oleh

Kota Ajaib Bentonville

Dalam perjalanan dari Texas ke Kansas, saya dan teman-teman tidak “langsung lurus” ke arah utara. Road trip sempat kami “serongkan” dikit ke arah timur, ke negara bagian Arkansas. Khususnya bagian pucuk atasnya, yang berdekatan dengan perbatasan Missouri (di utara) dan Kansas (di barat). Karena di situ ada sebuah kota yang sudah lama membuat saya penasaran. Namanya Bentonville.

Dan ternyata, ini benar-benar kota yang menakjubkan. Bahkan buat saya termasuk mencengangkan. Ini kota kecil, berpenduduk hanya 50 ribu, tapi memposisikan diri sebagai kota masa depan. Menantang kota-kota besar “high tech.” Seperti Seattle dan Bay Area (kawasan San Francisco dan sekitar).

Ukuran boleh kecil. Lokasi boleh di “nowhere” (tengah-tengah Amerika). Tapi ini kota memposisikan diri untuk mengundang orang-orang muda pintar dan modern. Karena orang-orang itu yang akan membuat kota ini dahsyat ke depan.

Semua itu bermula pada 1950.

Seperti kota-kota lain di tengah Amerika, khususnya di kawasan Barat Laut Arkansas, kehidupannya bergantung pada pertanian dan peternakan. Lalu pada 1950 itu, datang Sam Walton dan keluarganya. Membuka sebuah toko kelontong bernama Walton’s 5 & 10, di pusat kota, di sekeliling alun-alun. 

Bagi yang punya latar belakang pendidikan bisnis, khususnya retail, seharusnya kenal siapa itu Sam Walton. Ia adalah pendiri Walmart, jaringan hypermarket terbesar di dunia. Tahun 2021 ini, jaringan retail Walmart sudah mencapai 10.526 toko di 24 negara (menggunakan 48 nama yang berbeda.

Walmart adalah perusahaan terbesar di dunia dalam hal revenue. Mencapai hampir USD 550 miliar. Jumlah karyawannya juga terbesar di dunia, mencapai 2,2 juta orang. Dan keluarga Walton sampai hari ini masih memiliki saham mayoritasnya!

Semua itu bermula dari toko kecil di Bentonville itu. Setelah memenuhi tugas militer era Perang Dunia II, Sam Walton –asli Oklahoma– memang pindah-pindah kota dan sempat punya toko di kota-kota lain. Tapi, keluarganya jatuh cinta dengan Bentonville. Istrinya, Helen, meminta keluarganya tetap berpusat di kota itu. Termasuk saat Walmart berkembang pesat di mana-mana.

Termasuk saat keluarga itu di awal 2000-an menjadi yang terkaya di dunia. Tetap di Bentonville.

Keluarga itulah yang membuat Bentonville “masuk dalam peta.” Dan keluarga itu pula yang memastikan Bentonville ikut berkembang dengan zaman, bahkan memposisikan diri untuk lebih bersaing lagi di masa depan.

Generasi Sam dan Helen Walton memulai Walmart. Empat anak mereka membantu mengembangkannya. Rob, John, Jim, dan Alice sudah diajak membantu bekerja di toko sejak kecil. Dan sekarang, giliran para cucu yang mencoba membawa ke era masa depan.

Dua cucu yang paling high profile adalah Tom dan Steuart, anak dari Jim. Dua orang ini pula yang membuat saya dan teman-teman penasaran dengan Bentonville.

Gara-gara sepeda. Gara-gara dua cucu itu juga maniak sepeda.

Dalam beberapa tahun terakhir, Tom dan Steuart, lewat perusahaan-perusahaan mereka, telah melakukan banyak investasi di industri sepeda. Yang kecil, seperti membuat merek sepeda Allied. Pusatnya di Bentonville, semua sepedanya dibuat di Bentonville.

Kemudian, mereka mengakuisisi Rapha, merek apparel sepeda asal Inggris. Penggemar sepeda pasti kenal Rapha, mungkin merek sepeda terkondang dan pionir produk sepeda high end dunia.

