oleh

Langit Biru, “Trik” Pertamina Bikin Pengendara Beralih Ke BBM Berkualitas

Kuota Premium Injury Time, Tingkatkan Konsumsi Pertalite

KUOTA premium Kota Palembang memasuki injury time alias kritis. Berdasarkan data dari Pertamina.com, kuota Premium di Sumsel 256.438 K/ L dari realisasi per September 192.342 K/L sedangkan kuota premium kota Palembang 56.170 K/L dan realisasi per September 51.833 K/L. Artinya tinggal 4.337 K/L untuk tiga bulan. Sedangkan konsumsi Pertalite rata rata per bulan 4680 K/L sehingga kuota Premium dipastikan tidak sampai akhir tahun.

Menutupi dan memenuhi kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi maka PT Pertamina Marketing Operation Regional (MOR) II Sumbagsel mengulirkan program Langit Biru. Ya, masyarakat di giring membeli Pertalite dengan harga premium Rp6.450 per liter, artinya ada diskon Rp1.400 per liter dari harga normal.

Terlepas dari itu, program yang mulai digulirkan pada (25/10) tersebut berdampak peningkatan konsumsi Pertalite. Nyatanya, langit jadi biru. Terbukti, berdasarkan data https://www.iqair.com/id/indonesia/south-sumatra/palembang/klhk-palembang. Setelah lima hari berjalan program terjadi menunjukan peningkatan kualitas udara di Metropolis. Indikator udara yang sebelumnya menunjukan kategori sedang kini menjadi baik dengan level AQI US 12, indeks AQI Langsung juga baik serta polutan udara PM 2,5.

Pengendara roda dua, Agustina mengatakan, dirinya memang sejak awal menggunakan Pertalite. Dengan adanya program ini dirinya bisa membeli Pertalite seharga premium. “Saya menggunakan premium untuk motor karena cari premium agak susah kalaupun pun ada antri panjang. Jadi- nya saya beralih ke Pertalite,” ucap dia.
<span;>Apresiasi juga diutarakan komunitas roda empat, Dedi Ketua Komunitas Fortuner Indonesia (Forci). Menurutnya, sudah seharusnya masyarakat mengunakan BBM berkualitas. Tidak hanya bermanfaat untuk kendaraan yang lebih awet dan tahan lama. Tetapi juga untuk lingkungan dan udara yang lebih baik. “Edukasi dan pemahaman BBM berkualitas lewat program Langit Biru penting agar kualitas udara yang kita hirup baik,”

Terpisah, SPBU yang berada di Jl. Kol H Barlian, Supervisor Dedi mengatakan, pihaknya mendukung program Langit Biru. Pasalnya, program ini sangat membantu masyarakat untuk mendapatkan BBM berkualitas dengan harga terjangkau. Selain tentu membantu pengendara. “Sejak digulirkan program ini antrian cukup panjang,”

Bahkan, kata dia, tak sedikit para ojol yang antri. Mereka langsung mengisi full tank untuk kendaraan sehingga mereka tidak perlu antri lagi. Begitupun banyak juga angkutan umum yang beralih dari Premium ke Pertalite. “Banyak yang awalnya pakai premium ke Pertalite. Ini tentu sangat bagus untuk menciptakan udara yang bersih.” tukasnya.

Unit Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina MOR (Marketing Operation Region) II Sumbagsel, Ibnu Hasan, mengatakan, sesuai Peraturan Menteri KLHK No. 20 Thn 2017 ttg penerapan Bahan Bakar Standar Euro 4 (minimal RON 91) agar memiliki kualitas udara bersih, apalagi pada 2019 Palembang mendapatkan penghargaan Langit Biru, Kategori Kota Metropolitan evaluasi kualitas udara perkotaan. Palembang berada di nomor lima, setelah Kota Banda Aceh, Cimahi, Jambi dan Batam. “Makanya, tepat program Langit Biru digulirkan,” katanya kepada Sumatera Ekspres beberapa waktu lalu.

Selain, lanjut Umar, melalui program ini, pihaknya terus mendorong penggunaan produk BBM berkualitas, terutama Pertalite yang memiliki Research Octane Number (RON) 90, Pertamax RON 92 dan Pertamax Turbo RON 98. “Diharapkan dengan menggalakkan pemakaian BBM berkualitas ini, Langit Biru ini bisa mewujudkan kualitas udara yang lebih baik, sehingga lingkungan lebih sehat . Ya kalau pengguna nyaman dan merasakan keunggulan BBM RON 90 dibandingkan Premium RON 88 maka masyarakat akan beralih ke Pertalite dibandingkan Premium. “Banyak kendaraan sekarang keluaran terbaru sesuai spesifikasi kendaraan minimal menggunakan BBM RON 92 atau disarankan menggunakan RON 92 sehingga ramah lingkungan,” paparnya.

