oleh

KPK Periksa Seorang Wanita Terkait Kasus Bowo

JAKARTA – Tim Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan seorang wanita cantik untuk diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap kerjasama pelayaran PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) dan PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK).

Ia diketahui merupakan Siesa Darubinta, diduga rekan tersangka sekaligus Anggota DPR Bowo Sidik Pangarso, yang sempat ikut diamankan KPK dari kamar apartemen saat operasi tangkap tangan (OTT) berlangsung. Namun kala itu, setelah dIperiksa di Kantor KPK pasca OTT, penyidik melepaskan Siesa.

Mengenakan setelan kemeja biru dan rok putih, Siesa tiba di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta, Senin (15/4) sekitar pukul 10.30 WIB. Ia tampak datang ditemani seorang pria berbusana batik.

Pukul 16.37 WIB, Siesa meninggalkan Kantor KPK usai enam jam diperiksa. Akan tetapi, Siesa bungkam. Dirinya enggan menjawab pertanyaan awak media yang sedari pagi menunggu.

Dikonfirmasi terpisah, Juru Bicara KPK, Febri Diansyah menerangkan, pemeriksaan hari ini merupakan hasil penjadwalan ulang. Siesa seharusnya diperiksa penyidik pada minggu lalu. Namun, ia berhalangan hadir tanpa keterangan yang jelas.

Febri mengungkap, ada dua hal yang digali dalam pemeriksaan tersebut. Yakni, penyidik mengklarifikasi pengetahuan Siesa tentang keberadaan Bowo saat OTT di kamar apartemen. “Jadi sejauh mana pengetahuannya itu diklarifikasi oleh penyidik,” jelas Febri.

Selain itu, penyidik juga mendalami lebih lanjut mengenai informasi aliran dana suap dari kaca mata Siesa sebagai saksi.

Tak hanya memeriksa Siesa, penyidik hari ini juga menggelar pemeriksaan terhadap dua saksi bagi tersangka lain yakni Marketing Manager PT HTK, Asty Winasti. Keduanya adalah Staf Finance and Treasury PT HTK Desi Artinesti dan Direktur PT Kopindo Cipta Sejahtera Bambang Tedjo Karjanto.

“Penyidik hari ini mendalami informasi mengenai mekanisme kerjasama sewa menyewa kapal antara PT Pilog dan Humpuss,” papar Febri.

Penyidik juga memutuskan untuk memperpanjang penahanan Bowo, Asty, dan seorang tersangka lain yaitu Indung dari pihak swasta selama 40 hari ke depan. Perpanjangan dilakukan terhitung sejak 17 April hingga 26 Mei 2019.

Dalam perkara ini, Bowo ditetapkan tersangka bersama pihak swasta bernama Indung dan Manager Marketing PT HTK Asty Winasti. Penetapan ketiganya terkait kasus dugaan suap kerjasama pelayaran PT Pilog dengan PT HTK di bidang pelayaran.

Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan menerangkan, Bowo diduga menerima suap sebanyak tujuh kali dengan total Rp1,5 miliar dari PT HTK. Selain itu, Bowo juga diduga menerima gratifikasi terkait jabatannya sebagai anggota dewan senilai Rp6,5 miliar.

Jika ditotal, dana haram yang diduga dikumpulkan Bowo dari praktik suap dan gratifikasi ditaksir mencapai Rp8 miliar. Uang itu dikonversi ke pecahan Rp50 ribu dan Rp20 ribu yang dikemas di dalam 400 ribu amplop dan disimpan dalam 84 kardus.

Dana yang dikemas dalam amplop tersebut diduga digunakan Bowo untuk ‘serangan fajar’. Seperti diketahui, ia kembali mencalonkan diri sebagai anggota DPR pada kontestasi Pemilu 2019.

Atas perbuatannya, sebagai penerima suap dan gratifikasi, Bowo dan Indung disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 dan/atau Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sedangkan Asty, selaku pemberi, disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

(riz/ful/fin)

Komentar

Berita Lainnya