oleh

Mahasiswa Unsri Turun Gunung, Ajarkan Literasi Untuk Anak Suku Orang Rimba Jambi

SUMEKS.CO – Mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) turun gunung, tanamkan pentingnya literasi baca tulis hitung untuk anak-anak suku orang rimba, di Sungai Kuning, Bukit Duabelas, Sarolangun, Jambi. Rabu (18/11/2020) lalu.

Mereka yang tergabung dalam organisasi Mahasiswa Pencinta Alam, Gemapala Wigwam FH (Unsri), secara sukarela turut serta membantu kegiatan belajar mengajar (KBM) terhadap anak-anak rimba disana.

Shafira menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan wujud kepedulian terhadap anak-anak suku rimba. Yang masih terbatas kemampuan baca tulis hitungnya. Atas kondisi demikian dia bersama anggota lain (Fabila Al Akbar, Alifdyo, Nandita Swastika, Aldo Carnegie) berinisiatif mengunjungi anak rimba secara langsung, memberikan pelajaran sekaligus memberikan sokongan berupa buku-buku cerita bergambar, buku mewarnai, buku berhitung. Hasil sumbangan anggotanya.

“Meskipun mereka hidup dan besar di dalam hutan, bukan berarti mereka buta literasi. Diusia belia seharusnya sudah mampu membaca dan menghitung,” tutur Shafira ketua pelaksana kegiatan ini dengan semangat menceritakan. Sabtu (21/11/2020).

Fira (sapaan akrabnya) mengatakan, sedikitnya ada 20 anak usia wajib sekolah disana. Fasilitas rumah sekolah pun sudah berdiri, berikut sarana penunjang di sekolah yang bernama Sekolah Rimba Pintar Sungai Kuning itu. Tetapi cukup disayangkan, pelaksanaan KBM masih belum produktif.

Hal tersebut ungkapnya, selain disebabkan oleh jauhnya jarak tempuh dibarengi kebiasaan bawaan keluarga mereka yang aktifitas penuh di dalam belantara hutan, merasa asing pabila harus keluar. Juga terbatas media belajar (buku),

“Anak rimba keberatan keluar dari hutan, lantaran sudah jadi kebiasaan mereka menetap disana. Jadi terpaksa guru pengajar masuk kedalam hutan. Membawa peralatan belajar dengan
berjalan tiga kilometer dari gedung sekolah ke pemukiman di hutan,” imbuhnya menjelaskan.

Diketahui Sekolah Rimba Pintar Sungai Kuning ini berdiri sejak 2016. Merupakan salah satu dari tiga sekolah dibawah binaan Balai Taman Nasional Bukit Duabelas dan Dinas Pendidikan Sarolangun.

Tepatnya di wilayah Resort Air Hitam I Seksi Pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas Wilayah II Tebo. Untuk dapat kesana butuh waktu selama dua jam perjalanan darat pemukiman.

Medan yang ditempuh berbukit dengan kemiringan rata-rata 15 derajat, yang tidak biasa jalan di hutan dipastikan berpeluh keringat.

Anak-anak rimba disana melangsungkan kegiatan belajar secara komunal. Dididik oleh tiga orang guru, buah dari kerjasama PT Sari Aditya Loka (SAL) dan TNBD.

“Mereka (guru) ialah pendidik relawan yang secara sukarela mengajar disana. Mereka menerapkan metode mengajar secara bergantian per hari mulai pukul 09.00 – 12.00 WIB,” terusnya.

Dilanjutkan oleh Shaiful, mereka mendapati anak-anak suku orang rimba punya minat belajar sangat tinggi. Sesampai nya di hutan rombongan nya disambut hangat oleh anak rimba. Menurutnya, kurang tepat asumsi umum menyebutkan anak-anak enggan belajar.

“sejatinya mereka haus akan ilmu, Meski kembang-kempis. Lantaran disana ada budaya mengasingkan diri yang disebut Melangun. Yang dilakukan apabila sedang dirundung duka. Kebiasaan itu yang membuatlah mereka kurang konsisten belajar,” beber shaiful Ketua Umum Gemapala Wigam FH Unsri.

Dalam kegiatan yang bertajuk Wigwam Social Action 2020, 44 Tahun Berdaya Terus Bermakna Untuk Semua. Selain bersumbangsih dalam bentuk buku juga memasok kebutuhan pakaian untuk warga suku orang rimba bukit duabelas.

“Insyallah gerakan ini akan terus berlanjut, untuk memberikan makna kepada Anak Rimba di Sekolah Rimba Pintar Sungai Kuning. Pentingnya belajar menjadikan mereka cerdas,” pungkasnya. (Bim/gwfh).

Komentar

Berita Lainnya