oleh

Masjid Agung Diambil Dari Nama Pendirinya

NAMA Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) resmi diganti menjadi Masjid SMB Jayo Wikramo. Penamaan baru itu untuk menunjukan historis-nya bahwa SMB I sebagai pendiri.
———————————————-
Lantunan suara Adzan dari Masjid SMB Jayo Wikramo saat Dzuhur, kemarin (5/3) terdengar merdu. Segera kaum muslim pun berduyun-duyung datang ke masjid. Yang biasa disebut wong Palembang “Masjid Agung Palembang” tersebut. Mereka mengambil wudhu, setelah itu bergegas memasuki memasuki bangunan utama masjid di bagian tengah.

Setiap masuk waktu shalat, jemaah masjid ini memang selalu hampir penuh di bangunan utama. Dzuhur kemarin, hitungan Sumatera Ekspres, ada sekitar 15 shaf jemaah yang shalat berjamaah. Masing-masing shaf terdiri sekitar 80-90-an orang. Selesai shalat, koran ini menyempatkan berkeliling masjid. Setelah perubahan nama, ternyata ada bangunan-bangunan yang juga berubah.

Seperti gerbang masuk masjid bercat warna orange dan ornamen khas menghadap Monpera. Gerbang itu sudah memiliki nama baru, yakni Masjid SMB Jayo Wikramo. Lalu koran ini melihat taman masjid yang juga baru dibangun dengan nama yang sama bercat hijau. Ada warga yang ikut menjadikannya sebagai lokasi berfoto. Prasasti Masjid SMB yang memuat cerita pendirian dan penggas masjid Jayo Wikramo.

Bagi orang awam, mungkin penamaan baru Jayo Wikramo ini cukup asing. Tapi bagi sejarawan dan Keturunan Kesultanan palembang, nama ini memiliki arti penting. Dalam berdirinya masjid yang dibangun pada 1738 Masehi. Dan diresmikan 26 Mei 1748 Masehi ini.

“Jayo Wikramo merupakan SMB I, Sultan Kesultanan Palembang Darussalam. Yang menggagas berdirinya masjid ini. Awalnya diberi nama Masjid Sultan,” ujar Ketua Yayasan Masjid Agung Palembang, Ir H Kgs Ahmad Sarnubi, kemarin (5/3).

Jadi, kata dia, penyematan nama Masjid Agung SMB Jayo Wikramo itu merunut sejarah. Bahwa Sultan SMB I penggagas berdirinya masjid ini. “Jadi kita sepakat mengambil nama itu. Kalau ada masyarakat yang bertanya mengapa diganti, ya seperti itu,” sebutnya. Makanya prasasti SMB untuk dibuat supaya masyarakat tahu sejarah masjid ini.

Menurutnya, nama Masjid Agung yang biasa dipanggil masyarakat selama ini sebenarnya itu bukan nama. Tetapi penyebutan untuk masjid. “Biasanya setiap kota memilik Masjid Agung (yang besar). Dan menyebutnya juga dengan nama Masjid Agung. Sama halnya dengan Masjid Agung Palembang,” tuturnya. Dengan nama itu, belum memberikan identitas atau nama yang jelas.

Ketua Pembina Yayasan Masjid Agung (YMA), Kms H Halim Ali menjelaskan. Cikal bakal pembangunan Masjid Agung Palembang memang diprakarsai SMB Jayo Wikramo atau SMB I Tahun 1758 Masehi. “SMB Jayo Wikramo dikenal sebagai sosok pemimpin yang alim dan soleh. Dengan segudang konsep pemikirannya yang modern,” katanya.

Pembangunan pertama kali butuh waktu kurang lebih 10 tahun. Dimulai peletakan batu pertama 1738 Masehi dan diresmikan 1748 Masehi. “Baru tahun 1999 atas prakarsa almarhum H Taufik Kiemas. Tokoh asal Sumsel sekaligus suami mantan Presiden RI, Hj Megawati Soekarnoputri melakukan renovasi besar-besaran terhadap masjid ini,” sebutnya.

Tapi renovasi tidak menghilangkan ciri khas masjid sebagaimana aslinya. Seperti keberadaan atap genteng berbentuk menyerupai tanduk kambing. Lalu mimbar terbuat dari kayu gaharu. Kayu yang apabila dibelah berbau wangi, dan sejumlah ciri khas lainnya.

Pada saat Gubernur Sumsel dijabat Rosihan Arsyad, renovasi menambah bangunan masjid di samping kiri, kanan, dan belakang bangunan utama. Awalnya, di lokasi tersebut hanya terdapat bangunan utama. Menara masjid sendiri dibangun sekitar tahun 1972,. Sumbangsih Dirut Pertamina saat itu, Ibnu Sutowo.

Sekretaris Pengawas Yayasan Masjid Agung (YMA) Palembang, Muhammad Syukri Sag SH menambahkan. Perubahan nama masjid diputuskan bersama oleh Dewan Pembina YMA dan tokoh masyarakat Palembang.

“Meskipun berubah nama tidak mengurangi fungsi serta jumlah jemaah yang beribadah di masjid,” tuturnya.

Menurut Syukri, Masjid SMB Jayo Wikramo sejak dulu tidak hanya menjadi pusat peribadatan warga Muslim di Palembang. Lebih dari itu, Masjid sebagai tempat menempa ilmu agama pada zaman Kesultanan Palembang. “Ini ditandai adanya jalan Guru-Guru. Atau sekarang lebih dikenal Jalan Faqih Jalaluddin di dekat masjid. Ceritanya, dulu di jalan itu bermukim banyak guru agama. Artinya masjid ini juga dulu dijadikan pusat pengembangan agama Islam di Palembang. Meskipun tidak dibuat institusi khusus,” pungkasnya. (kos/fad)

Komentar

Berita Lainnya