oleh

“Kita Beli Aja Hotelnya ……”

Mas Parno, selamat jalan ! Innalillahi wainna ilaihi rajiun..

Telah pergi salah seorang sahabat terbaik saya, Suparno Wonokromo, sahabat yang sama-sama jatuh bangun, membangun Jawa Pos Group, sebagai salah satu group media besar di Indonesia.

Mas Parno akan tetap diingat sebagai salah satu CEO yang handal dan bertangan dingin.

Di Jawa Pos group dulu dikenal istilah The Seven Samurais. Tujuh pendekar. Mas Parno salah satunya.

Dia pendekar yang memimpin Group Sumatera Ekspres atau Sumeks Group. Markasnya di Palembang dan grupnya beroperasi di Sumatera bagian Selatan.

Mulai dari Sumsel , Lampung, Bengkulu, Jambi dan Bangka Belitung. Bahkan karena tangan dinginnya, dia masih diberi tugas mengepalai beberapa media cetak di Jawa Barat dan Jawa Tengah yang dkenal dengan Radar Cirebon Group. Meskipun sehari-hari grup ini dipimpin mas Yanto Purwjogiyno.

Saya sangat mengagumi mas Parno. Bukan cuma berkat tangan dinginnya Sumeks Group menjadi salah satu grup yang kuat dan “kaya”, tapi juga visi dan ambisi bisnisnya yang luar biasa.

Jejaknya sampai sekarang masih ada. Terutama surat kabar lokal dengan nama “radar-radar” yang ada hampir di semua kabupaten di Sumbagsel.

Dalam kelompok Jawa Pos Group dalam katagori total aset dan total usaha, memang Sumeks Group itu ada di urutan keempat sesudah Riau Pos Group, Kaltim Pos Group dan Fajar Group.

Tapi dalam urusan laba dan kas setara, Sumeks group selalu nomor satu.

Karena itu kalau ada rapat evaluasi JP group (yang dilakukan 4 kali setahun dan berganti-ganti tempat pertemuannya). Terkadang di Surabaya, Jakarta, Palembang, Makassar, Balikpapan, Pekanbaru atau Batam, di sana selalu heboh.

“ Eh…orang kaya datang,” katanya sambil menepuk- nepuk kantong celananya.

Dia akan tertawa lebar di balik jas wol-nya , dengan dasi yang selalu warna merah atau warna warni.

Orangnya memang tidak tinggi. Sedang dan cenderung pendek. Sehingga dasinya sering kepanjangan. Dan akan selalu jadi joke kalau ujung dasinya itu menyentuh pinggir toilet.

Tapi kami sangat akrab. Dia selalu jadi teman satu kamar kemana pun kami pergi. Terutama kalau ke luar negeri. Karena kamar terbatas dan mahal, kami harus sekamar dengan dua bed. Saya suka dan dia juga suka. Karena jarang berdebat. Sama-sama suka mendengkur, dan sama-sama suka tidur cepat dan salat subuh.

Mungkin pengalaman sekamar yang paling saya ingat ketika kami ke kota judi Monte Carlo. Kami nginap di hotel yang konon di situ salah satu lokasi pembuatan film James Bond.

Dan kami dilarang masuk hotel gara-gara Mas Parno tampil cuek dengan sepatu sandal dan celana pendek.

Petugas keamanan hotel tak percaya kami nginap di hotel di situ, meski kami sudah tunjukkan kunci kamar. Lama kami berdebat dan baru bisa masuk.

“ Bos Rida, kita beli dah hotelnya hahaha… “ katanya berkelakar.

Dia memang menanggil saya Bos Rida. Tapi memanggil Pak Dahlan Iskan (Dis) bos besar JP Group dengan sebutan “Pak Bos “, dan “ Bos Alwi “ untuk Alwi Hamu, bos besar Sumeks Group.

