oleh

Literasi Digital dan COVID-19

Oleh:

Mery Yanti

HAMPIR setahun Indonesia dilanda pandemi COVID-19. Dari hari ke hari, data penduduk yang meninggal, sembuh, dan terkena COVID-19 cenderung fluktuatif. Beberapa protokol pencegahan yang ditetapkan pemerintah (misalnya, jaga jarak fisik, cuci tangan, masker, bekerja dan belajar dari rumah) belum sepenuhnya ditaati warga masyarakat. Kini, warga masyarakat sedang menanti vaksin COVID-19.

COVID-19 mewabah seketika. Menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2019, 73,7 persen atau 196,71 juta penduduk Indonesia menggunakan telepon pintar yang terhubung dengan internet. Sayangnya, karena pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran digital warganet yang rendah, tingginya penetrasi internet di Tanah Air melahirkan beragam persoalan sosial baru (misalnya, hoax, bullying, sexting, phishing, dan sebagainya). Akibatnya, pemerintah tidak hanya disibukkan dengan upaya penegakkan protokol COVID-19, tetapi juga mengontrol lalu lintas informasi hoax yang berkaitan dengan COVID-19.

Di awal masuknya COVID-19 ke Indonesia, warga masyarakat disuguhi beragam berita hoax yang menyebar sangat cepat melalui beragam platform media sosial (misalnya, Facebook, Twitter, WhatsApp, dan Instagram).

Di antara berita hoax tersebut adalah: makan bawang putih bisa mencegah COVID-19, minum air putih tiap lima belas menit, thermo gun bisa merusak otak, dan mandi air panas bisa membunuh virus (detikHealth, 22/07/2020). Selain hoax, di level masyarakat juga berkembang beberapa mitos tentang COVID-19, misalnya: usia muda kebal COVID-19, cuaca hangat bisa menurunkan jumlah kasus, COVID-19 hanya bisa tertular dari orang yang bergejala, penggunaan masker tidak efektif untuk mencegah virus (detikHealth, 09/07/20).

Fenomena hoax dan mitos di atas menegaskan pentingnya kecerdasan digital (digital literacy) di era masyarakat informasi. Sebelum era internet, kita mungkin sudah cukup puas jika peserta didik, apa pun level dan jenis pendidikannya, mampu membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Dengan membaca dan menulis, orang tidak mungkin tersesat karena bisa membaca informasi di perjalanan. Dengan membaca dan menulis, Orang bisa berkomunikasi dengan orang lain melalui surat menyurat karena ia bisa membaca dan menulis.

Orang bisa berdagang dan melakukan banyak transaksi ekonomi karena mengenal dan melakukan perhitungan matematika sederhana (tambah, jumlah, kali, dan bagi). Singkat kata, kemampuan calistung adalah prasyarat bagi seseorang untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial yang lebih luas.

Kini, calistung sudah tidak memadai sebagai bekal kehidupan anak-anak di masa depan. Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) melalui konsep Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) memberikan perhatian khusus terhadap literasi digital yang merupakan turunan dari Tujuan 4 (Menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata serta meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat untuk semua).

Pada 2015, ketika resolusi TPB ini disepakati Sidang Umum PBB, literasi digital belum termaktub sebagai salah satu sub-indikator Tujuan 4.Tetapi, sudah ada Indikator 4.4 yang dapat dijadikan cantolan bagi indikator literasi digital. Indikator 4.4 berbunyi: Pada tahun 2030, meningkatkan secara signifikan jumlah pemuda dan orang dewasa yang memiliki keterampilan yang relevan, termasuk keterampilan teknik dan kejuruan, untuk pekerjaan, pekerjaan yang layak dan kewirausahaan. Bertolak dari Indikator 4.4, beberapa negara di Eropa mengembangkan Indikator 4.4.1 (proporsi pemuda dan orang dewasa dengan keterampilan teknologi informasi dan komunikasi menurut jenis keterampilan) dan Indikator 4.4.2 (persentase pemuda dan orang dewasa yang mencapai tingkat kemahiran minimal dalam keterampilan literasi digital) yang fokus ke literasi digital.

Komitmen seluruh negara-negara di dunia untuk membekali penduduk mereka dengan kompetensi literasi digital seharusnya memicu kita bersama-sama meningkatkan kualitas literasi digital penduduk Indonesia.

Selain menguasai perangkat keras dan perangkat lunak teknologi informasi dan komunikasi berbasis internet, esensi literasi digital adalah bersikap kritis terhadap seluruh informasi yang berasal dari internet. Sebab, selain bentuk informasi yang variatif (teks, gambar, suara, dan video), kualitas kebenaran atau tingkat akurasi sumber informasi di internet juga beragam. Situasi ini menuntut peserta didik untuk mengembangkan sikap kritis terhadap segala informasi yang berasal dari internet.

Empat belas abad lalu, pentingnya sikap kritis sudah digambarkan dalam Alquran sebagaimana ditunjukkan kisah Bani Israil yang beberapa kali bertanya kepada Nabi Musa a.s., perihal gambaran sapi betina yang harus disembelih (QS. al-Baqarah [2]: 67 – 70). Sikap kritis itu juga ditunjukkan Nabi Ibrahim a.s., ketika berproses mencari Tuhan (QS. al-An’am [6]: 75 – 78) dan menggugat praktik-praktik penyembahan berhala oleh kaumnya (QS. al-‘Anbiya’ [21]: 58 – 70).

Penguatan literasi digital merupakan intervensi di sektor hulu yang memerlukan kolaborasi banyak pihak. Dalam konteks pencegahan COVID-19, warganet seharusnya turun berpartisipasi aktif dalam membatasi penyebaran informasi hoax terkait COVID-19 dan membangun budaya kritis di komunitas masing-masing.

Di sektor hilir, peran pemerintah tetap penting untuk menegakkan aturan-aturan hukum positif yang berkaitan dengan Undang – Undang Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.Kombinasi dua pendekatan ini diharapkan dapat membersihkan atmosfer digital di Tanah Air darihoax, cyber bullying, phishing, sexting, dan sebagainya.Semoga bermanfaat! (*)

*)

Penulis adalah Dosen Sosiologi

Fisip Unsri

Komentar

Berita Lainnya