oleh

Korban Pelecehan Buat Laporan, Polisi Buru Oknum Dokter Rapid Test

SUMEKS.CO – Polresta Bandara Soekarno-Hatta mendatangi LHI untuk penyelidikan kasus dugaan pelecehan seksual dan pemerasan. Peristiwa itu dialami korban oleh oknum tenaga kesehatan di Terminal 3 Bandara Soetta saat melakukan rapid test.

Tim yang ditugasi khusus tersebut berangkat ke Denpasar, Bali, untuk memintai keterangan LHI. “Dirinya khawatir untuk ke Polresta Bandara Soekarno-Hatta sehingga jemput bola ke sana guna kepentingan penyidikan dan penyelidikan dan percepatan dari penanganan peristiwa ini,” ujar Kapolresta Bandara Soekarno-Hatta, Kombes Adi Ferdian Saputra seperti dikutip PojokSatu.id (Jawa Pos Group), Senin (21/9).

Menurut Adi, korban sendiri sudah bersedia untuk dimintai keterangan oleh Satreskrim Polresta Bandara Soekarno-Hatta di tempatnya bekerja di Bali. “LHI akan membuat laporan polisi sebagai dasar melakukan penyelidikan dan penyidikan untuk cukup bukti diberlakukan penyidikan,” katanya.

Hingga saat ini pihaknya sudah berkoordinasi dengan Airport Operation Control Center (AOCC) dan penyelenggara rapid test di Bandara Soekarno-Hatta, yakni PT Kimia Farma. Koordinasi itu dimaksudkan untuk melengkapi data dan mengungkap kasus pelecehan seksual dan pemerasan oleh oknum tenaga kesehatan dimaksud.

“Kami sudah berkoordinasi untuk menentukan titik terang apakah yang disampaikan LHI ini benar apa enggak.” ungkapnya.

“Kami juga kontak pihak IDI (Ikatan Dokter Indonesia) terkait pelaku yang dilaporkan berinisial E ini apakah memang sudah dokter atau belum,” jelasnya.

Sebelumnya viral sebuah kabar di media sosial bahwa telah terjadi pelecehan seksual di Bandara Soekarno Hatta. Kisah ini dibagikan oleh perempuan berinisial LHI, 23, selaku pemilik akun twitter @listongs.

LHI menyebut pelecehan itu terjadi saat dia melaksanakan rapid test yang disediakan oleh Bandara Soekarno Hatta sebagai syarat perjalanan menuju Nias, Sumatera Utara, pada Minggu (13/9). Hasil rapid tes itu dinyatakan positif oleh sang dokter.

LHI kemudian memutuskan membatalkan perjalanan ke Nias karena takut menularkan virus. Ditambah, dia meresa perjalannya ke Nias tidak begitu mendesak.

Namun, dokter tersebut malah menawarkan bantuan agar LHI tetap bisa melanjutkan perjalanan ke Nias. Dokter itu mengaku bisa mengubah hasil rapud test LHI menjadi non reaktif. LHI mulanya sempat menolak, namun dokter tersebut dianggap melakukan pemaksaan sehingga LHI menurutinya.

Setelah keluar dari ruang rapid test, mendadak korban didatangi lagi oleh dokter tersebut. Sang dokter meminta imbalan karena telah membantu LHI. Tak mau ambil pusing, LHI pun menawarkan uang Rp 1 juta, namun dokter tersebut meminta Rp 1,4 juta.

LHI pun melakukan pembayaran senilai yang diminta dokter dengan cara transfer. Sebab, waktu boarding sudah mepet. Setelah mendapat bayaran, sang dokter tiba-tiba langsung mencium bibir LHI. Bahkan korban merasa area payudaranya juga diraba oleh pelaku.

LHI hanya bisa terdiam seketika mendapat perilaku pelecehan tersebut. Badannya kaku tak bisa merespon apapun karena begitu syok dan takut atas peristiwa yang menimpanya. Setelah melakukan boarding, LHI langsung menangis histeris saat menelepon kekasihnya. Dan menceritakan peristiwa yang baru saa terjadi. (Bintang Pradewo/jawapos.com)

 

Komentar

Berita Lainnya