oleh

Matahari Department Store Catat Kerugian Rp 94 Miliar

JAKARTA – Matahari Department Store melaporkan penjualan kotor Q1-nya tahun ini yang hanya mencapai Rp2,7 triliun atau 18,1 persen lebih rendah dari Q1 tahun lalu. Imbasnya, pendapatan bersih turun 19,6 persen menjadi Rp1,54 triliun.

Pertumbuhan penjualan gerai yang sama (SSSG) tercatat negatif 18,2 persen dengan rugi bersih sebesar Rp 94 miliar.Meski perdagangan diawali dengan baik pada Maret, terjadi penurunan tajam pada pertengahan bulan tersebut seiring dampak menyeluruh pandemi COVID-19 yang dialami.

Perseroan secara proaktif menutup semua, kecuali tiga gerainya pada 30 Maret lalu. Semua saluran online, termasuk Matahari.com, tetap beroperasi dan kemampuannya terus ditingkatkan untuk melayani permintaan yang meningkat.

Setelah hampir tidak ada perdagangan melalui gerai fisik selama April, kemudian awal Mei bertahap buka kembali yang hingga kini telah operasional sebanyak 145 gerai.

”Penjualan telah memenuhi harapan kami hingga pertengahan Maret ketika dampak Covid-19 menekan perdagangan kami secara signifikan. Pada hari-hari terakhir di bulan Maret, kami melihat penurunan penjualan kami secara signifikan, sehingga penjualan di kuartal ini menurun 18,1 persen,” ujar Terry O’Connor, CEO dan Wakil Presiden Direktur Matahari, Selasa (30/6/2020).

Pihaknya menghadapi periode yang menantang ini dengan penuh kehati-hatian dan pertimbangan, dan jajaran senior kami berdedikasi penuh dalam menanggapi perubahan pasar dengan cepat.

“Kami tetap siap untuk mengambil tindakan lebih lanjut untuk memastikan Matahari bangkit dari krisis ini, ” tambah Terry.

Pihaknya juga merencanakan pembukaan 2-4 gerai di paruh kedua tahun ini. Saat ini, Matahari memiliki 153 gerai dan diharapkan bisa mencapai 145-150 gerai setelah menelaah portofolionya.

Demi mengurangi pengeluaran secara drastis, pihaknya telah meninjau semua biaya operasional yang bukan prioritas, termasuk bekerja sama dengan pemilik mal untuk pelonggaran biaya sewa.

Kemudian membatasi semua pengeluaran pemasaran di Q2 dengan pengeluaran terbatas di Q3, melarang perjalanan dinas, dan menghapus rencana belanja modal yang belum terikat (non-committed capital expenditures). (rei)

Komentar

Berita Lainnya