oleh

Kopi Wine Pagaralam Tembus Pasar Eropa, 1 Ton Kopi di Ekspor Pertahun

SUMEKS.CO – Kopi Wine, merupakan jenis olahan biji kopi baru yang tengah mengharumkan Kota Pagaralam dikancah industri perkopian nasional dan mancanegara.

Bukan kepalang, selain berhasil memikat pencinta kopi nusantara. Karena rasa dan aroma kopi yang khas selain itu keberadaanya pun belum banyak.

Kopi dari jenis kopi robusta hasil bumi Desa Rimba Candi, Dempo Tengah, Kota Pagar Alam. Sekarang telah merambah pasar di negara besar seperti Jepang, Uni Emirate Arab, Amerika Serikat dan Inggris.

Petani kopi wine robusta Frans Wicaksono mengatakan kopi miliknya dipasok melalui distributor sebanyak 1 ton pertahun dengan harga Rp 50 ribu perkilo.

“Saya jual putus ke teman saya. Teman saya bawa untuk di promosikan ke negara luar. Tapi tetap akta kelahiran nya biji kopi Pagaralam,” ungkap Om Frans saat dibincangi SUMEKS.CO dikebunya. Rabu (21/10/2020).

Menitih karir sejak tiga tahun silam, kini mulai menemukan ritme pemasaran. Ditemani oleh 15 orang warga desa Rimba Candi. Yang notabene memiliki pemahaman lokal kopi yang baik, sehingga membuat jumlah permintaan pun meningkat.

Setelah Abudabi (UEA) sekarang menyasar Kota London (Inggris), peta terbaru yang dijamah oleh kopi yang memiliki brand Absolut Coffee.

“Tahun ini kami telah masuk Kota London, Inggris. Ya walaupun baru 300 Kg,” ungkap ex produser Dahsyat RCTI.

Pria yang akrab dipanggil Om Frans menerangkan. Kopi wine ialah kopi yang dihasilkan melalui ragam tahap sebelum dikonsumsi. Dari panen yang berupa biji kopi merah – sampai proses fermentasi selama 2 bulan, lalu dikeringkan hingga dapati biji kopi hijau (green bean).

Berada di ketinggian 1820 MDPL, yang kelembaban udara nya tinggi serta asupan air yang tercukupi. Membuat kesuburan tanaman kopi yang ditanam disana terjaga.

“Sehingga tidaklah sulit untuk mendapatkan kopi berkualitas,” kata om Frans.

Lanjutnya, untuk mendapatkan kepercayaan dari konsumen mancanegara. Petani harus menyakinkan kalau kualitas kopi mereka terbaik. Salah satunya melewati penilaian dari laboratorium Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember.

“Sebab penting untuk dipahami. Sertifikat yang dikeluarkan dapat menjadi acuan menyakinkan konsumen bahwa hasil kopi teruji spesifikasinya,” katanya.

Selain itu penilaian Puslitkoka bisa menjadi acuan sebagai bahan evaluasi bagi petani. Jika hasil rata-rata dibawah 6,0 maka kopi tersebut belum berkualitas Ekspor.

Petani masih kaku untuk mengembangkan ekspansi pemasaran. Selain asuhan dari Pemerintah Daerah terhadap capaian kopi Pagaralam, seyogya nya juga diriingi dengan keinginan luas dari para petani.

Dia berharap landscape berbisbis petani kopi, Khususnya di Pagaralam harus berubah. Sebab, kopi Pagaralam berada sebagai segitiga kopi berkualitas, bertalian dengan kopi Semendo-Lahat.

“Kualitasnya sudah baik disini tinggal mau tidaknya petani berkembang. Saya yakin dengan begitu kopi Pagaralam akan mampu lebih dikenal,” tutupnya. (Bim)

Komentar

Berita Lainnya