oleh

Lelah Virtual

Apakah Anda sudah mulai bosan dengan segala hal yang virtual? Meeting harus virtual, presentasi harus virtual, seminar virtual, event besar pun ditonton secara virtual. Saya kasihan banget sama anak-anak saya, yang sekolahnya pun harus virtual.

Ketika awal-awal mulai jaga jarak dulu, terus terang saya menganggap itu seperti momen untuk break. Untuk istirahat dari segala ke-hectic-an hidup. Kapan lagi bisa lebih banyak di rumah, tidak ke mana-mana, berkumpul dengan keluarga.

Untuk kali pertama saya bisa berjam-jam terus bersama anak-anak saya yang masih SD. Dan kali pertama benar-benar menyadari, meluangkan waktu lebih dari sejam dengan mereka itu sangat menyiksa (wkwkwk…).

Karena tidak bisa gowes ke luar rumah, gowes saya pun virtual. Memakai aplikasi Zwift, hampir setiap hari (atau malam waktu bulan puasa) saya gowes/balapan virtual bersama teman-teman. Baik yang di Surabaya juga, di Jakarta, Makassar, atau kota-kota lain. Bahkan yang di luar negeri. Avatar kami adu cepat melewati rute yang sama. Bahkan beberapa kali gowes bareng lebih dari 100 km di dunia virtual!

Meeting-meeting dilakukan secara virtual. Ini sebenarnya tidak terlalu aneh, karena selama ini kebanyakan diskusi dengan rekan-rekan juga lebih banyak lewat hape. Mengingat mobilitas semuanya, yang bisa berada di kota yang berbeda-beda.

Lalu, untuk melakukan sesuatu yang beda, saya (dan Abah) jadi punya waktu untuk bikin podcast (channel DI’s Way di YouTube dan Spotify). Mungkin, seumur hidup kami, baru pada bulan-bulan pandemi ini kami bisa ngobrol begitu intens begitu lama. Apa yang kami bicarakan semoga bermanfaat untuk orang banyak, tapi sebenarnya juga jadi seperti sesi terapi bagi Abah dan anak yang sangat jarang bertemu dan berkumpul (wkwkwk).

Masih bosan lagi, saya mengajak teman sepeda bikin podcast lagi di channel Mainsepeda. Seminggu sekali ngobrol tentang segala hal yang berkaitan dengan hobi sepeda.

Kebetulan, teman saya itu (Johnny Ray) punya bakat jadi standup comedian. Jadi, mumpung dia juga punya waktu luang lebih banyak, kami pun mencoba membahas sepeda dengan cara yang santai.

Ternyata, saat masa-masa banyak di rumah itu, masih ada saja undangan untuk jadi pembicara. Secara virtual tentunya. Baik dari perguruan tinggi, perkumpulan pengusaha, dan lain sebagainya.

Terus terang, saya termasuk jarang menerima undangan jadi pembicara atau dosen tamu. Hanya sesekali saja, tidak boleh sering.

Seharusnya, secara virtual, undangan-undangan itu lebih mudah saya terima. Toh saya tidak harus meluangkan waktu banyak untuk terbang ke sana-ke mari, untuk pergi ke sana-ke mari. Cukup dari rumah saja.

Saya sempat menerima beberapa undangan itu.

Awalnya, seru-seru aja ngobrol secara virtual. Walau saya tidak bisa melihat semua pesertanya. Kadang saya bertanya-tanya, peserta acara/seminar itu benar-benar ada gak ya? Jangan-jangan saya hanya asyik ngobrol sendirian dengan moderator.

Tapi, setelah beberapa kali, saya memutuskan tidak mau lagi.

Entahlah, saya merasa kurang nyaman saja bicara secara virtual.

Bagi yang terbiasa menjadi pembicara di depan orang banyak, atau yang pernah mengeyam pendidikan cara berbicara di depan orang banyak, berbicara secara virtual itu benar-benar tidak “memuaskan.”

Sebagai lulusan jurusan marketing, setiap semester dulu selalu “dihajar” dengan kelas Speech alias public speaking. Segala hal-hal kecil ada teorinya, dan teori-teori itu harus bisa diterapkan.

Hal pertama yang wajib diingat oleh seorang pembicara adalah “Know your audience.” Ya, dalam acara virtual, di atas kertas kita tahu siapa audiens kita. Tapi, yang dimaksud lebih dalam dari itu. Kita harus bisa melihat siapa saja orang-orang yang ada di depan kita. Bagaimana ekspresi mereka, mengukur seberapa tinggi level antusiasme mereka. Sehingga kita bisa menyesuaikan diri, apakah harus memulai dengan soft atau dengan energi tambahan.

Hal penting lain yang “hilang” dari acara virtual adalah tatapan mata. Di depan kita mungkin ada ratusan atau bahkan ribuan orang. Namun, kita tetap masih bisa melakukan eye-contact secara selektif. Kita mencari orang yang bisa dilihat di sisi kiri, di tengah, di belakang, dan di sisi kanan, sebagai titik referensi eye-contact.

