oleh

Maaf Lahir Batin, Ayo Lanjut Do Show

Timing Happy Wednesday #19 ini luar biasa. Pas hari Rabu, 5 Juni. Pas saat Hari Raya Idul Fitri. Karena itu, kepada semua pembaca: Mohon maaf lahir dan batin.

Bagi yang kenal saya secara pribadi, mohon maaf atas segala perbuatan saya yang mungkin kurang berkenan. Bagi yang sekadar kenal lewat serial tulisan ini, mohon maaf apabila ada tema, topik, kata-kata yang kurang berkenan.

Bagi yang mengirimi saya pesan lewat WA, SMS, e-mail, atau jalur komunikasi lain, mohon maaf apabila saya tidak membalasnya.

Semoga semua bisa memaklumi, bahwa hari ini (sejak kemarin) hape saya tak berhenti menerima pesan. Saya yakin hape pembaca juga demikian.

Kebetulan saya memang selalu men-setting hape dalam kondisi silent. Tapi setiap kali menengok, ada puluhan, bahkan ratusan pesan baru masuk. Ada dari orang-orang yang saya kenal beneran, ada yang dari orang yang sekadar kenal, ada yang tidak jelas dari siapa karena tidak menuliskan nama di penghujung pesannya.

Jadi mohon maklum kalau saya tidak membalas. Bahkan saya minta maaf, karena saya bahkan mungkin tidak membaca semuanya.

Tentu saja, saya juga mengirimkan pesan selamat dan permohonan maaf kepada beberapa orang. Tentu saja, saya juga memaklumi kalau pesan saya tidak dibaca dan dibalas.

Tohyang terpenting, bukan pesan formalitasnya. Yang terpenting adalah niatan permohonan maafnya, dan niatan memaafkannya. Bukankah kadang kita tidak harus mengirimkan pesan atau menerima pesan, tapi dalam lubuk hati yang paling dalam, kita minta maaf dan memaafkan?

Apalagi, Hari Raya Idul Fitri ini jatuh setelah salah satu momen paling mendebarkan dalam sejarah negara kita. Setelah momen pemilihan umum yang memiliki “rasa” khusus. Seperti kita makan sesuatu, dan makanan itu lancar masuk ke dalam sistem percernaan, tapi ada sedikit rasa mengganjal di lidah dan mulut.

Saya yakin, semua pihak yang terlibat sedang saling mengirim pesan, meminta maaf dan memaafkan. Saya yakin ada yang sekadar formalitas, tapi saya juga yakin banyak yang tulus.

Dan setelah segala acara kunjung-mengunjung, telepon-menelepon, dan berkirim pesan ini, kemudian apa?

Mari kita berpikir bukan hanya setahun ke depan. Karena tahun depan, dan tahun-tahun selanjutnya, kita akan mengulangi lagi prosesi saling memaafkan ini.

Mari kita berpikir lima tahun lagi. Saat ada kemungkinan akan terjadi “open battle” pada Pemilu selanjutnya.

Saya khawatir, karena sambil menyiapkan diri menuju lima tahun itu, yang dilakukan “mereka yang pengin” adalah menyiapkan diri, memposisikan diri, menuju masa untuk benar-benar bersaing.

Saya khawatir, kesibukan menyiapkan dan memposisikan diri itu justru menjadi kendala untuk orang kebanyakan. Untuk kita semua. Mengabaikan perbaikan, pembangunan, dan –yang paling saya takutkan– pemikiran strategis untuk negara ini puluhan tahun ke depan.

Dunia sedang dalam crossroad. Negara maju sudah mulai memikirkan langkah-langkah drastis mengatasi isu lingkungan dan lain-lain. Ada negara bagian di Amerika yang sudah mulai berpikir mengeliminasi mobil dengan bahan bakar minyak, supaya bisa full electric dan bebas emisi dalam waktu dekat.

Sedangkan kita masih belum mantap memikirkan infrastruktur. Kota-kota besar kita masih kalah canggih dan kalah modern dari Disney World di Florida (yang percayalah, ukurannya seperti kota besar, dan manajemennya seperti negara maju).

Saya berharap, energi “mereka-mereka yang memikirkan lima tahun lagi itu” digunakan benar-benar untuk “Do Show.” Untuk berbuat.

Bapak-bapak dan ibu-ibu pejabat, saya minta tolong imbangi ambisi lima tahun lagi dengan perbuatan-perbuatan yang sudah seharusnya menjadi prioritas. Percuma aktif membuka dan menutup acara, kalau jalanan masih rusak. Percuma aktif posting di media sosial, kalau kondisi ekonomi masih belum membahagiakan.

Do Show.

Bukan Talk Show.

Bukan Medsos Show.

Saya berharap, dalam lima tahun ke depan, masyarakat kita lebih pintar dalam menilai dan memilih. Saya berharap, dalam lima tahun ke depan, kita akan mendapatkan pilihan yang lebih menenangkan hati.

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Mohon maaf lagi kalau tulisan ini kurang berkenan… (azrul ananda)

Komentar

Berita Lainnya