oleh

Membedah Radikalisme dalam Dunia Pendidikan

SUMEKS.CO-Ada penegasan baru, dikemukakan Kombes Pol Ratno Kuncoro,S.Ik, M. Si dari Baintelkam Polri saat menjadi pemateri Seminar Nasional  bertemakan “Membersihkan Radikalisme dalam Dunia Pendidikan” yang digelar Mahasiswa Keguruan Indonesia (MKI) di Aula Pendopo kabupaten Garut.

Menurutnya, Indonesia sangat berpeluang menjadi negara besar yang diperhitungkan dunia. Mengapa?Karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa besar. Ini modal untuk mensejahterakan masyarakat dan untuk berkompetisi dengan negara maju lainnya.

Namun, harus meminimalkan kasus – kasus konflik yang ada. Misalnya kekerasan, radikalisme dan terorisme, seperti yang terjadi di beberapa belahan dunia saat ini.

Permasalahan konflik di Indonesia, katanya,  harus ditekan seminimal mungkin. Karena jika tidak, akan mempempengaruhi kelancaran jalannya pembangunan.

Saat ini yang terjadi adalah perang perebutan pengaruh dan sumber daya antar negara besar dunia, sehingga Indonesia harus menyiapkan diri dan agar tidak menjadi sasaran perang siber dan konflik antar negara. ‘’Kita ini sudah harus mengantisipasi perkembangan revolusi industri 4.0 serta society 5.0, karena kalau tidak, akan tertinggal dengan negara lain yang lebih siap,’’tegasnya.

Kejayaan Indonesia sudah di depan mata, tapi harus diraih dengan kerja keras dan kerja cerdas. Masa depan Indonesia penuh harapan tapi juga penuh tantangan besar. Tantangan yang dihadapi semakin berat

‘’Saya, menyatakan demikian karena pernah bertugas di beberapa wilayah yang dilanda konflik. Termasuk konflik yang timbul dengan mengatasnamakan perbedaan agama, suku, ras dan antar golongan, seperti di Bosnia, Timur Tengah, Poso, Papua,’’tegas Ratno yang kini masih tergabung dalam Satgas Nusantara.

Satgas Nusantara adalah sebuah satuan tugas yang dibentuk Kapolri, untuk memantau, mencegah dan menangani konflik yang terjadi di Indonesia. Satgas Nusantara terbukti berhasil mengelola konflik yang timbul saat Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.

Katanya, segenap elemen bangsa harus mengantisipasi, mencegah dan menangani ancaman gangguan kamtibmas, khususnya yang bersumber dari ancaman konseptual. Yakni, upaya terencana yang dikembangkan oleh pihak tertentu dengan tujuan menciptakan kondisi yang tidak kondusif terhadap kamtibmas dan gangguan pembangunan nasional.

Perlu diketahui, perkembangan permasalahan radikalisme dan terorisme, dimulai dari adanya intoleransi pasif, intoleransi aktif (ujaran kebencian, kebijakan diskriminatif, pelayanan publik diskriminatif). Lalu berkembang menjadi radikalisme (intoleransi aktif disertai ancaman kekerasan), kemudian kasus terorisme (yang merupakan kejahatan kemanusian).

Panitia Seminar memberikan penghargaan kepada pembicara.

Agama sebenarnya mengajarkan bagaimana memanusiakan manusia, tanpa memandang asal usul seseorang. Para pendiri dan tokoh bangsa telah banyak yang menyuarakan pentingnya menjaga NKRI, Kebinnekaan, saling menghargai adanya perbedaan. Jadikan perbedaan sebagai rahmat Allah SWT. ‘’Dan ingat kelompok radikal dan teror tidak jarang mengatasnamakan agama,’’tegasnya .

Kepada para peserta seminar, perwira yang pernah mengeyam pendidikan dan pelatihan anti terorisme dan intelijen CIA ini mengutip pernyataan Ken Setiawan dari NII Crisis Centre. Menurutnya ada cara mengidentifikasi radikalisme : Perubahan signifikan pada sikap mental yang mendua (split personality), karena harus hidup dalam dua dunia yang berbeda. Meninggalkan keluarga, sekolah atau kuliahnya karena kegiatan yang intens. Cenderung menjadi pribadi tertutup dan tertekan jiwanya, manipulatif, serta minim empati.

Dan tips mengatasi radikalisme ? Pelajari agama dengan paripurna kepada ahlinya. Kenali modus perekrutan gerakan radikal. Tolak dengan tegas bila mulai diajak kajian yang sembunyi – sembunyi. Berdialog / lapor kepada orang lain bila mendapatkan materi yang tidak dimengerti. Kritis walaupun dalam konteks agama, agar tidak mudah tersugesti, yang merupakan pintu awal perekrutan.

Upaya menanamkan nasionalisme : Membentuk wadah untuk anak muda Berdayakan komunitas. Pendekatan kearifan local. Perbanyak kompetisi bakat dan hiduplah yang berkualitas. (tim/cm)

Komentar

Berita Lainnya