oleh

Mata-mata Israel Bebas, Hadiah Terakhir Trump Buat Israel

SUMEKS.CO – Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengatakan bahwa pengadilan AS telah membebaskan Jonathan Pollard, warga  Amerika yang dihukum karena memata-matai Israel dalam salah satu kasus spionase paling terkenal di akhir Perang Dingin.

Setelah dibebaskan dari ‘pembebasan bersyarat’ pada hari Jumat (20/11), Pollard diijinkan pindah ke Israel.

Keputusan Departemen Kehakiman AS itu mungkin menjadi salah satu hadiah terakhir dari pemerintahan Trump kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Kasus Pollard telah lama mengganggu hubungan kedua negara, dan kedua belah pihak kadang-kadang menggunakannya sebagai alat tawar-menawar diplomatik.

Pollard yang saat ini berusia 66 tahun, diberi kewarganegaraan Israel pada 1995 dan mengatakan dia akan pindah ke sana jika diizinkan.

Pengacaranya, Eliot Lauer dan Jacques Semmelman, mengatakan bahwa Pollard sekarang bebas untuk melakukan perjalanan ke Israel, meskipun mereka tidak mengatakan kapan dia akan pergi.

Pollard menjalani hukuman selama 30 tahun karena memberikan dokumen rahasia AS kepada Israel.

Dia ditangkap pada tahun 1985 dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dua tahun kemudian.

Pollar kemudian mendapat pembebasan bersyarat pada 2015. Pembatasan bersyarat tersebut, kata pengacaranya, telah menjadi hambatan yang tidak dapat diatasi pada kemampuan Tuan Pollard untuk mencari nafkah.

Israel berulang kali menekan Washington untuk membebaskan Pollard, menjadikannya salah satu masalah utama dalam hubungan bilateral kedua negara.

Jumat (20/11) pengadilan AS akhirnya membebaskan Pollard dan dengan demikian ‘pembebasan bersyarat’ telah selesai.

“Setelah meninjau kasus Tuan Pollard, Komisi Pembebasan Bersyarat AS menemukan bahwa tidak ada bukti yang menyimpulkan bahwa dia kemungkinan besar melanggar hukum,” kata Departemen Kehakiman, seperti dikutip dari AFP, Sabtu (21/11).

Pollard yang Yahudi adalah analis intelijen Angkatan Laut AS pada pertengahan 1980-an ketika dia melakukan kontak dengan seorang kolonel Israel di New York dan mulai mengirim rahasia AS ke negara yahudi itu dengan imbalan puluhan ribu dolar.

Dia menyerahkan ribuan dokumen penting AS ke Israel, membuat hubungan yang tegang antara dua sekutu dekat itu.

Serangan Israel Oktober 1985 di markas Organisasi Pembebasan Palestina di Tunisia yang menewaskan sekitar 60 orang, adalah rencanakan yang dilakukan dengan informasi yang diperoleh dari Pollard, menurut dokumen CIA yang dibuka pada tahun 2012.  (Reni Erina/RMOL.ID)

 

Komentar

Berita Lainnya