Tapi, yang paling besar impact-nya, adalah investasi besar untuk membantu membangun infrastruktur sepeda di Bentonville dan kawasan sekitarnya. Kabarnya, ikut menyumbang hingga USD 74 juta.

Inilah alasan kami ke Bentonville. Penasaran seperti apa hebatnya infrastruktur sepeda itu. Dan mengapa itu penting untuk masa depan kota.

Dan memang, cukup mencengangkan!

Untuk kota, Anda benar-benar tidak butuh mobil untuk keliling Bentonville. Sekali lagi, ini kota kecil, jadi ke mana-mana sebenarnya dekat. Seperti yang pernah disebut Menteri Transportasi Amerika Pete Buttigieg, mayoritas perjalanan kita sehari-hari sebenarnya tidak sampai 10 km. Sangat bisa dicapai dengan sepeda.

Kalau Anda di Bentonville, kawasan hotel-hotelnya tidak di pusat kota. Semua dibariskan di pinggir, sekitar 3-5 km dari pusat kota. Kawasan sekeliling kota itu jalannya lebar-lebar besar-besar, menunjukkan visi ke depan kalau kota ini siap menerima populasi jauh lebih banyak di masa depan.

Tapi kalau tidak mau mobil, jalur khusus sepeda sudah dibangun untuk ke mana-mana. Keluar hotel, langsung bergabung di jalur sepeda, terpisah dengan mobil-mobil. Ada underpass khusus sepeda, kadang “merge” atau bergabung lagi dengan jalur mobil, dan benar-benar menghubungkan seluruh kawasan kota.

Setiap beberapa km, ada tempat-tempat “self service station.” Disediakan keran mengisi air minum, pompa ban, serta berbagai alat untuk perbaikan. Ada yang kecil, ada yang besar. Ada juga yang berupa kontainer yang dipermak jadi tempat istirahat. Ada semua peralatan kebutuhan servis, plus dilengkapi solar panel dan colokan-colokan untuk mengisi baterai gadget. Duduk santai sambil charging handphone! Di jalur sepeda khusus, terpisah dari mobil.

Jalan khusus sepeda ini kebanyakan lebarnya sekitar 3-4 meter, untuk dua lajur. Sangat cukup untuk komuter santai, juga sangat cukup untuk olahraga kalau ingin lebih cepat. Walau ada rambu-rambu kecepatan dan peringatan tikungan atau perempatannya.

Kalau ke pusat kota, kita akan melewati kawasan-kawasan khusus sepeda lain. Seperti track BMX. Ada yang besar untuk orang dewasa, beberapa ada yang kecil untuk anak-anak latihan. Di Bentonville, tidak perlu ada akademi sepeda membayar. Semua lintasannya tersebar di mana-mana, gratis untuk semua orang.

Pusat kotanya pun terjaga. Tidak ada kemacetan. Tidak butuh banyak parkiran mobil. Banyak orang ke sana dengan jalan, jogging, atau naik sepeda (ada banyak tempat persewaan). Pusat kotanya persis dengan pusat kota di film Back To The Future. Kotak di tengah, dikelilingi bangunan khas Amerika.

Toko pertama Walmart, Walton’s 5 and 10, masih ada di situ. Masih sama depannya. Dalamnya sekarang adalah museum. Gratis untuk siapa saja yang ingin belajar tentang sejarah Walmart, atau belajar bisnis.

Itu kalau mau ke pusat kota. Jalur sepeda ini juga menghubungkan Bentonville dengan kawasan pegunungan/hutan Ozark. Buat pecinta sepeda gunung (MTB), ini adalah salah satu rute paling diperbincangkan di dunia saat ini. Event-event MTB terbesar sudah dan akan diselenggarakan di kawasan ini.