Mas Parno sangat suka belajar bisnis. Dan dia akan kirim tim manajemennya kemana saja untuk belajar. Termasuk ke group saya di Riau.

“Pergi sana belajar dengan Bos Rida, kenapa oplah mereka naik, “ perintahnya.

Dia ditunjuk Pak Dis memimpin Group Sumeks setelah dia sukses sebagai wartawan Jawa Pos di Jakarta. Pak Dis mengirim dia ke Palembang ketika JP Group mengambil alih Sumeks, saingan Sriwijaya Post di Palembang.

Dan dia sukses membangun Sumeks dan membangun kerajaan bisnisnya di Sumbagsel.

Bukan cuma koran, tapi juga televisi lokal, meskipun bukan yang pertama dan dia harus belajar ke Riau untuk membangun group TV-nya.

Hebatnya dia, tiap daerah operasi medianya, dia bangun gedung operasional dan percetakan sendiri.

Di Palembang, Lampung, Bengkulu, Jambi dan Pangkal Pinang. Graha pena, meski kecil-kecil. Semua punya kantor sendiri.

Di kalangan kami para The Seven Samurais, Mas Parno terkenal sebagai sosok yang konsekuen dan berani membuat keputusan . “Sudah, jalani saja …,” katanya santai.

Keberanian itulah yang kata Mas Zainal Muttaqin, CEO Kaltimpos Group, yang dia tak sanggup menanggungnya. “Kita kira ini cuma ngomong doang. Mas Parno langsung eksekusi, “ kata Mas Zam.

Mas Parno memang seorang entrepreneur sejati. Dia belajar bisnis dari bawah, dan tidak terlalu peduli dengan urusan laporan keuangan.
“Urusan Warni lah itu Bos, yang penting laba,“ begitu dia serahkan urusan tetek-bengek laporan keuangannya pada Warni yang setia sampai ke akhir hayat Mas Parno.

Apa cita-citanya jika tidak lagi memimpin bisnis media? “Bos, aku ini mau jadi dalang aja . Dalang wayang kulit,” jawabnya suatu kali kami sedang berada di Finlandia.

Dan dia kemudian memang benar benar mewujudkan mimpinya jadi dalang dan memiliki perangkat wayang kulit yang begitu lengkap. Dan sempat mendalang bersama beberapa dalang wayang kulit Indonesia yang tersohor. Termasuk dengan Margiono, CEO Rakyat Merdeka Group.

Selamat jalan Mas Parno. Saya seperti merasakan gurihnya kambing muda di dataran Sin Chiang, Cina. Atau tetes salju gunung Tities di Swiss. Atau rangupnya es cream di pinggir stasiun kereta bawah tanah di Parma, Italia.

Merasakan kelaparan setelah transaksi beli mesin pabrik kertas puluhan miliar, tapi harus jalan kaki, makan es cream dan buka sepatu karena kaki lecet sebelum sampai ke hotel.

Itulah cerita kalau ikut jalan ke luar negeri dengan pak Dis. “Di depan itu ada makanan enak, ayo kita jalan, “ kata pak Dahlan.

Dan makanan enak itu tak ketemu sampai ke pintu hotel. “Aman pak Bos ….” begitu selalu Mas Parno merespon perintah Pak Dis.

Tidak pernah membantah dan tak pernah bilang tak bisa, termasuk ketika dia diminta masuk ke bisnis menambang minyak di sumur-sumur tua di Palembang.

Hemm…indahnya persahabatan yang tulus. Di group bisnis yang semangat entrepreneurship tumbuh dan berlembang. “Kalau tidak dipungut Pak Bos Dahlan, entah kita bisa sampai ke Skandinavia dan nonton teater sambil pakai jas hahaha, “ begitu selalu kami mengenang perjalanan hidup kami.

Beristirahatlah dengan tenang, saudaraku !

Dato Rida K Liamsi
Komisaris Riau Pos Group

Komentar

Berita Lainnya