oleh

Kopi OKU Sebagian Dikirim ke Lampung 

BATURAJA – Komoditi kopi di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) belum menjadi komoditi andalan. Petani di OKU masih mengandalkan karet dan sawit sebagai komoditi perkebunan andalan.

“Kopi ini ditanam di sebagian Lengkiti, Sosoh Buay Rayap dan daerah Ulu Ogan,” sebut Kadin Pertanian OKU Joni Saihu, Jumat (7/8).

Kopi yang ditanam jenis Robusta. Daerah tersebut berbatasan dengan Muara Enim, dan Kabupaten OKU Selatan.

Disebutnya, kopi ditanam di daerah yang membutuhkan suhu dingin, atau daerah perbukitan. Sayangnya saat ini harga jual kopi masih rendah.

Kabid Perkebunan Dinas Pertanian OKU, Husmin menambahkan kopi dari panen petani sebagian dikirim ke Lampung. Karena di daerah tersebut sudah ada eksportir kopi.

Salah seorang petani kopi, Mang Rus mengatakan, saat ini harga kopi masih rendah. “Kalau untuk bejual sekarang masih Rp 16.000/kg,” ujarnya.

Petani kopi di daerah Sosoh Buay Rayap tersebut mengatakan, kopi di daerahnya biasanya panen setahun sekali.

Sekali panen biasanya dia mendapat 200 Kg.

Hanya saja, harga jual kopi menurutnya masih rendah. Padahal tanaman kopi membutuhkan pupuk dan perawatan. Dengan harga jual rendah belum menutup biaya pupuk, dan juga penyemprotan.

“Tidak sesuai biaya dengan hasil yang dikeluarkan,” ujarnya. Kopi hasil perkebunan, menurutnya dijual kepada penampung yang biasanya datang ke pasar kalangan di desanya. Biasanya pengepul ini datang pada saat pasar kalangan dibuka. (bis)

 

Komentar

Berita Lainnya