oleh

Malu Debat Anak SMA

Saya tidak bisa membayangkan, betapa malunya guru-guru SMA di Amerika sekarang. Usai kegaduhan dan berantakannya debat calon presiden Amerika beberapa hari lalu. Ketika Donald Trump dan Joe Biden menjadi contoh bagi seluruh pelajar di Negeri Paman Sam, bagaimana debat semestinya TIDAK berlangsung!

Saya juga bisa membayangkan, betapa frustrasinya guru-guru SMA di Amerika sekarang. Karena tidak bisa bertemu langsung murid-muridnya di ruang kelas, lalu “membedah” betapa kacaunya debat tersebut. Sebagai pelajaran, bahwa itu tidak boleh terjadi!

Andai saya kembali SMA lagi di sana, atau bahkan kuliah lagi di sana, saya pasti akan sangat menikmati kelas-kelas critical thinking seperti English Writing, Filsafat, atau Speech. Karena debat itu PASTI jadi bahan pembahasan dan pembelajaran luar biasa.

Bagi kita di sini, debat itu mungkin sekadar adu mulut, adu argumen. Kita bahkan sudah terbiasa melihat debat sebagai “gontok-gontokan.” Yang menang bukanlah yang logika dan argumentasinya terbaik, melainkan yang paling menang ngotot apa pun alasannya. Yang paling ngotot menekankan “pokoknya begini.”

Di negeri Trump, debat itu bukan sekadar pelajaran sekolah. Debat itu seperti cabang olahraga. Tiap SMA bukan hanya punya tim basket, tim football (America Football), voli, atau atletik. Tiap SMA punya tim debat. Ikut kejuaraan satu wilayah, bisa berlanjut sampai level negara bagian, atau bahkan nasional.

Tim sekolah pun ada “pengkaderannya.” Bisa ada level freshman (kelas 9), ada level JV (junior varsity), lalu ada tim utama alias varsity.

Sekolah menyiapkan serius tim ini. Memilih siswa-siswi yang bukan sekadar pintar dan punya wawasan luas, tapi juga memiliki kemampuan berbicara baik. Mereka lantas dilatih tentang teknik argumentasi, bagaimana bisa tetap bertahan pada topik dan pendirian, juga penekanan intonasi dan lain sebagainya.

Menurut American Debate League (ya, ada liganya!), pelajar yang ikut kelas debat atau tim debat bisa belajar banyak hal. Antara lain: Mengembangkan rasa percaya diri, rasa ingin tahu, berpikir kritis, komunikasi oral maupun menulis, kontrol diri, kreativitas, serta kepemimpinan.

Kalau menonton kompetisinya, tema-tema yang “dipertandingkan” bisa ringan, bisa berat. Bisa tentang keseharian, bisa soal isu politik dan sosial, bahkan agama.

Yang sederhana misalnya: Sekolah tidak perlu pekerjaan rumah, media sosial tidak diperbolehkan di area sekolah, atau yang seperti itu.

Yang berat: Setiap orang berhak punya senjata api, narkoba harus dilegalkan, menentukan berapa upah minimum buruh, iklim global, dan lain-lain.

Kalau ikut tim debat, otomatis kita harus rajin membaca. Rajin mengikuti perkembangan terkini. Sehingga selalu punya “bahan” apabila tiba waktunya pertandingan.

Terus terang, saya tidak pernah ikut kelas debat. Tapi saya wartawan/fotografer koran sekolah, dan saya selalu bertugas meliput aktivitas tim-tim sekolah. Baik itu olahraga, cerdas cermat (Quiz Bowl), atau seperti debat ini.

Di tingkat perguruan tinggi, tentu lebih berat dan seru lagi. Dan para juara debat tingkat SMA bisa mendapatkan beasiswa masuk universitas, lalu bergabung tim debat kampus itu.

Seperti saya tekankan di atas, debat itu seperti olahraga.

Nah, kembali ke debat Trump versus Biden. Tentu saya tidak ingin menuliskan lagi apa yang terjadi di debat tersebut. Saya sendiri tidak tahan menontonnya. Jujur, saya sampai tidak sanggup menontonnya terlalu lama. Silakan tonton sendiri kalau mau, banyak di YouTube.

Ya Tuhan, ini bukan debat. Kalau ini dilakukan politikus atau calon-calon pemimpin daerah/negara di Indonesia, mungkin ini biasa. Tapi ini “debat” calon presiden Amerika. Negara yang seharusnya jadi acuan demokrasi seluruh dunia. Oleh dua calon presiden di negara yang pelajar-pelajar SMA-nya belajar dan tahu bagaimana melakukan debat yang baik!

Moderatornya, Chris Wallace, juga tidak bisa mengontrol dua “peserta lomba debat”-nya!

Biasanya, kalau sudah debat begini, media-media sibuk membahas setiap kalimat yang diucapkan kedua kandidat. Mengecek apakah fakta-faktanya benar. Tapi, yang terjadi setelah Trump-Biden Debate, yang dibahas justru chaos-nya. Bagaimana kedua kandidat saling memotong, khususnya Trump, sehingga tidak terjadi adu argumentasi yang jelas dan sehat. Yang terjadi malah lebih banyak saling ejek, bukan membahas topik yang seharusnya dibahas.

“Jangankan poin-poin utamanya, menemukan kalimat yang utuh saja susah,” celetuk Stephen Colbert, salah satu talk show host paling populer di Amerika.

Colbert menegaskan, betapa memalukannya itu. “Anak-anak menonton itu! Untung saya sudah punya anak. Kalau tidak, mungkin saya langsung jadi steril setelah menonton debat itu,” lanjutnya.

Ya, kasihan anak-anak yang menonton. Kasihan begitu banyak anak SMA di Amerika yang tergabung dalam tim debat di sekolah masing-masing. Kasihan guru-guru mereka, pelatih-pelatih mereka, yang selama ini bekerja keras mengajarkan bagaimana berdebat yang baik, bagaimana menggunakan logika yang baik.

Mungkin mereka mending ikut sistem pendidikan di Indonesia saja, lalu melihat proses pemilihan di Indonesia saja. Karena debat tidak diajarkan di sekolah, dan anak SMA tidak bisa menilai bagaimana politikusnya berdebat di atas panggung!

Lebih baik tidak tahu daripada tahu lalu pusing tujuh keliling!(azrul ananda)

Komentar

Berita Lainnya