oleh

Lateh – Sarang – Narukan

Beberapa hari belakangan Kabupaten Rembang mencuat ke permukaan jagad nasional. Menyusul diangkatnya Yaqut Cholil Qoumas menjadi menteri agama. Gus Tutut, panggilannya (Sering dipanggil Gus Yaqut juga), adalah putra asli Rembang.

Sehari setelah dilantik Gus Tutut langsung melakukan safari di Kota Garam. Pulang kampung ke Leteh, kompleks Pondok Roudlotut Tholibin. Berziarah di makam orang tuanya. Memohon nasehat kepada pamannya KH Mustofa Bisri yang sudah dianggap orang tua sendiri. Bersilaturrahim dengan kerabatnya. Keluarga Gus Tutut adalah tokoh-tokoh NU yang berpengaruh.

Kakeknya KH Bisri Mustofa adalah kiai yang sangat terkenal. Pengajiannya selalu dibanjiri umat. Ketika saya kecil sering medatangi dengan berjalan kaki sampai berkilo-kilo meter. Beliau adalah singa podium pada zamannya. Ceramahnya mudah ditangkap siapa saja. Disampaikan dengan goyonan yang renyah. Ayahnya, almarhum KH Cholil Bisri adalah dedengkot NU yang berpengaruh di jagad nasional.

Sejak kecil beliau sudah diajari berjuang lewat organisasi kepemudaan. Dia bergabung dengan Laskar Hizbulah. Saat itu, ayahnya berjuang bersama para santri. Inilah yang rupanya menurun kepada Gus Tutut. Sebelum diangkat menjadi Menag, Gus Tutut adalah ketua umum GP Ansor dan komandan Banser.

Di jagad politik, peran KH Cholil Bisri juga sangat besar. Beliau pernah menjadi ketua partai NU Rembang. Beliau malah termasuk motor penggerak ketika partai itu berfusi menjadi PPP. Saat itu, Rembang sudah menjadi kiblat nasional. Peran politik itu sampai beliau menjadi anggota dewan. Cholil Bisri juga menjadi tokoh penting lahirnya Partai Kebangkitan Bangsa. Hingga akhirnya menjadi wakil ketua Dewan Syuro DPP PKB dengan ketua KH Ma’ruf Amin.

 

Peran ini mengantarkannya menjadi anggota DPR RI dan menjabat wakil ketua MPR. Semua latar belakang keluarga itu rupaya melekat erat pada diri Gus Tutut. Dia mewarisi kepartaian orang tuanya sehingga menjadi anggota DPR RI. Seluruh indonesia kaget! Diabetes mudah diobati (lihat di sini) Glucoactive Saudara-saudara Gus Tutut juga mewarisi ayahnya. Kakak tertuanya, Yahya Cholil Staquf, kini menjadi Katib Aam PBNU. Menurut informasi yang sudah beredar luas, sesungguhnya yang hendak dipilih menjadi Menag adalah Gus Yahya.

Bahkan dia diincar presiden Jokowi sejak menjelang pengumuman Kabinet Kerja. Yahya pernah menjadi juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid. Saudara Tutut lainnya juga terjun sebagai politisi. Adiknya Hanies Cholil Barro’ belum lama terpilih menjadi Wakil Bupati Rembang mendampingi Abdul Hafidz. Hanies ini pula yang antara lain menyambut kedatangan Gus Tutut ketika pulang kampung tempo hari. Kepulangan Gus Tutut semakin mengingatkan peran penting keluarga Bisri Mustofa di panggung nasional.

Juga peran ulama-ulama Rembang lainnya. Usai bertemu keluarganya di Leteh, Gus Tutut juga mengunjungi para kiai di Sarang Rembang. Di kompleks pondok yang dibesarkan oleh KH Maimoen Zubair. Mbah Moen, panggilannya, adalah kiai yang menjadi rujukan nasional. Baik dari sisi keilmuan Islam maupun perpolitikan. Nyaris semua tokoh politik nasional sudah pernah sowan beliau. Mbah Moen adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang. Tokoh NU sekaligus tokoh PPP.

Namun kemoderatannya diakui semua pihak. Beliau tidak mempunyai lawan politik. Sebaliknya semua tokoh politik dari partai manapun sowan, meminta doa dan nasehat. Hingga Sarang, tempat pondok dan beliau bermukim, menjadi rujukan nasional. Dari Mbah Moen lahir politisi-politisi juga. Taj Yasin, salah seorang anaknya, kini menjadi wakil gubernur Jateng. Salah seorang putranya juga, KH Majid Kamil menjadi ketua DPR Rembang sebelum beliau wafat.

Cucunya ada yang menjadi anggota DPR RI yaitu Gus Rojih yang merupakan putra dari KH Ubab Maimoen. Di DPRD Jateng ada Gus Sidqi, putra dari Ibu Sobihah Maimoen. Kunjungan Gus Tutut ke Sarang mengingatkan betapa penting peran kiai-kiai yang dibesarkan oleh Mbah Moen dalam perpolitikan nasional. Beliau disambut oleh putra-putra Mbah Moen, seperti Gus Ubab, Gus Rouf, Gus Ghofur, dan Taj Yasin. Dari Sarang, Gus Tutut melanjutkan perjalanan ke Narukan, Rembang. Di sana bermukim KH Bahaudin Nursalim yang terkenal dengan panggilan Gus Baha’. Murid Mbah Moen itu kini menjadi kiai milenial.

Penonton Youtube-nya jutaan orang di seluruh Indonesia. Bahkan sampai luar negeri. Orang yang bekerja di tengah laut dan di tengah hutan pun fanatik mendengar ceramahnya. Beliau adalah kiai NU dan menjadi pengurus Syuriah. Namun orang Muhammadiyah pun berguru kepadanya. Sudah banyak tokoh di negeri ini yang diam-diam sowan ke Gus Baha’. Beliau bukan politisi.

Hanya adiknya, Gus Umam, yang terjun di PPP. Kiranya ke depan akan semakin banyak orang yang bertemu dengan ahli tafsir, hadis, dan fiqih itu. Gus Baha’ terkenal sangat moderat. Ilmunya dalam. Kalau mengkaji halal-haram sangat detil dan njelimet. Tetapi beliau tidak gampang memvonis orang bersalah. Apalagi masuk neraka. Safari Gus Tutut ke Leteh, Sarang, dan Narukan, semakin mencuatkan nama Rembang di kancah nasional.

Kabupaten itu memiliki potensi besar untuk maju. Tidak tertutup kemungkinan jargon Rembang Bangkit akan berubah menjadi Rembang Gemilang seperti yang diusung calon bupati-wakil bupati terpilih, Abdul Hafidz – Hanies Cholil Barro’, dalam arti sebenarnya. (baehaqi/radarsemarang/cm)

Komentar

Berita Lainnya