oleh

Melihat Kondisi Rumah Sugiarto Pasca Diterjang Longsor

Sudah 3 Kali Dinding Rumah Jebol, 2020 Paling Parah

Musim hujan tiba, bencana alam mulai rawan terjadi. Terutama banjir dan tanah longsor. Kabupaten Empat Lawang merupakan daerah rawan kedua bencana tersebut. Bahkan akibat tanah longsor merusak rumah warga di Kampung Sawah Bawah, Kelurahan Jayaloka, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang milik Sugiarto, berikut laporannya.

Hendro – Empat Lawang

Akses menuju rumah Sugiarto (37) tidak bisa menggunakan sepeda motor, apalagi mobil. Karena harus melewati gang kecil dan meniti jembatan dari besi bekas rel kereta api.

Rumah Sugiarto cukup tinggi dari siring disebelahnya. Namun disebelah kanan rumahnya terdapat dinding tanah yang cukup tinggi, bahkan lebih tinggi dari rumahnya tersebut.

Tanah di sebelah kanan rumahnya itulah yang longsor pada Senin (18/1) sekitar pukul 03.00 Wib. Sehingga merusak dinding rumah bagian ruang tamu atau ruang keluarga. Hampir semua dinding bata roboh, hanya menyisahkan bata bagian atas dan sebelah kiri.

“Tanah longsor itu merusak dinding rumah. Material tanah longsor kemarin sampai masuk ke dalam rumah dan penuh lumpur,” kata Sugi, saat ditemui dirumahnya.

Saat kejadian longsor itu, dirinya tidak ada di rumah, sedang di kebun menjaga duku. Hanya ada istrinya, Teti (30) dan 6 anaknya saja di rumah. Karena malam itu sedang hujan lebat, anaknya yang pertama Risma (17) sudah merasakan akan adanya longsor.

“Malam itu hujannya awet dan cukup deras. Air di siring saja sudah tinggi,” ujarnya.

Risma yang merasakan adanya longsor langsung terjaga dati tidurnya. Lalu membangunkan adiknya Riska (14), ibunya dan adiknya yang lain. Sehingga material longsor tidak menimpa mereka.

“Pas longsor terjadi Risma cepat bangun dan langsung mengajak adiknya dan ibunya keluar rumah. Lalu minta tolong dengan tetangga sekitar,” katanya.

Sugi menceritakan, bahwa anaknya Risma itu memang sudah terbiasa mengurusi adiknya, bahkan ibunya yang dulu sakit stoke, Risma selalu merawatnya.

Longsor ini, kata Sugi sudah yang ketiga kalinya, pertama 2019 dan yang kedua awal 2020 lalu, yang kejadiannya lebih parah dari yang sekarang (2021, red). Kejadian 2020 lalu, dinding rumahnya sampai ke dapur roboh. Di dalam rumah penuh dengan material longsot

Bahkan anaknya Risma, mengalami luka dibadannya karena berusaha menyelamatkan ibu dan adik-adiknya. Saat itu ibunya sedang mengalami sakit gejala stroke.

“Sampai diliput wartawan tv yang kejadian 2020 lalu dan masuk berita tv. Karena lebih parah dari yang sekarang,” katanya.

Dengan adanya kejadian longsor ini, dirinya tidak begitu berharap adanya bantuan dari pemerintah. Sebab kejadian 2020 yang kebih parah dari sekarang saja tidak ada bantuan dari pemerintah.

Perbaikan rumahnya dulu, dilakukannya sendiri dan dibantu kerabatnya. Malah bantuan yang datang dari kawan-kawan anaknya di sekolah. “Kalau dari pemerintah tidak pernah ada. Pak Lurah sudah 2 kali datang. Kejadian 2020 lalu datang. Yang kemarin juga datang. Tapi tidak ada kejelasan bantuan,” cetusnya.

Sugiarto yang sudah sekitar 16 tahun tinggal di rumah itu, awalnya dulu tidak pernah lingsor. Karena tanah diatas itu masih banyak pohon-pohon besar. Sekarang sudah banyak ditebangi dan dijadikan kebun.

“Saya pernah beberapa kali disuruh pindah saja oleh warga. Saya sangat mau sekali pindah itu. Tapi mau pindah kemana, bangun rumah pakai apa. Harga tanah semeter saja sekarang sudah mahal,” kata Sugi yang bekerja serabutan ini. (eno)

Komentar

Berita Lainnya