oleh

Listrik ‘Pembangkit’ Ekonomi Kerakyatan

39 TAHUN AIRSUGIHAN ‘HABIS GELAP TERBITLAH TERANG’

Warga Airsugihan atau biasa disebut warga jalur, adalah warga yang menempati wilayah di Kecamatan Airsugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan. Wilayah ini merupakan wilayah transmigrasi yang dibuka pemerintah pada tahun 1980 dan mulai ditempati warga pada tahun 1982. Selama 39 tahun, warga hidup dalam kegelapan, tanpa penerangan listrik.

Selama 39 tahun warga Airsugihan, yang berpenduduk 10.880 Kepala Keluarga (KK) atau 36.961 jiwa (Data kependudukan Kecamatan Airsugihan),  warga hidup dalam kegelapan, tanpa penerangan listrik. Begitu juga infrastruktur jalan masih berupa jalan tanah sampai saat ini. Jika musim hujan tiba, jalan utama di Airsugihan berubah menjadi lumpur dan jika musim kemarau tiba, berubah menjadi  badai debu.

Bertahun-tahun warga hidup dalam kegelapan dan kesulitan segala hal. Bertahun-tahun juga warga tidak memperoleh fasilitas publik, baik listrik, air bersih maupun infrastruktur desa. Hal itu banyak faktor yang mempengaruhi mengapa Airsugihan tertinggal begitu lama.

Menurut Sugeng, ketua Fraksi Golkar, DPRD Kabupaten Ogan Komering Ilir, yang juga mantan kepala desa Simpang Heran, wilayah Airsugihan merupakan wilayah unik. Wilayah pasang surut yang dikepung hutan bakau dan sungai. Warga jalur ibarat terperangkap dalam zona terisolir karena akses menuju ke kota besar harus melewati sungai. Sedangkan akses jalan darat menuju ke kota Palembang masih terhalang rawa dan jalan tanah.

Letak geografis wilayah yang demikian unik, membuat warga harus super sabar menanti pembangunan, terutama fasilitas publik yang sangat ditunggu-tunggu yaitu penerangan listrik Selama ini, kurang lebih 39 tahun sejak tahun 1982, warga hanya menggunakan penerangan seadanya, yaitu menggunakan lampu sentir (bahasa lokal: lampu minyak tanah). Namun ada juga yang membuat lampu minyak kelapa, dengan mengaitkan kapas disela-sela sendok garpu kemudian dibasahi minyak kelapa. Lampu minyak kelapa ini cukup simpel dan murah meriah karena minyak kelapa tidak harus beli, tetapi bisa membuat sendiri.

Listrik masuk desa di kecamatan Airsugihan, merupakan mimpi seluruh warga desa yang menjadi kenyataan. Meskipun proses mendapatkan listrik agar desa terang benderang, tidak lepas dari perjuangan panjang para kepala desa ( kades ). Dengan berbagai cara agar listrik bisa masuk desa. Dimulai sejak tahun 2011, setelah bertahun-tahun hidup dalam kegelapan, para kades se Airsugihan harus keluar masuk ke kantor Bupati Ogan Komering Ilir, provinsi Sumatera Selatan. Setelah proyek mulai dibuka, sejak saat itu pula kendala datang silih berganti. Pemasangan tiang listrik yang terbuat dari beton itu, sempat simpang siur pemegang tendernya. Bahkan sempat terhenti selama setahun. Tiang listrik berdiri tegak tanpa api yang berakibat tiang listtik menjadi tugu tak berguna.

Belum selesai kendala pada pemancangan tiang listrik, warga juga sempat kecewa dengan kilo Watt hour meter (KWH meter) yang banyak rusak dan membuat arus listrik tidak bisa masuk ke rumah. Sementara warga tidak paham dengan kelistrikan. Apabila KWH meter nya macet dan muncul gambar tangan yang disertai bunyi pada KWH meter, warga kebingungan harus melapor ke siapa. Hal itu karena warga sangat buta dengan prosedur pengaduan.

Pihak pemborong akhirnya menunjuk putra daerah (warga setempat) untuk dilatih mengenai kelistrikan, sehingga ketika ada kendala mengenai listrik bisa cepat diatasi tanpa harus mendatangkan orang dari luar Airsugihan. Meski sempat terjadi miskomunikasi dengan  pihak ketiga atau pemborong, warga menganggapnya tidak penting. Bagi warga yang penting listrik menyala dan segera bisa dimanfaatkan..

Selama 5 tahun sejak 2011 pengajuan listrik masuk desa, atau 39 tahun sejak wilayah Airsugihan dibuka, warga sudah tidak sabar. Pemasangan KWH meter dan instalasi yang dikenai biaya sebesar Rp 3.500 langsung dibayar warga. Bagi warga yang kurang mampu, rela mencari hutangan kemana-mana agar rumahnya bisa didaftarkan mendapat aliran listrik.