Intinya, apa pun jenis sepeda yang Anda suka, Bentonville punya jalurnya. Kebetulan, kami juga menggunakan kawasan ini untuk latihan sepeda gravel (sepeda dropbar ala balap tapi dengan ban lebar ala MTB). Melewati jalanan berkerikil, tanah, juga melintasi sungai-sungai kecil.

Rasanya seperti mengunjungi Disneyland-nya orang sepeda!

Usut punya usut, membangun infrastruktur dan “Disneyland” sepeda ini bukan sekadar karena Tom dan Steuart suka sepeda. Sejarah keluarga mereka memang suka olahraga outdoor. Sam Walton dulu suka berburu. Paman mereka, Rob, penggemar sepeda balap. Ayah mereka, Jim, hobi MTB. Tom dan Steuart sendiri suka segala jenis sepeda.

Kecintaan terhadap aktivitas outdoor sudah ditanamkan sejak kecil. Menurut Tom dan Steuart, orang tua mereka tidak mengizinkan mereka menonton televisi di rumah. Harus aktif di luar.

Plus, membangun infrastruktur sepeda merupakan salah satu jalan untuk menjadikan Bentonville sebagai tempat atraktif untuk mendatangkan orang-orang muda dan pintar. Memposisikan kota itu sebagai kota masa depan.

Itu, yang pasti, juga demi masa depan Walmart.

Keluarga Walton sadar betul, masa depan adalah e-commerce. Bahkan sekarang sudah begitu. Kalau Walmart ingin tetap besar (dan makin besar), maka perusahaan itu juga harus mampu bertarung di arena tersebut. Dan itu berarti, Walmart harus bisa menarik minat orang-orang muda pintar untuk pindah ke Bentonville. Karena kantor pusatnya di sana.

Untuk itu, Bentonville harus jadi “kota keren” untuk orang muda modern. Bahwa orang-orang muda itu tidak harus tinggal di kota-kota seperti Seattle atau kawasan Bay Area untuk menjadi lebih baik.

Cycling merupakan salah satu cara untuk menarik minat orang-orang muda modern itu. Apalagi lingkungan di sekitar kota sangat memungkinkan untuk itu. Tinggal memaksimalkannya saja. “Kami ingin menjadikan Bentonville sebagai ‘kota ski’ tapi untuk sepeda,” tegas Tom Walton.

Kalau dipikir, luar biasa juga ini. Berkat “strategi sepeda,” Walmart bisa membantu menjaga masa depannya. Dan sambil jalan, ikut membuat Bentonville menjadi kota yang lebih baik lagi.

Walmart baik, Bentonville baik. Bentonville baik, Walmart baik.

Asal tahu saja, satu generasi sebelumnya, sudah ada strategi lain untuk tujuan yang sama. Alice Walton, tante Tom dan Steuart, merupakan penggagas dibangunnya Crystal Bridges Museum of American Art. Berisikan barang-barang seni karya seniman-seniman terbaik Amerika, yang nilainya disebut lebih dari USD 500 juta.

Bayangkan, kota yang penduduknya hanya 50 ribu ini (hanya 1/6 penduduk kecamatan Rungkut di Surabaya), memiliki salah satu museum seni terbaik di Amerika dan salah satu infrastruktur sepeda terbaik di dunia!

Terus terang, kami tak sempat ke museum itu. Tapi saya sudah bicara dengan istri dan keluarga. Kalau ke depan sudah memungkinkan, mungkin lebih baik liburan seminggu di Bentonville daripada di California atau Florida.

Satu, karena suasana lebih rileks, bisa lebih quality time secara keluarga. Dua, supaya anak-anak kami juga bisa lebih aktif secara outdoor. Dengan alam, bukan dengan sarana hiburan modern. Sesuatu yang beda.

Mumpung Bentonville belum benar-benar booming. Kalau nanti kota ini sudah benar-benar besar, mungkin rasanya sudah akan beda. Meski demikian, saya percaya keluarga Walton pasti sudah punya rencana dan antisipasi, supaya Bentonville ke depan tetap menjadi kota yang nyaman… (Azrul Ananda)

Komentar

Berita Lainnya