oleh

Ki Manteb: Mas Parno, Pengusaha yang Peduli Budaya

Banyak kesan  saya tentang almarhum Ki Suparno Wonokromo , ​CEO Sumatera Ekspres. Bos Koran yang suka ndalang ini,  adalah pengusaha yang peduli budaya.

Saya kenal beliau, Mas Parno Wonokromo pada  2008 sewaktu mengadakan Sarasehan Pedalangan seluruh Sumsel. Kebetulan saya ditunjuk oleh Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Pusat menjadi nara sumber pada acara itu.

Ternyata dengan berjalannya waktu, Mas Parno sendiri juga berkenan belajar dalang. kebetulan belajarnya juga kepada saya. Saking senangnya bisa dalang sampai Mas Parno membeli wayang satu kotak punya saya.  Dan memang mas Parno itu fanatik dengan pedalangan saya.

​Berhubung Mas Parno itu fanatik dengan pendalangan saya, sampai wayang kesayangan saya satu kotak pradan sekalian gawang kelir ukiran,  saya relakan dibeli  Mas Parno.

Pernah ada wayangnya rusak, saya diminta datang  menyempatkan diri ke Palembang untuk memperbaiki wayang tersebut.

​Menganai pedalangan Mas Parno, menurut kacamata saya sudah mulai mapan. Istilah Jawa-nya (ndhalangi). Style Mas Parno itu senang wayang klasik. Tidak hura-hura dan tidak suka dengan musik dan pelawak. Cerita atau alur  lakon wayangnya juga cerita pakem,  bukan karangan.

​Saya pernah mempunyai cita-cita agar Mas Parno itu bisa ndalang hebat.  Karena beliau itu pengurus di Pepadi Pusat sebagai Ketua II. Dan ternyata keinginan saya itu telah terlaksana. Saya percaya Mas Parno bisa menjadi dalang.

Soal motivasi, beliau Mas Parno tidak ingin laku atau laris.  Melainkan untuk ngurip-ngurip budaya, budaya wayang. Inilah yang membedakan dengan saya. Jadi Mas Parno itu pengusaha yang peduli budaya. Kalau saya dalang profesional kan harus laku untuk mencari nafkah.

​Perjuangan Mas Parno kepada seniman terutama pedalangan besar sekali. Contohnya kalau ada kegiatan teman-teman dalang, Mas Parno pasti hadir dan membantu dana kalau juga ikut pentas dalang.

Dengan adanya Mas Parno Wonokromo telah dipanggil Yang Maha Kuasa, semua ikut kehilangan. Terutama para seniman, lebih-lebih seniman dalang. Saya masih punya kenangan yang tidak mungkin saya lupakan.

Pada waktu Pak Dahlan Iskan masih menjabat sebagai Dirut PLN mengadakan pentas wayang di Kantor PLN Jakarta.  Semalam dalangnya tiga  orang. Pertama Mas Margiono Jawa Pos -Rakyat Merdeka, kedua Mas Parno Wonokromo dan ketiga saya sendiri. Malam itu semua dalang mendapatkan sambutan antusias dari penonton dan hebat sekali.

H Muslimin Dirut Sumeks Grup bersama karyawan saat ziarah ke makam H Suparno Wonokromo di Pocol, Senai, Ngawim, Jatim

Atas dipanggilnya  Mas Parno oleh Yang Maha Kuasa,  saya hanya bisa mendoakan: Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Sampar wangke tali wangke, lepaso parane jembaro kubure, padhang dalane, tinampan gustine, ingapuro dosa kalupatane, satemah pinaringan suwargo kamulyane, kang tininggal pinaringana kekuwatan imane, khusnul khotimah, Amiin, Amiin, Amiin Ya Robbal Alamin. (Ki Manteb Soedharsono)

Komentar

Berita Lainnya