oleh

Mas Parno, Wartawan Pengacara dan Pandawa Lima

Oleh: Julheri

JADI wartawan hukum dan kriminal itu berat, ngeri-ngeri sedap! Harus siap berhadapan dengan hukum dan duduk di kursi ruang sidang pengadilan.

Bukan untuk meliput tapi malah diliput. Jadi pesakitan, tergugat atau terdakwa.

Tentu ini tak berlaku bagi wartawan yang tak ingin mendalami beritanya (investigasi). Hanya cari aman. Menunggu laporan polisi atau surat dakwaan saja.

Mas Parno (H Suparno Wonokromo) adalah wartawan senior yang sangat mengerti soal itu.

CEO Sumeks Grup Sumatera dan Jawa itu pernah tugas lama, sebagai wartawan hukum di pengadilan dan Polda Metro Jaya.

Kepiawaian beliau membongkar kasus tak diragukan lagi.

(*Kepiawaian Mas Parno meliput kasus, bisa dibaca tulisan Pimred saya waktu tugas di Jawapos Jakarta: Pak Parno; From Zero To Hero

Pesan almarhum yang masih saya ingat: “Wartawan yang tugas di pengadilan jangan jadi hakim, dan yang tugas di kepolisian jangan jadi polisi.”

Maksudnya? Tempatkan posisi sebagai wartawan yang netral dimana pun ditugaskan, tidak berpihak sana sini. Intinya, Jangan mentang-mentang! Wajib berimbang.

Tapi pesan Mas Parno ini saya langgar sendiri.

Saya wartawan yang pada akhirnya mengantongi izin pengacara. Mas Parno pun mengetahui itu. Entah dari siapa? Gak usah ditanya, beliau pasti punya mata dan telinga dimana-mana.

“Kamu punya izin pengacara yang dek,” ujar Mas Parno yang tiba-tiba muncul di ruang redaksi pagi itu. Saya terkejut dan  langsung menjawab: “Iya”.

“Ya, sudah dek, kalau kamu punya izin pengacara bela Sumeks saja”, tegasnya.

Pertanyaan soal pengacara itu pun berhenti sampai disitu. Mas Parno malah lanjut bertanya soal sepakbola.

“Eh.. semalam Chelsea menang ya?,” Mas Parno malah beralih pada berita klub idolanya. Dia seolah tak ingin lagi  membahas pertanyaan yang pertama.

Saya makin kagok menjawab, karena semalam ketiduran dan tidak update berita bola paginya. Alhasil tangan refleks  hanya bisa garuk-garuk kepala.

Ya, beliau memang tegas dan teguh memegang prinsip jurnalistik. Tapi beliau juga percaya dengan loyalitas wartawannya. Karena di Sumeks grup, wartawan yang punya izin pengacara bukan hanya saya.

Banyak. Tepatnya, ada lima, termasuk saya. Sebut saja Pandawa Lima.

Ada senior saya, Kak Oka (Oktaf Riady) saat itu Pimred Palpos, Ketua PWI Sumsel 2 periode dan kini Ketua Bidang Pembelaan Wartawan PWI Pusat.

Kemudian, M Daud Dahlan (Palpos) dan Sihatjudin (Sumeks/Pimred Sumarni). Keduanya saat ini fokus profesi advokat.

Dan, terakhir Sulistiawarman, saat ini GM Palpres Online.

Semua wartawan yang punya izin pengacara itu sama seperti Mas Parno. Pernah bertugas di pos wartawan hukum dan kriminal.

Saya yang paling lama. Karena menjadi satu-satunya wartawan Sumeks yang tidak pernah di rolling alias pindah tugas.

Setiap rolling wartawan, Mas Ali Fauzi, Pimred saya waktu itu selalu bilang. “Kamu tetap di pengadilan. Tapi wilayahnya ditambah, LBH, Dilmil dan PTUN”.

Ya begitu terus sampai bosan. He..hehe

Pandawa lima ini wartawan tak biasa. Punya tugas meliput berita hukum dan sekaligus bersidang jika ada berita rekan wartawan dipidanakan atau diperdatakan.

Data saya mencatat. Ada banyak berita saat itu yang dipolisikan atau digugat perdata.

Ada juga yang hanya sampai tahap somasi saja. Berkasnya penuh bertumpuk dibawah meja. Yang sampai ke meja hijau juga ada. Nah, tiap sidang, Kak Oka komandannya.

Hebatnya, berita yang naik sidang menang semua.

Stop dulu! Tarik nafas dulu.

Sampai sini saya mau bilang: “Detik- detik menegangkan itu tidak hanya terjadi di ruang redaksi saja, tapi juga di ruang  sidang. Ups… itu sudah ada bukunya.

Saking semangatnya, waktu itu sempat muncul ide  membentuk biro hukum Sumeks. Tugasnya lebih luas lagi, membela Sumeks grup sekaligus keluarganya.

Tak hanya soal koran, soal pribadi juga. Kasus cerai, sengketa tanah, gugat harta gono gini atau yang lainnya.

Tapi ide itu hanya sampai tahap gagasan saja. Toh kalau pun teman ada kasus bisa langsung konsultasi saja.

Singkat cerita. Apa yang ditakutkan tiba juga.

Satu beritaku naik sidang. Resmi digugat perdata. Nilai gugatannya luarbiasa, sampai menggelinding nol rupiahnya.

Tak tanggung-tanggung, yang menggugat advokat senior dari Jakarta. Gak usah saya sebutkan namanya. Hanya mengorek  luka lama….ehm.

Tapi ada cerita lucunya. Saat sidang di Pengadilan Negeri Palembang masuk ke tahap pembuktian, kami wajib menunjukkan bukti koran aslinya.

Ternyata si penggugat tidak punya. Hanya klipingan berita  plus foto copy-nya saja.

Terpaksa kami harus bawa bundel korannya. Utuh satu buku besar dari perpustakaan Pak Dul (H Dulmuktijaya) di  lantai 3 Graha Pena.

Ternyata bukti yang dicari masih ada, Pak Dul memang rajin mendokumentasi semua.

Alhasil budel koran satu bulan sekaligus kami bawa. Langsung diserahkan kepada majelis hakim semuanya. Hari itu juga.

Yang menarik, selama sidang “berita digugat” di pengadilan ini malah tidak ada dokumentasinya.

Tidak ada foto juga tidak ada beritanya. Pak Dul juga tidak mendapat proyeksi untuk mengabadikan moment sidang itu dengan lensa kameranya.

Ya, itulah uniknya media. Saat digugat selalu pasif saja.
Kalau dipukul tak akan balas memukul. Tak ada lapor balik,
tak ada pula gugatan balik. Meski menang sekalipun di
pengadilan pada akhirnya.

Ki Suparno yang hobi mendalang luarbiasa sabar dan tidak jumawa, meski menang perkara dan memiliki Pandawa Lima.

Berita yang digugat di pengadilan itu menurut Mas Parno hanya menguras waktu dan tenaga. Kalau pun kita akhirnya menang, tidak lantas euforia.

Ya, instrospeksi saja, membuat kita makin dewasa. Beliau yakin betul, bahwa kebenaran akan menemukan jalannya. Kalau pun harus sidang, ya sidang saja. (joel)

Komentar

Berita Lainnya