empat,” ungkap wanita kelahian 1998 silam ini. 

Kekalahan ini, sebut anak ke 9 dari 12 bersaudara ini, karena persiapan yang belum matang. Porsi latihan hanya satu bulan. Saat lomba itu digelar, dirinya baru saja mengenal panjat tebing. “Dari kegagalan itu, saya berlatih,” tuturnya.

Olahraga panjat tebing ia saat dia baru bergabung ke KPA Gempa Sabatra pada 2013 silam. Dari sekian banyak devisi di organisasi ini, dirinya hanya jatuh hati pada panjat tebing. Alasannya sangat sederhana. Olahraga ini sangat menantang.

Apalagi, wanita hitam manis itu hobi olahraga di alam bebas. “Yang lebih mengasyikkan saat manjat di tebing alam bisa menikmati sensasi di atas ketinggian,” ucapnya seraya menjelaskan ia bergabung Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) karena mau jadi atlet panjat tebing.

Selain harus cekatan memegang point pada papan panjat, otak juga dituntut aktif. Tangkas saja belum cukup tanpa perhitungan yang akurat.

Belum lagi, tangannya yang mudah berkeringat menjadi persoalan lain. “Kalau tangan berkeringat, tepung (magnesium karbonat) tidak membantu. Justru membuat tangan semakin licin,” ujarnya.

Tangan yang basah menjadi momok atlet panjat tebing saat bertanding. Pasalnya, cengkeraman tangan pada point sangat lemah. “Saat itulah kita harus berpikir agar kita terus bertahan dengan memanjat ke point selanjutnya,” terangnya.

Meski dia sangat suka dengan olahraga itu, bukan berarti ia tidak menghadapi kesulitan. Setiap babak dalam perlombaan, tingkat kesulitan memanjat selalu berubah.

“Ini yang kadang bikin lama pemanjatan,” ungkapnya.

Meski kerap dilanda kesulitan, justru hal inilah yang membuatnya tertantang untuk mengatasi kesulitan itu.

Apalagi sejak dirinya bergabung ke FPTI OKU, banyak teknik yang bisa dikuasai. Itulah yang membuatnya berani menetapkan target di setiap kompetisi. “Wajib naik podium,” tegasnya.

Siti mengakui, hobi panjat tebing ini sempat dilarang kedua orangtuanya. Karena latar belakang anak perempuan, menyukai olahraga ketinggian yang seharusnya dimainkan anak laki-laki.

Namun seiring waktu dibarengi prestasi, kedua orangtuannya pun mengizinkan.

“Alhamdulillah orangtua sekarang selalu memberi izin kalau mau ikut event,” terang peraih juara 1 lead umum putri Mahepel Climbing Competition Se-Sumbangsel 2018.

Hobinya itu, kata Siti, tidak mengganggu aktifitasnya.Sehari-hari, dirinya disibukkan dengan membantu ibunya bercocok tanam di kebun.

“Mau kuliah, tapi belum ada dana. Jadi sekarang masih membantu emak di sawah atau di kebun,” ungkapnya.

Karena keberhasilannya, adik bungsunya, Suwardi, juga mulai menekuni olahraga yang ia tekuni. Bahkan, meski terbilang baru, si bungsu mampu membawa pulang medali.

“Alhamdulillah sudah meraih satu mendali perunggu di Lead Under 14 putra, sirkuit series I Sumsel,” tandasnya.

Kini, ia menargetkan medali tingkat nasional. Karena, medali yang ia raih masih sebatas ruang lingkup Sumbagsel. Dan perolehan ini, belum membuat wanita ini puas. “Saya harus giat latihan. Supaya bisa jadi atlet nasional,” pungkas Siti. (*)

Komentar

Berita Lainnya