oleh

KH Said Aqil Siroj: Menguatkan Peran Keagamaan dan Kebangsaan

TEMA Harlah Ke-96 NU adalah menguatkan peran keagamaan (amanah diniyah) dan peran kebangsaan (amanah wathaniyah). Dan Pada (31/1)  hari lahir (harlah) ke-96 itu akan diperingati, dengan berbagai kegiatan. Berikut petikan wawancara Wartawan Jawa Pos TAUFIQURRAHMAN dengan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj .

Menguatkan peran keagamaan (amanah diniyah) dan peran kebangsaan (amanah wathaniyah).  Apa yang dimaksud dengan dua amanah ini?

Pertama, amanah diniyah. Untuk membentuk umat yang wasatan (moderat).

Di dalam Alquran tidak ada terminologi umat Islam atau umat Arab. Yang ada ummatan wasatan (Al Baqarah: 143).

Artinya, saya jadikan kamu Muhammad dan para pengikutmu umat yang moderat. Umat yang modern. Tidak mengenal radikal dan tidak mengenal ekstrem. Supaya apa? Supaya umat ini berperan sepanjang masa hingga hari akhir nanti.

Peran apa itu? Ya, peran agama, peran budaya, peran politik, peran ekonomi, dan seterusnya. Dalam mengikuti peredaran dan gerakan dunia ini.

Kita, NU, selalu mempertahankan wasatiyah dalam Islam. Mempertahankan sikap moderat, sikap tengah dalam Islam. Baik secara akidah, syariah, maupun suluk. Berakidah kita moderat, bersyariah kita moderat, berperilaku kita juga moderat. Tidak mengenal cenderung terlalu kanan, cenderung terlalu kiri.

Bagaimana bentuk wasatiyah dalam beragama itu?

Sudah diberi petunjuk oleh nabi, oleh para ulama dan leluhur. Mencari jalan wasatiyah itulah yang selalu diupayakan para ulama. Tapi, wasatiyah itu membutuhkan kecerdasan. Contohnya dalam memahami Alquran dan hadis.

Kalau tekstual, harfiah saja, jadi jumud. Kalau pakai akal saja, bisa salah. Nanti liar, jadi liberal. Gabungan antara Alquran dan hadis itu adalah wasatiyah. Memadukan akal dan wahyu. Ini nggak gampang, harus cerdas.

Bagaimana dengan amanah wathaniyah?

Itu berangkat dari ijtihad KH Hasyim Asy’ari. Sejak 1917 KH Hasyim sudah punya jargon hubbul wathan minal iman. Nasionalisme bagian dari iman. Anda nasionalis harus beriman pada Tuhan. Anda beriman, beragama, harus nasionalis. Ini ijtihad yang luar biasa.

Kita ada agama, nggak ada negara, gimana? Di atas angin? Di awang-awang? Oleh karena itu, KH Hasyim Asy’ari mengatakan, barang siapa mati membela tanah airnya, syahid. Barangsiapa berkhianat pada tanah airnya, misalkan, bantu Belanda (penjajah) atau Jepang, boleh dibunuh. Halal darahnya walaupun tidak dikatakan kafir. Tapi, boleh dibunuh.

Itu tahun 1917-an. Khilafah masih ada di Turki. Tapi, sudah lemah seperti orang sakit, nggak berdaya apa-apa menghadapi penjajah di mana-mana. Tahun 1924 khilafah bubar. Khalifah terakhir Abdul Majid dibuang ke Jerman. Yang membubarkan Mustafa Kemal Ataturk.

Di Indonesia sudah baik?

Di Indonesia waktu itu kita sudah mapan. Sudah punya pegangan nasionalisme bagian dari iman. Di Timur Tengah masih gugup mencari-cari. Muncul partai politik yang nasionalis, sosialis sekuler.

Di Indonesia kita syukuri budaya kita sudah mapan. Terdiri atas ribuan suku lebih sudah mapan, selesai. Suku tidak lagi dipermasalahkan. Kepala kantornya Jawa, sekretaris Sunda, wakil direkturnya Melayu nggak masalah. Tinggal masalah agama yang masih ada.

Jadi, lebih baik daripada kondisi Timur Tengah?

Di Timur Tengah suku masih masalah besar sampai sekarang. Di Afghanistan hanya ada tujuh suku. Seratus persen muslim, 1 persen Syiah. Semuanya mazhab Hanafi. Perang sudah 40 tahun.

Iraq yang mayoritas muslim, yang perang sesama Islam. Syria ada Yahudi, ada Kristen, nonton saja. Semua yang perang yang Islam. Faktor utama suku. Tidak ada organisasi seperti NU dan kekuatan civil society.

Akhlak itu husnul muasyarah, husnul musyarakah, husnul muamalah. Kebersamaan yang baik, interaksi yang baik, bermasyarakat yang baik. Yang tua menyayangi yang muda, yang muda hormat yang tua. Saling menghargai, bisnis jujur, selesai semua masalah. Itulah akhlak.

Ini yang di Timur Tengah amburadul. Teologinya benar, syariahnya benar. Tapi, akhlaknya amburadul. Membangun kebersamaan itu sulit sekali.

Ada peluang ideologi kelompok-kelompok ini menular ke Indonesia?

Peluang pasti ada, tapi akan gagal selama kita masih solid.

Komentar

Berita Lainnya