oleh

Latihan Lari Tiap Hari, Kekurangan Diperbaiki

Alfian BW Pratama, Penjual Nasi Goreng yang Lulus Terbaik Bintara Polri

Latihan Lari Setiap Hari, Terinspirasi Tito dan Firli

Gagal pada penerimaan Bintara Polri 2018, tidak membuatnya patah arang. Tahun 2019 ikut lagi. Hasilnya, lulus dan jadi juara umum.

NOVI HARIYANTO – Palembang

Jumat, 2 Agustus 2019 sekitar pukul 20.15 WIB. Gerobak nasi goreng “Mas Bejo” di Jl Mayor Ruslan, terlihat dikerubuni orang. Satu per satu mereka memesan. Ada yang datang sendiri, ada juga dengan keluarga.

Disana, ada seorang pemuda. Usianya 20 tahun. Mengenakan baju kemeja putih lengan panjang dan celana kain warna hitam. Di lehernya masih terpasang ID card dengan tali biru. Dia terlihat sibuk menggoreng nasi. Sreng…sreng..sreng. Tak lama kemudian, nasi goreng siap dihidangkan.

“Ini yang pake telor dan teri ya,” ucapnya pada salah satu pelanggan yang memesan.

Pemuda ini bernama lengkap Alfian Bagoes Wahyu Pratama. Keseharian dipanggil Alfian. Dia seorang penjual nasi goreng. Bahkan, sejak kecil dia ikut orang tuanya jualan nasi goreng. Persisnya di tahun 2002, hingga akhirnya menurun kepadanya sebagai penjual nasi goreng.

Dengan ramah, dirinya pun akhirnya berbagi cerita kepada wartawan Sumatera Ekspres (sumeks.co Grup) yang kebetulan juga menjadi pelanggan nasi gorengnya.
Katanya, dia belum sempat ganti baju setelah mengikuti sidang terbuka kelulusan penerimaan Bintara Polri tahun 2019 di Grand Atyasa Convention Center, Jumat (2/8) siang.

“Alhamdulillah, lulus. Raso dak percayo,”ucapnya sambil sesekali mengelap keringat di keningnya.
Tak sekadar lulus, ternyata pria kelahiran Pati, Jawa Tengah, 11 Oktober 1999 menjadi yang terbaik atau juara umum. Tak pelak, anak pertama dari 2 bersaudara pasangan Salim (42) dan Supati (40), langsung sujud syukur.

Padahal, tahun 2018 lalu, katanya, dia gagal lulus. Gugur di antropometri, yakni tes untuk mengetahui komposisi tubuh maupun bentuknya atau pengukuran atas struktur tubuh manusia.
Meski sempat kecewa pada kegagalan tahun 2018 tersebut, lanjutnya, tidak membuatnya down. Justru, warga yang tinggal di Jl Mayor Salim Batubara, Kelurahan Sekip Jaya, Kecamatan Kemuning, makin terpacu semangatnya.

“Saya terus berlatih. Setiap sore, lari 7 putaran di Pakri. Apa yang menjadi kekurangan di tahun 2018, termasuk potensi akademik, saya pelajari dan tingkatkan lagi,” sambungnya.

Bahkan, alumni SMA IBA ini dengan lantang menyebut, penerimaan Polri yang Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis (BETAH), serta Clear and Clean, juga membuatnya jadi lebih percaya diri.

“Artinya, selalu ada harapan bagi siapa pun dan dari kalangan keluarga mana untuk ikuti tes dan jadi polisi,”sambungnya.

Menjadi polisi, ujarnya, adalah cita-citanya dari kecil. Persisnya ketika dirinya masih duduk di taman kanak-kanak. Dia mengaku sangat kagum dengan polisi yang saat itu datang ke sekolah TK-nya.

Bahkan, lanjutnya, tokoh-tokoh Sumsel yang berkiprah di Polri, seperti Kapolri Jenderal Pol HM Tito Karnavian dan Kapolda Sumsel Irjen Pol Firli Bahuri, juga menjadi inspirasinya.

“Mereka hebat dan menjadi kebanggaan. Kisah hidup dan perjuangannya juga menjadi inspirasi bagi saya,”tukasnya.
Dalam keluarganya, sambung Alfian, belum ada yang berprofesi sebagai anggota Polri. Ayah dan Ibunya, hanya orang rantau dari Pati, dan di Palembang menjadi penjual nasi goreng gerobak.

“Saya ingin membanggakan keluarga, terutama orang tua saya. Mereka yang selalu mensuport dan mendoakan saya,”ucapnya.

Kedua orang tua Alfian, juga tak kuasa menahan haru saat anaknya dinyatakan lulus menjadi casis Bintara Polri. Selama ini, kata Salim, ayah Alfian, mereka merasa khawatir.

Sebab, mereka bukanlah dari kalangan orang berada. “Takut kalo dimintai duit. Nyatonyo idak. Sepeser pun idak. Bangga melihat Polri seperti sekarang ini,”ujar Salim.

Dirinya berpesan pada Alfian, agar benar-benar tekun dan tidak lupa beribadah selama menjalani pendidikan di Sekolah Polisi Negara (SPN) Betung, Polda Sumsel. “Jadilah polisi yang baik dan amanah,” ucapnya. (*)

Komentar

Berita Lainnya