oleh

KTNA Batal, Dana Hibah Telan Korban

SUMEKS.CO, PALEMBANG – Tim jaksa penuntut umum Kejari Lubuklinggau menghadirkan 10 saksi dalam pembuktian sidang kasus dugaan korupsi dana hibah pada kegiatan Pertanian Nasional (Penas) Kabupaten Musi Rawas tahun anggaran 2020 atas nama terdakwa Catur Handoko.

Kesepuluh saksi tersebut hampir keseluruhannya merupakan pihak dinas terkait yang dihadirkan secara langsung, Selasa (26/10) di hadapan majelis hakim Tipikor PN Palembang diketuai Sahlan Effendi SH MH.

Dari keterangan salah satu saksi bernama Rosmala Dewi menerangkan bahwa terdakwa selaku Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Musi Rawas memesan 100 batik khas Musi Rawas untuk kegiatan Penas KTNA ke XVI di Provinsi Padang.

“Seluruhnya senilai Rp20 juta, namun saat terdakwa menyerahkan kwitansi tertulis Rp 40 juta, terdakwa merincikan Rp20 juta untuk bahan serta Rp 20 juta lagi untuk upah jahit,” terang saksi Rosmala.

Sontak saja, jawaban itu mengundang tanda tanya dari majelis hakim Tipikor Palembang karena besarnya dana hibah yang dikeluarkan hanya untuk satu batik saja.

“Batik seperti apa nilainya sampai semahal itu, Rp 200 ribu saja itu sudah paling bagus, ini ditambah ada uang upah,” ujar hakim ketua Sahlan Effendi.

Di dalam persidangan, satu saksinya yang diketahui mantan Sekda Musi Rawas, hanya bisa terdiam saat ditanya Supendi SH penasihat hukum terdakwa terkait pihak yang paling bertanggung jawab dalam perkara ini.

Diwawancarai usai sidang, Supendi menilai dalam perkara ini secara singkat mengatakan, kliennya hanyalah tumbal dari pihak-pihak yang berkepentingan, dikarenakan adanya surat rekom dan surat perintah membayar dari pihak dinas terkait.

“Karena tidak mungkin, klien kami ini sampai berani melakukan seperti apa yang didakwakan penuntut umum, tanpa adanya campur tangan pihak lain,” singkatnya.

Menanggapi hal itu, Kasi Pidsus Kejari Lubuklinggau melalui Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rahma SH mengaku akan mendalami adanya keterlibatan pihak lain dalam perkara ini.

“Namun, saat ini kita masih melihat dari perkembangan pembuktian perkara dipersidangan ini dahulu,” ungkap Rahma.

Dia menjelaskan untuk persidangan selanjutnya, masih akan memanggil beberapa orang saksi lagi guna untuk mengungkap perkara yang merugikan keuangan negara lebih kurangRp400 juta ini, yang sudah dikembalikan Rp 145 juta.

Diketahui kasus dugaan korupsi ini mencuat dan dilakukan pemeriksaan karena menyangkut anggaran hibah KTNA Mura senilai Rp1,075 miliar, yang diperuntukan untuk kegiatan Pekan Nasional (PENAS) 2020 di Sumatera Barat (Sumbar). Namun kegiatan tersebut batal digelar lantaran adanya Pandemi COVID-19. (fdl)

Komentar

Berita Lainnya