Waktu kuliah dulu, kalau ujian public speaking, dosen biasanya menempatkan asistennya di tempat-tempat itu. Ada yang di pojok belakang kanan, pojok belakang kiri, belakang tengah, serta depan. Para asisten dosen itulah yang menghitung, berapa kali saya menoleh atau mengarahkan mata saya ke mereka. Semakin “adil” dan rata saya membagi perhatian, semakin baik nilainya.

Ini, tentu saja, tidak bisa saya lakukan saat mengisi acara virtual. Mungkin akan ada gambar-gambar video para peserta, tapi saya sulit mengukur level perhatian mereka. Kadang gambar buram, kadang gambarnya terputus, kadang orangnya menghilang.

Jadi, mohon maaf apabila saya belakangan banyak menolak undangan bicara secara virtual…


Azrul Ananda ketika diminta menjadi pembicara di acara virtual BNPB.

Tentu saja, tidak semua orang bisa menolak atau punya opsi lain. Dalam beberapa hari terakhir, saya mau tak mau jadi harus perhatian terhadap acara-acara besar virtual itu.

Saya sangat memperhatikan perjalanan menuju pemilihan presiden Amerika Serikat 2020 ini. Sekarang sudah mulai masa-masa kampanye penting. Partai Demokrat maupun Partai Republik sudah melakukan konvensi masing-masing.

Partai Demokrat konvensi duluan secara virtual. Selama beberapa hari, tokoh-tokohnya bergantian berbicara. Berujung pidato dari Joe Biden, yang menerima “tugas” maju di pemilihan presiden melawan Donald Trump, November nanti.

Wow, beberapa pidato virtual itu luar biasa. Mantan Presiden Barack Obama terus mengingatkan kalau dia itu mungkin salah satu speaker terbaik dalam sejarah. Cara dia bicara, konteks isi pidatonya, wow! Dia menegaskan bagaimana pemilihan 2020 ini merupakan titik krusial dalam sejarah Amerika. Bahwa publik Amerika harus aktif memilih (Biden), menyelamatkan negara dari ancaman masa depan.

Istrinya, Michelle Obama, juga luar biasa.

Dan Joe Biden, yang sebelum ini agak “membosankan” dan kurang “seru” dalam pidato, juga mampu menyampaikan pesan-pesan yang mantap.


Joe Biden dan Kamala Harris usai konvensi virtual Partai Demokrat. 

Saya tidak akan menulis satu-satu. Toh Anda semua bisa menonton pidato lengkap masing-masing orang itu di YouTube.

Kemudian, akhir pekan lalu (22 Agustus), ada lagi satu acara besar yang terpaksa saya ikuti secara virtual. He he he… Ini acara penggemar komik dan film, khususnya penggemar DC.

Acara itu bernama DC Fandome. Di mana segala film/serial/game yang berkaitan dengan tokoh-tokoh superhero DC ditampilkan untuk penggemar secara virtual.

Trailer terakhir Wonder Woman 1984 dirilis di situ. Bikin orang makin tidak sabar menonton film yang pemutarannya di bioskop ditunda hingga Oktober tersebut.

Trailer film Justice League versi Zack Snyder (sutradara aslinya) juga diputar di situ. Film yang dulu dirilis pada 2017 ini sudah dirombak total, dikembalikan sesuai visi asli sang sutradara. Lalu akan dibagi dalam empat seri masing-masing satu jam, diputar di saluran streaming HBO Max tahun 2021 nanti.

Lalu, ada lagi trailer film The Batman, versi baru lagi sang superhero, yang rencananya akan beredar di bioskop tahun depan. Ini Batman versi “idola remaja.” Diperankan oleh Robert Pattinson, mengisahkan cerita petualangan tahun kedua sang jagoan. Jadi dia masih relatif “baru” jadi superhero, masih banyak belajar. Ceritanya pun mengangkat sisi detektif Batman, mencoba memecahkan misteri-misteri pembunuhan di Kota Gotham.

Sejak kecil saya memang doyan komik, dan saya condong ke DC. Bukan Marvel.

Normalnya, acara seperti ini diselenggarakan secara khusus, terbuka untuk para penggemar. Para bintang hadir di panggung, berinteraksi langsung dengan ratusan atau ribuan penggemarnya. Berhubung ini era tidak normal. Jadi acaranya pun virtual.

Ya, lama-lama kita memang bisa terbiasa dengan acara-acara virtual. Tapi terus terang saya ini tipe yang suka berinteraksi dengan orang banyak. Sehebat apa pun teknologi, tidak akan bisa menggantikan “mahalnya” pelajaran atau masukan yang bisa kita dapat dari menatap orang lain secara langsung.

Melihat pancaran mata mereka, memperhatikan segala detail ekspresi wajah mereka, mengamati segala gerak-gerik mereka.

Di dunia virtual, yang asli bisa disembunyikan atau berdusta. Paling tidak, lebih mudah untuk menyembunyikan yang sebenarnya. Terus terang, saya sudah lelah virtual. Semoga hidup bisa segera kembali normal. (azrul ananda)

Komentar

Berita Lainnya