oleh

Mendengar Cerita Para Korban Terjebak Banjir Luapan Sungai Komering

Bertahan 4 Jam di Pondok Kebun, Selamatkan Diri Dengan Batang Pisang

SUMEKS.CO – Malam itu, tidak ada yang menyangka akan datang banjir bah naiknya arus sungai komering. Terutama bagi warga di lingkungan Rt 5 Talang Bandung Ilir Kelurahan Pasar Kecamatan Muaradua. Pasalnya cuaca sejak sore terpantau baik-baik saja disekitar Kota Muaradua.

Tidak ada intensitas hujan cukup tinggi yang berlangsung hanya gerimis gerimis kecik cukup sekedar membahasi tanah dan tanaman. Warga percaya saja jika air yang melintasi pemukiman itu tetap akan berlangsung normal, tidak akan meluap.

Namun ternyata siapa sangka, cuaca baik di hilir, ternyata cuaca ekstrim terjadi di bagian hulu sungai tepatnya diwilayah beberap kecamatan yang menjadi tempat sejumlah anak sungai besar bermuara ke sungai Komering.

Waktu terus  berjalan hingga pukul 02:00WIB Jum’at  dini hari kemarin, suara air berubah seperti naik dan mengepung pondok yang dihuni satu keluarga terdiri dari 4 jiwa yang kebetulan tinggal di kebun Talang Bandung Ilir.  Satu keluarga ini terjebak dan harus bertahan selama 4 jam menunggu dijemput atau air surut untuk bisa menyelamatkan diri.

Empat warga itu adalah Dewi, mantunya bernama Marlina, Cucu nya Raka dan Shiva yang sedang bermalam di tempat mereka. Untung naiknya air bah meluapnya sungai komering  tidak sampai menyentuh lantai pondok nya. Kebetulan pondoknya dibuat setinggi 3 meter dan hanya beberapa centimeter saja sisah ketinggian air bisa mencapai lantai.

Rasa takut was-was jika air terus naik membuat mereka mala itu tidak bisa tidur hingga matahari pagi mulai terang. Mereka tetap bertahan ditengah genangan banjir yang mengepung pondok mereka.

Dewi  salah satu warga terdampak Banjir menceritakan, malam itu cuaca bagus tidak ada tanda-tanda akan datangan musibah banjir bandang. “Kebetulan dua orang cucu kami menginap di pondok tempatnya tinggal kami malam itu,”uajrnya.

Ditengah lelap tidur, Ia mendengar suara seperti air mengalir di bawah pondok, lalu di lihat ternyata air sudah menggenangi di sekitar pondoknya. Rasa takut berkecamuk mengahntui mereka, pasalnya jika air terus naik hingga atas pondok, maka mereka semua akan terjebak dan terbawa arus air sungai.

Diceritakan Dewi meski air terus naik dan nayris menyentuh lantai rumahnya, namun arus air sangat tenanang. “Kejadian itu sekitar jam 2.00wib diniari, memang waktunya enak sekali tidur, jadi kita di bangunkan oleh suara air,”kata Dewi

Iapun mencoba meminta tolong, minta tolong dengan siapa karena jarak pondok dengan perkampungan lumayan jauh. “Kami hanya pasrah di pondok sambil berdoa kepada Allah untuk memehon perlindungan dari bencana ini. Kita tidak tidur sampai jam 6 pagi.”tuturnya.

Hingga akhirnya pukul 06:00WIB jumat pagi, ketika matahari sudah menerangi pagi air masih tinggi berkisar 1 meter. Tak lama datanglah anaknya menjemput untuk menyelamatkan diri dari kepungan banjir sungai komering.

Namun karena keterbatasan alat penjeputanpun dan tidak ada perahu penejputan dilakukan dengan menggunakan eks steropom hanya mampu menjemput satu orang yakni Raka. Dengan terpaksa ssembari menunggu penjemputan Dewi dan Shiva cucunya menyelamatkan diri sementara ke bukit dengan meninggalkan pondok.

Terlintaslah dibenak Dewi, bahwa Ia dan cucunya harus berupaya keluar dari Bajir dan menyelamtkan diri. Ia melihat batang pisang lalumenebangnya kemudian menaikkan cucunya mengarungi banjir. Perlahan Ia pun mengarungi benjir  dengan cucunya menepi hingga sampai ditepian dan keduanya berhasil selamat.

Sedang satu orang lagi Marlin, ayang masih terjebak di lokasi banjir dijemput oleh pihak keluarga. “Sepanjang malam itu rasa takut itu tak bisa kami bayangkan, saya dan cucu saya Shiva ini selalu berdoa untuk minta pertolongan Allah agar kami selamat dari bencana ini,”ujar Dewisetelah selamat dari banjir.

Dikatakannya air banjir tidak terlalu deras karena di kebon ini banyak batang-batang tanaman, sehingga air nya seperti kolam hanya menggenang, tapi tetap saja meski demikian membuat mereka pasrah dan dihantu ketakutan yang luarbiasa.

Setelah di jemput dari kebon tersebut, Dewi dan anak cucunya kembali ke rumah tua di kampung masjid untuk tinggal di sana,”Alhamdulillah kami sekeluarga selamat dari bencana banjir ini,”pungkasnya. (dwa/ant)

Komentar

Berita Lainnya