oleh

Mengapa Harus Khitan

Khitan pernah disyariatkan oleh Nabi Ibrahim AS salah satu tujuannya untuk sahnya ibadah shalat. Demikian pernah dijelaskan KH A Asrofi saat memberikan taushiyah .

Selain sebagai sarana sahnya shalat, khitan dikatakannya juga bertujuan untuk menghilangkan najis dan mengislamkan seorang hamba secara kaffah. Seorang anak yang melaksanakan khitan maka setelah itu ibadah shalatnya menjadi sah dan najis yang terdapat dikemaluannya segera hilang karena qulub (ujung kemaluan) telah dipotong.

Menurut Asrofi penceramah asal Jepara, khitan yang dilaksanakan saat ini tentu sangat berbeda pada era kenabian. Waktu itu, sesuai keterangannya Nabi Ibrahim melakukan khitan pada usia 80 tahun. Untuk memotong kemaluannya, tambahnya dilakukan sendiri dan menggunakan alat pemotong yang besar.

Dikakatan bagian dari syari’at Nabi Ibrahim, karena merupakan representasi dari jiwa pengorbanan dan sekaligus kebersihan atau kefitrahan manusia. Sebagaimana keterangan sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim sebagai berikut: “Fitrah itu ada lima; khitan, mencukur rambut kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan memotong kumis.”

Khitan secara etimologis ialah bentuk fiil madhi dari “khatana” yang memiliki makna memotong. Sedangkan secara terminologi menurut ulama fikih madzhab Syafi’i ialah memotong “kulfah”, kulit yang membungkus bagian ujung dzakar sehingga menjadi terbuka, khususnya bagi laki-laki. Sedangkan bagi perempuan ialah memotong bagian bawah kulit yang disebut nawat yang berada di bagian atas farj (kemaluan perempuan).

Lebih dari itu, khitan menurut pandangan ulama madzhab Syafi’i hukumnya wajib baik bagi laki-laki maupun perempuan. Sebagaimana pendapat ulama madzhab Hambali. Sedangkan menurut pendapat ulama madzhab Hanafi dan Maliki hukumnya sunnah bagi laki-laki dan dianjurkan bagi perempuan.

Lalu, apa saja persyaratan sah dalam melakukan khitan? Dalam kitab-kitab fikih tidak ditemui persyaratan sah dalam khitan secara eskplisit, akan tetapi terdapat cara dalam khitan tersendiri. Sebagaimana pendapat ulama madzhab Syafi’i, bahwasanya khitan itu wajib dilaksanakan setelah baligh (dewasa).

Namun, pelaksanaannya juga sunah dilakukan pada saat bayi berumur tujuh hari dari kelahirannya, terkecuali keadaan bayi tersebut lemah yang dikhawatirkan akan berdampak buruk padanya, maka pelaksanaannya bisa ditunda sampai ia dewasa.

ويستحب عند الشافعية أن يكون الختان في اليوم السابع من ولادته، لما أخرجه البيهقي عن عائشة: « أن النبي صلّى الله عليه وسلم ختن الحسن والحسين يوم السابع من ولادتهما»

Menurut ulama madzhab Syafi’i disunnahkan melaksanakan khitan pada hari ke tujuh dari kelahiran bayi, sebagaimana hadis riwayat Imam Baihaqi dari Aisyah: sesungguhnya Nabi Saw mengkhitan Hasan dan Husain di hari ke tujuh dari hari kelahirannya.” (Al Fiqh al Islami wa Adillatuhu juz 4 halaman 289)

Selain itu, disunahkan dalam mengkhitan bagi laki-laki adalah meliputi pangkal kuluf (kulit yang menutupi pucuk zakar sehingga tidak ada tersisa kulit yang tergantung). Atas dasar itu, maka mengkhitan laki-laki adalah memotong kulit kuluf yang menutupi pucuk zakar (hasyafah)sehingga tidak ada lagi kotoran yang berkumpul di bawahnya, dan manusia merasakan kebebasan dalam buang air.

Sedangkan khitan bagi perempuan itu dengan memotong kulit yang menutupi bagian atas farjinya, di atas tempat masukanya zakar. Bentuknya seperti jengger ayam jantan. Yang wajib dipotong adalah kulit bagian atasnya tanpa mencabutnya (tanpa menghilangkan semuanya).

Jadi hikmah Khitan 1. Khitan merupakan kemulian syariat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala peruntukkan untuk hambaNya, memperbagus keindahan zhahir dan bathin, menyempurnakan agama. Khitan merupakan celupan dan tanda Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hambaNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةًَ

“Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah?” [al Baqarah : 138].

2. Sebagai tanda ‘ubudiah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana dahulu, bahwa memberi tanda pada telinga atau badan pada budak sahaya sebagai pertanda penghambaan diri mereka kepada majikannya. Jika budak tersebut lari dari majikannya, ia dikembalikan kepadanya melalui perantara tanda tersebut.

Maka tidak ada yang mengingkari, barangsiapa yang telah berkhitan dengan memotong kulit tersebut, berarti dia telah menghambakan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga semua orang mengetahui, barangsiapa yang melakukan khitan, berarti dia adalah hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Khitan merupakan kesucian, kebersihan dan hiasan bagi hambaNya yang hanif.
4. Dengan berkhitan -terutama seorang wanita- dapat menetralkan nafsu syahwat. Jika dibiarkan tidak berkhitan, maka akan sejajar dengan perilaku hewan. Dan jika dipotong habis, maka membuat dia akan sama dengan benda mati, tidak mempunyai rasa. Oleh karenanya, kita mendapatkan, orang yang tidak berkhitan, baik dia laki-laki maupun perempuan, tidak puas dengan jima` (hiperseks). Dan sebaliknya, kesalahan ketika mengkhitan bagi wanita, dapat membuatnya menjadi dingin terhadap laki-laki.
5. Bagi wanita yang berkhitan dapat mencerahkan wajah dan memuaskan pasangan.

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ اْلَأنْصَارِيَة أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تًخْتِنُ بِالْمَدِيْنَةَ فَقَالَ لَهَا النَّبِي صلى الله عليه وسلم : لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى اْلبَعْلِ

“Dalam hadits Ummu `Athiah, bahwa seorang wanita di Madinah berprofesi sebagai pengkhitan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Janganlah dihabiskan. Sesungguhnya, itu akan menguntungkan wanita dan lebih dicintai suami” [11]
6. Setan berdiam pada tempat-tempat yang kotor, termasuk pada kulit yang tidak berkhitan. Setan meniupkan pada kemaluannya, yang tidak dia tiup pada orang yang berkhitan.(almanhaj, nuonline, tebuirengonline)

 

Komentar

Berita Lainnya