Akhirnya pada tahun 2014, dimulainya listrik menyala di wilayah Airsugihan. Listrik menyala ini tidak secara serentak, tetapi bertahap dimulai desa kertamukti, yang merupakan pusat kota kecamatan Airsugihan. Kemudian secara bertahap pada tahun 2016 tersambung ke desa paling ujung wilayah Airsugihan, yaitu desa Sukamulya jalur 23.

Meski saat itu listrik tidak sepenuhnya ful daya, tetapi warga benar-benar senang luar biasa. Pada siang hari listrik menyala terang, tetapi pada malam hari, listrik terlihat redup dan seperti kurang daya, atau besaran listrik tersebut menjadi penentu dari besarnya daya listrik yang diperlukan oleh peralatan listrik untuk bekerja secara optimal karena warga euvoria menyalakan semua lampu di rumahnya. Seperti pesta cahaya setelah sekian tahun merasa asing dengan lampu setrum ini.

Beberapa kali kendala terjadi, bahkan selama satu tahun aliran listrik belum sempurna, terutama kilo Watt haour meter yang selalu bermasalah dan eror. Akhirnya beberapa petugas Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik ( P2TL) atau OPAL (Operasi Penertiban Aliran Listrik), datang silih berganti. Ada pemasangan yang salah, ada juga ditemukan  sambungan saluran listrik (SSL) yang tidak sesuai standar PLN. Hal ini membuat Petugas OPAL pun harus bekerja ekstra dan segera menertibkan di lapangan.

Kilo Watt Hour (KWH) meter atau alat untuk mengukur energi aktif yang menggunakan suatu alat hitung serta memakai asas induksi. KWH meter inilah yang sering menjadi pangkal carut marutnya diawal listrik masuk desa. Beberapa tempat ditemukan KWH meter rusak di rumah warga dan tidak segera diganti. Sehingga sebagian warga tidak bisa menikmati aliran listrik. Dikemudian hari ketika petugas OPAL memeriksa dari rumah ke rumah, tidak sedikit ditemukan KWH meter rusak, yang terpaksa harus diturunkan dan diganti yang baru.

Kini setelah masalah KWH meter secara bertahap bisa diatasi, warga Airsugihan benar-benar menemukan titik terang. Warga benar-benar merasa hidup normal layaknya warga daerah lain yang bisa menggunakan fasilitas listrik, selain sebagai penerangan, juga sebagai bagian dari pembangkit ekonomi kerakyatan.  Warga bisa membuat usaha baru untuk menopang pemasukan penghasilan. Mulai usaha bengkel las, usaha rumah makan yang menyediakan es. Membuat open untuk usaha rumahan. Menggosok baju dan menanak nasi. Nonton tv tanpa memikirkan batere accu habis. Dan membuat usaha-usaha lain yang membutuhkan listrik.

Kini warga Airsugihan benar-benar seperti keluar dari hutan belantara yang gelap. Warga seperti hidup baru dan menemukan gairah sambil menata rencana. Roda perekonomian pun berputar makin kencang. Meskipun infrastruktur jalan hingga kini masih berupa tanah, namun disisi lain sudah sangat tertolong dengan adanya listrik.  Jika dulu acara pernikahan terlihat sepi, kini berubah menjadi hingar bingar karena listrik memacu kreativitas warga menjadi semakin produktif. Pesta nikah sudah bisa dengan acara hiburan organ tunggal dan mendatangkan penyanyi. Pasangan pengantin yang duduk di pelaminan sudah tampak glowing dimanjakan lampu berwarna warni.

Warung makan yang dulu panas tanpa kipas angin dan tidak bisa pesan es campur, kini warung makan sejuk berkipas dan sudah menyediakan aneka es, mulai es campur, cappucino, dan es teh, karena pemilik warung sudah bisa menggunakan kulkas. Listrik, tidak bisa dipungkiri memiliki andil besar bagi rakyat Indonesia, baik dikota maupun pelosok desa. Listrik memiliki andil besar menghidupkan ekonomi kerakyatan dan kemakmuran bangsa ini.

Listrik adalah penerang dari segala  kegelapan masyarakat. Dan tidak bisa dipungkiri juga, listrik adalah kebutuhan masyarakat nomor satu setelah air bersih. Warga Airsugihan, kini benar-benar merasakan Habis Gelap Terbitlah terang. Dari usaha susah, kini menjadi gampang. Anak-anak sekolah yang belajar dengan penerangan lampu minyak kelapa, kini sudah bisa belajar dengan penerangan listrik yang menyala. Warga yang dulu tidak ber-HP karena tidak bisa charger, kini warga tani bisa bekerja dan ber-HP di tengah sawah. Listrik, memiliki andil besar terhadap bangsa ini, menerangi jalan dan menciptakan kemakmuran.

(Oleh Triyono Junaidi – Penulis adalah mantan wartawan Sumeks Minggu, warga transmigrasi Airsugihan dan penulis buku Sejarah Harian Sumatera Ekspres)

Komentar

Berita Lainnya