oleh

Kopi Organik di Pagaralam Butuh Waktu

PAGARALAM – Mengubah sebuah kebun kopi menjadi 100 persen organik bukan perkara gampang. Semuanya kata, Kristian, seorang petani kopi di Pagaralam, membutuhkan proses dan waktu.

“Paling tidak membutuhkan 5 tahun dan bertahap,” ucapnya ketika ditemui beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, yang perlu diubah pertamakali adalah paradigma atau cara berpikir petani. Bagaimana caranya meyakinkan petani, sehingga mau meninggalkan zat kimia dalam merawat kebunnya. Misalnya, mulai meninggalkan pestisida untuk membersihkan rumput dan menggantinya dengan menggunakan mesin.

Kris adalah petani yang tergabung dalam Desa Wisata dan Sekolah Kopi (Dewi Sekopi) Besemah. Banyak petani yang tergabung dalam perhimpunan yang berpusat di Dusun Gunung Agung Lama, Kelurahan Agung Lawangan, Kecamatan Dempo Utara ini.

Mayoritas kebun petani di sini sudah organik. Namun Kris belum puas. “Untuk pengangkutan pun sebenarnya harus memakai kendaraan yang tak menggunakan minyak. Jadi harus benar-benar bersih,” ucapnya.

Maka ke depan, Dewi Sekopi Besemah berencana menggandeng investor guna menyediakan alat pengangkutan yang ramah lingkungan.

Kebun organik juga sudah mulai diterapkan petani di Talang Kromo, Kelurahan Bumi Agung. Di sana mereka pendampingan dari Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MAI) Pagaralam.

“Sudah banyak petani di sini yang tak lagi memakai pestisida. Jadi sudah organik,” ujar Nisdiarti SE, Ketua MAI Pagaralam ketika dihubungi Pagaralam Pos beberapa waktu lalu. (ald)

Komentar

Berita Lainnya