oleh

Lebih Menguntungkan, Jeroan Daging Celeng Asal Palembang Diekspor ke Vietnam

PALEMBANG – Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) terus lakukan akselerasi ekspor guna mengatasi peredaran daging celeng ilegal. Pasalnya pasokan yang berlimpah dari beberapa wilayah Sumatera. Dan adanya peluang distribusi yang tinggi namun dengan cara ilegal di pulau Jawa.

Daging celeng (babi hutan) merupakan hama dan diburu di beberapa wilayah pulau Sumatera ini. Biasanya diperdagangkan untuk konsumsi hewan di kebun binatang Ragunan dan untuk konsumsi masyarakat tertentu.

Namun ada juga yang berupaya memperdagangkannya secara ilegal. Baik berupa daging utuh ataupun dioplos sebagai olahan berupa sosis, bakso dan lainnya. Tanpa disertai surat kesehatan hewan dari Karantina Pertanian dan diedarkan secara ilegal inilah yang menjadi perhatian pemerintah. Dalam hal ini Barantan karena dapat meresahkan masyarakat baik dari sisi kesehatan, keamanan pangan serta kehalalannya. Upaya berupa operasi patuh karantina yang kerap digelar di beberapa lokasi rawan. Koordinasi dengan pemerintah daerah melalui dinas terkait serta sosialisasi ke masyarakat.

Upaya ini kini mulai menuai hasil, akses pasar untuk daging celeng yang telah terbuka lebar ke negara Vietnam terus dipacu. “Ekspor daging celeng ke Vietnam dengan nilai ekonomi yang cukup menjanjikan ini. Harapannya bisa menjadi solusi peredaran daging celeng secara ilegal,” kata Bambang Hesti, Kepala Karantina Pertanian Palembang. Saat melepas 8 ton jeroan babi hutan senilai Rp. 240 juta di Pelabuhan Boom Baru, Palembang, Kamis (30/5).

Bambang Hesti yang didampingi Kepala Seksi Karantina Hewan, drh. Fitria Maria Ulfah memaparkan. Sebagai persyaratan ekspor negara tujuan, pihaknya melakukan tindakan karantina. Setelah dipastikan komoditas ini memiliki Veterinary Health Certificate dari Kesmavet, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian. Adapun tindakan yang dilakukan oleh medik dan paramedik Karantina Pertanian Palembang adalah pemeriksaan fisik. Dan pemeriksaan laboratorium pengujian berupa total plate count yang menghitung cemaran mikroba.

“Setelah semua dipastikan lolos, kami menerbitkan Health Certificate (HC) sebagai persyaratan ekspornya,” tambahnya.

Chen Jianguang dari PT. TM pemilik komoditas ekspor ini mengapresiasi percepatan layanan karantina. Dan ia berharap untuk dapat menggalang pengumpul daging celeng di Sumatera. Terutama di wilayah Sumatera Selatan mengingat permintaan yang tinggi di Vietnam. Chen juga menyampaikan adanya permintaan di pasar Tiongkok dan berharap kedepan Barantan dapat turut memfasilitasinya terhadap persyaratan dan protokol karantinanya.

Berdasarkan data lalulintas di Karantina Pertanian Palembang. Tercatat ekspor daging celeng tahun 2018 dengan tujuan Vietnam sebanyak 26,3 ton senilai Rp. 2 miliar.”Peluang ekspor daging celeng ke negara dengan masyarakat tertentu ini cukup terbuka lebar. Perlu kerjasama semua pihak agar permasalahan peredaran daging celeng dapat teratasi. Bahkan bisa menjadi nilai tambah dengan pasar ekspor bagi pengepulnya,” tandas Bambang. (*)

Komentar

Berita Lainnya