Rencananya, program ini akan bergulir hingga Desember yang diperuntukan khusus bagi kendaraan roda dua, roda tiga, taksi, dan angkutan umum plat kuning. Progam ini akan berlaku di 10 SPBU (lihat grafis), dari rencana awal 39 SPBU atau seluruh SPBU di Kota Palembang. “Rencananya semua SPBU, urung dan hanya 10 SPBU dari 14 SPBU di Kota Palembang yang jual premium. Nah, 4 SPBU lagi tetap menjual premium untuk melayani kebutuhan masyarakat yang masih ingin membeli BBM premium bersubsidi,” tuturnya.

Pertimbangannya, setelah pihaknya mengkomunikasikan hal ini dengan stakeholder , salah satunya BPH Migas sehingga rencana awal diubah. Ke-10 SPBU itu sebelumnya menjual BBM premium, dengan program ini SPBU ini sementara waktu hingga Desember tidak menjual premium, dan nozzle atau dispanser premium akan digunakan untuk menjual pertalite. Khusus 10 SPBU ini pun akan mendapat penambahan kuota Pertalite 16 kl per hari.

Kesepuluh SPBU tersebut yakni SPBU 23.301.29 (Jl. Letjen Harun Sohar), SPBU 24.301.34 (Jl. Letjen Harun Sohar), SPBU 24.301.05 (Jl MP. Mangkunegara), SPBU 24.301.08 (Jl RE. Martadinata Sei Buah, SPBU 24.301.09 (Jl.Kol H. Berlian KM 8,5), 24.301.15 (Jl. Kol H. Berlian Km 10, SPBU 24.301.16 (Jl.RM Soekamto, SPBU 24.301.111 (Jl. Kol H Berlian KM. 6,5), SPBU 24.302.120 (Jl. Brijen Hasan Kasim) dan SPBU 24.301.147 (Jl Tanjung Api Api).

Sedangkan 4 SPBU yang tetap melayani Premium yakni SPBU 21.302.04 (Jl. A. yani plaju), SPBU 24.301.12 (Jl. Residen Abdul Rozak), SPBU 24.301.98 (Jl. Panahan Blok E, dan SPBU 24.302. 123 (Jl. Yusuf Singadekane.

Target program ini, katanya, supaya masyarakat bisa beralih menggunakan Pertalite yang oktannya lebih tinggi dibanding premium dan tentunya lebih ramah lingkungan. “Untuk program ini kami tidak membatasi kuota pertalite. Berapa pun kebutuhan akan dipasok. Hanya saja, pertalite seharga premium hanya berlaku untuk kendaraan roda dua, roda tiga, dan roda empat pelat kuning. Sementara, kendaraan roda empat pribadi berlaku harga normal. “Ini sebenarnya masih uji coba, akan kita terus evaluasi. Mana yang lebih atau kurang bisa diperbaiki,” imbuhnya.

Selain untuk “Langit Biru”, program ini juga digulirkan untuk menekan penggunaan premium yang kuotanya cukup kritis dan dikhawatirkan tidak bertahan hingga akhir tahun. “Lewat program kami harap kuota premium bisa cukup, apalagi Desember nanti memasuki libur Natal Tahun Baru, konsumsi premium bisa meningkat,” tuturnya.

Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Ahmad Rizal mengatakan, Premium dan gas LPG 3 kg merupakan produk bersubsidi sehingga pemerintah menetapkan kuota dan dibatasi. “Ya yang namanya barang subsidi kuota-nya dibatasi dan diawasi,”
<span;>Namun, sambung dia, kebutuhan akan bahan subsidi ini selalu tinggi sebab harganya murah karena subsidi pemerintah. Untuk itu, perlu distribusi dan pengawasan yang benar agar tetap sasaran. Sejauh ini, distribusi di optimalkan Pertamina. Hanya saja memang permintaan tinggi. Tak salah jika mendekati akhir tahun kuotanya menipis.

Makanya lewat program Langit Biru ini dapat mengurangi permintaan premium sembari mengedukasi masyarakat akan penggunaan bahan bakar berkualitas. “Mereka (Pertamina, red) perlu mengelontorkan program inovatif untuk mengurangi permintaan premium. khawatirnya akan kuota habis sedangkan mereka harus mendistribusikan Premium dan kalau tetap menyalurkan akan kena audit,” tukasnya.

Walikota Palembang, Harnojoyo mengapresiasi langkah Pertamina lewat program Langit Biru. Program ini sejalan dengan tujuan Kota Palembang yang ingin menciptakan lingkungan yang bersih dengan kendaraan yang ramah lingkungan. “Program ini pun sangat membantu masyarakat kecil. Khususnya ojek dan taksi” tukasnya. (yun)

Komentar

Berita Lainnya