oleh

Mencekam Satu Jam Teriak Antara Hidup dan Mati

Mereka Yang ikut dalam bus SRiwijaya Bengkulu- Palembang  yang terjun bebas ke dalam jurang Lematang tidak akan pernah berpikir maut sudah mendekati mereka dari 13 korban yang selamat 35 orang sementara ini dinyatakan Meninggal Dunia. Mereka yang hidup dan berhasil ke luar dari lobang maut.

ALMI DIANSYAH – PAGARALAM
DI dalam bus itu, Ridwan mendengar suara wanita beteriak. Dia pun terbangun dari tidurnya. Selanjutnya Ridwan merasakan bus Sriwijaya yang ditumpanginya jatuh dari atas ketinggian dan lalu berdebam di atas air. “Setelah itu saya tak ingat apa-apa lagi,”ujar Ridwan, 48 tahun, ketika ditemui di RSD Besemah.
Ridwan membuka matanya pelan-pelan. Lelaki asal Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu ini kaget lantaran mendapati tubuhnya terhampar di tepian sebuah sungai yang berbatu. Seluruh pakainnya basah, dingin pun membekap. Ia berusaha bangkit, tapi merasakan sekujur badan sakit. Juga ditambah dengan hawa dingin yang membekap. Ia pun hanya pasrah. “Saya berusaha berteriak mintak tolong,”ujarnya.

Ketika Ridwan sudah berada di tepian, Aril Geroti (14), warga Desa sedang berusaha mendobrak kaca jendela bus yang sudah tenggalam dalam air itu hingga pecah. Warga Desa Perajen Kecamatan Banyuasin I Kabupaten Banyuasin pun berhasil ke luar dengan selamat.

“Saya pukul pakai tangan dan kaki,”ujar pelajar kelas VII MI Pesantren Darussalam Unit X Bengkulu Utara ini. Aril lalu berenang dan memanjat bagian samping bus yang sudah bertukar posisi menjadi atas. Di sanalah ia berlindung.

Di atas badan mobil itu, bukan hanya ada Aril. Di sana jug ada Aldi Pratama (18), siswa kelas XI MA Ponpes Darussalam Unit X Bengkulu Utara. Sebagaimana Aril, Aldi berhasil ke luar dari dalam bus dengan cara menjebol jendela kaca. Aldi mengingat, selain dirinya dan Aril, terdapat sekira lima orang penumpang lainnya duduk di atas badan bus yang terbalik itu. Mereka pun bersama-sama berteriak mintak tolong. “Tolong-tolong,”ujar Aldi bercerita.

Malam itu (23/12), kecuali teriakan mintak tolong, yang terdengar adalah bunyi deburan air sungai yang memecah keheningan.

Dengan cepat Kusmanto menarik  perahu yang terbuat dari ban berbentuk bulat dengan hiasan karung itu. Malam itu (24/12) jarum jam menunjukkan pukul sekira 13.00 WIB. Di atas perahu ini terdapa jenazah yang sebelumnya ditarik ke luar dari dalam bus Sriwijaya yang tenggalam hampir separohnya di dalam Sungai Lematang itu.

“Ada juga korban yang berhasil menyelamatkan diri dan menunggu di atas badan bus. Mereka kami minta untuk masuk ke dalam perahu ban, lalu kami tarik sampai ke tepian,”tutur Kusmanto, anggota Satgas BPBD Pagaralam. Kusmanto mengingat, ada beberapa orang lagi yang diselamatkan dari tepian Sungai.

Sekira satu jam menunggu di atas tubuh bus di sungai itu, Aldi dan Aril, Ridwan memang langsung mendapatkan pertolongan dari tim SAR gabungan. Selain mereka bertiga, tim SAR gabungan juga berhasil mengevakuasi 13 orang lagi. “Total ada 13 korban yang selamat,”ujar Koordinator Pos SAR Pagaralam, Lettu (SAR) Alparis ZM SSos.

Ridwan sejatinya hendak mengunjungi saudaranya di kawasan Jalur Kabupaten Banyuasin. Sementara Aldi dan Aril hendak pulang kampung, untuk liburan pasca ujian sekolah. Aldi hendak pulang ke Jejawi Kabupaten OKI sedangkan Aril ke Desa Perajin Banyuasin. Dari Bengkulu mereka berangkat naik bus Sriwijaya itu, Selasa (14/12) sekira pukul 14.00 WIB.

Aldi mengingat, bus yang ditumpanginya itu sempat beberapa kali melaju dengan kecepatan tinggi. Puncaknya ketika masuk kawasan Liku Lematang Indah Pagaralam. “Sempat kencang lalu ngerem mendadak, lalu kencang lagi dan ngerem lagi,”tuturnya. Setelah itu Aldi merasakan mobil yang ditumpanginya menabrak sesuatu yang keras.

Dan bus bernomor polisi BD 7031 AM itu masuk jurang di liku Lematang Kelurahan Pelang Kenindai Kecamatan Dempo Tengah. Sebelumnya bus ini diduga menabrak dinding pembatas jalan. Innalillahi wainnailaihi rojiun. (*)

Komentar

Berita Lainnya