oleh

Komisi III DPR Apresiasi Langkah Kapolri Hukum Mati Anggota Polisi Tersangka Kasus Narkoba

JAKARTA – Anggota Komisi III DPR RI Aboebakar Alhabsyi turut menanggapi terkait dengan salah satu anggota kepolisian yang terlibat dalam kasus peredaran narkoba.

Ia pun mengapresiasi langkah Kapolri Idham Azis dalam menghukum mati anak buahnya jika tersangkut barang haram tersebut.

Namun, Aboebakar menekankan, hal tersebut harus dibuat secara tertulis sehingga bisa menjadi pedoman setiap anggota lembaga Bhayangkara itu.

Demikian disampaikan oleh Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu melalui pesan singkatnya kepada Pojoksatu.id di Jakarta, Senin (26/10/2020).

“Alangkah lebih baik jika hal itu dibuat tertulis sehingga akan bisa dipedomani oleh setiap personel anggota kepolisian. Atas langkah ini kami berikan dukungan sepenuhnya,” ujarnya.

Kendati begitu, apa yang disampaikan oleh Idham Aziz tersebut bagian dari komitmen lembaga kepolisian untuk memberantas peredaran narkoba di tanah air.

“Apa yang disampaikan itu adalah bagian dari berkomitmen memberantas seluruh peredaran narkotika di Indonesia, apalagi menyangkut penegak hukum sendiri” ungkapnya.

Ia juga meminta kepada semua pihak untuk bergotong royong dan saling bahu membahu memberantas narkoba.

Sebab, lanjut anak buah Sohibul Iman itu, hal tersebut menyangkut masa depan anak dan cucu bangsa Indonesia kedepannya.

“Ini adalah semangat pemberantasan narkoba yang harus mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, karena akan menyangkut masa depan anak bangsa,” pungkasnya.

Sebelumnya, Polri menyatakan perwira Kompol IZ yang diduga terlibat peredaran narkotika jenis Sabu seberat 16 Kilogram (Kg) di Riau terancam hukuman mati.

Kadiv Humas Polri, Irjen Argo Yuwono mengungkapkan tindakan tegas tersebut merupakan bentuk komitmen pimpinan Polri dalam memberantas peredaran narkoba.

Apalagi, yang bersangkutan merupakan aparat yang mengetahui konsekuensi penegakan hukum.

“Komitmen Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis sangat jelas dan dan tegas. Anggota yang terlibat harus dihukum mati, karena sebenarnya dia tahu undang-undang dan dia tahu hukum,” kata Argo dalam keterangannya, Minggu (25/10/20). (muf/pojoksatu)

Komentar

Berita Lainnya