oleh

Melihat Kampung Kapitan, Destinasi Wisata Palembang

-Dunia-260 views

sumeks.co – Sudah beberapa tahun ini Kampung Kapitan menjadi lokasi Festival Cap Go Meh yang dilaksanakan Dinas Pariwisata Palembang bekerja sama dengan Kemenpar. Disebut Kampung Kapitan karena ini di kawasan ini terdapat rumah yang menjadi pusat pemerintahan Kapitan di masa penjajahan Belanda di abad ke-18.

DENDI ROMI – Palembang

Menuju Kampung Kapitan yang terletak di Jl KH Azhari kawasan 7 Ulu, Palembang ini begitu mudah aksesnya. Yakni menyusuri jalan di samping Jembatan Ampera yang berada di seberang Plaza Benteng Kuto Besak (BKB). Hanya saja jika menggunakan kendaraan, pelancong tidak bisa langsung memarkir kendaraannya di rumah tua Kapitan. Melainkan harus parkir dekat Restoran Kampung Kapitan dan berjalan kaki menuju rumaah tua Kapitan yang berjarak sekitar 200 meter.  Kendaraan bisa parkir di rumah tua Kapitan jika menyusuri Jl KH Azhari.

Pusat Festival Cap Go Meh Dinas Pariwisata Palembang sendiri dilaksanakan di dua rumah tua milik Kapitan. Berbagai lomba digelar dalam festival setiap tahunnya. Mulai dari lomba swafoto, karaoke lagu Mandarin, kuliner, dan berbagai lomba lainnya.

Wisatawan berpose dengan latar tempat sembahyang di rumah batu Kapitan
Wisatawan berpose dengan latar tempat sembahyang di rumah batu Kapitan. foto: dendi romi sumeks.co

Tahun ini Festival Cap Go Meh Kampung Kapitan digelar sejak Jumat 15-22 Februari. Rata-rata yang berkunjung ke Kampung Kapitan adalah etnis Tionghoa dari dalam maupun luar negeri.

Salah satu keturunan Kapitan Tjoa Ham Lim adalah Mulyadi yang saat ini menjadi juru kunci dua rumah tua yang menjadi pusat pemerintahan Kapitan. Mulyadi sendiri adalah keturunan ke-14 dari Kapitan. Ayahnya bernama Tjoa Ko Liem atau yang biasa disapa A Kohar.

Mulyadi menuturkan bahwa dua rumah tua yang menjadi pusat pemerintahan Kapitan didirikan tidak dalam waktu bersamaan. Rumah tua kayu didirikan pertama pada tahun 1600 dan rumah batu pada 1.800. Dua rumah tersebut letaknya bersebelahan dan sama-sama besar. Penghubung dua rumah tua tersebut adalah teras yang menyambung.

“Yang saya tahu dari cerita bapak (Tjoa Ko Liem), rumah batu didirikan pada tahun 1600 dan rumah batu pada tahun 1800,” kata Mulyadi mengawali perbincangan dengan sumeks.co, Ahad (17/2).

Mulyadi menunjukkan keputusan Gubernur Jenderal Belanda mengangkat Kapitan Tjoa Ham Lim
Mulyadi menunjukkan keputusan Gubernur Jenderal Belanda mengangkat Kapitan Tjoa Ham Lim. foto: dendi romi sumeks.co

Kapitan Tjoa Ham Lim lahir pada 1850 dan wafat pada 1921. Kapitan adalah jabatan setingkat wali kota yang diberikan pemerintah Belanda kepada orang kepercayaannya. Wilayah pemerintahannya meliputi seluruh kawasan Seberang Ulu. Sebelum diangkat sebagai Kapitan pada 1871, Tjoa Ham Lim menduduki jabatan Letnan pada 1861. “Kapitan ini bukan pangkat Kapten, melainkan jabatan setingkat wali kota,” terang Mulyadi.

Kendati menempatkan orang kepercayaannya sebagai Kapitan, pemerintah Belanda tidak memaksakan masalah agama kepada Kapitan Tjoa Ham Lim. Sang Kapitan tetap memeluk agama Konghucu yang biasa dianut etnis Tionghoa. Ini terlihat dari tersedianya tempat sembahyang di rumah kayu dan rumah batu yang menjadi tempat pusat pemerintahan. Setiap wisatawan yang berkunjung ke rumah Kapitan pasti akan berfoto dengan latar tempat sembahyang.

Pengangkatan Tjoa Ham Liem sebagai Kapitan dilakukan berdasarkan keputusan tertulis pemerintah Belanda yang ditandatangani gubernur jenderal masa itu. Sampai saat ini keputusan pengangkatan Kapitan Tjoa Ham Liem tersebut dipajang di dinding rumah kayu. Foto ukuran besar Kapitan Tjoa Ham Liem juga dipajang di dinding.
Baik rumah kayu maupun rumah batu masing-masing memiliki empat rumah kamar besar dan dua kamar kecil.

Kamar besar diperuntukkan bagi Kapitan dan keluarganya. Sedangkan kamar kecil digunakan untuk dayang-dayang atau tamu-tamu yang singgah berlayar melintasi Sungai Musi.

Kepala Dinas Pariwisata Palembang Kms Isnaini Madani menyatakan bahwa Festival Cap Go Meh sudah tahun kedua digelar di Kampung Kapitan. “Kampung Kapitan ini kita tetapkan sebagai salah satu destinasi wisata Palembang dan masuk cagar budaya. Karena itu Festival Cap Go Meh digelar di rumah Kapitan,” ujar Isnaini. (*)

Komentar

Berita Lainnya