oleh

Menjaga Nilai Kebhinekaan Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

-Edukasi-197 views

PALEMBANG – Menjaga Kebhinekaan Sangat penting dalam membangun bangsa Indonesia kedepan. Sehingga sangat wajar jika kembali mempelajari kebudayaan Sriwijaya. Sebab dimasa lalu, kerajaan Sriwijaya mampu mengelola Nusantara yang beragam secara damai dan sejahtera.

Yah, jika dilihat secara perspektif historis, rasa toleransi, rasa senasib sepenanggungan dan kehendak mewujudkan cita-cita besama. Melampaui sekat-sekat primodialisme, sesungguhnya sudah tumbuh menjadi ciri khas masyarakat kawasan nusantara jauh sejak jaman purbakala atau sejak masa kerajaan Sriwijaya.

Dr. LR. Retno Susanti, M. Hum, Guru besar FKIP Program Sejarah Universitas Sriwijaya mengatakan ada banyak bukti yang menjelaskan bahwa kerajaaan Sriwijaya sendiri sudah menerima keberagaman dari Agama, budaya dan lainya secara damai kala dimasa itu.

Seperti banyaknya peninggalan, candi Hindu (ayu, teluk kijing) prasasti batu kapur yang baru ditemukan. Hingga sejarah kedatuan Sriwijaya, yang mendukung dalam penyebaran Agama Islam masa itu, padahal raja-raja Sriwijaya merupakan penganut agama Budha. Menjadi bukti penguasa kerajaan kala itu, memang jauh menganut nilai demokrasi yang besar.

“Jadi gambaranya, meskipun raja-raja Sriwijaya saat itu dikenal sangat keras. Namun meraka selalu menerima apapun, sepeninggal itu baik untuk para rakyatnya,” terangnya disela seminar sehari. Mengangkat tema Bingkai kebhinekaan menuju kedulatan sriwijaya” ditama  wisata dan Kerajaan Sriwijaya (19/6).

Bukti-bukti sejarah ini juga yang kemudian bisa dikolerasikan, bahwa memang nilai-nilai toleransi besar dan keberagaman sebenarnya sudah ada dari zaman pra sejarah. Indonesia yang menjadi titik pertemuan peradaban dunia berasal dari Cina (Tiongkok), India, Persia temasuk para pemeluk agama Hindu, Budha dan Islam semuanya bisa hidup rukun dan damai pada masa lalu.

“Pesannya tentu, kita harapkan kedepan nilai-nilai ini kembali harus kita pegang kuat dan belajar dari sejarah,” jelasnya.

Sementara itu, Arkeolog Palembang Dr. Wahyu Rizky Andhifani, bukti nilai keberagamaan di kerajaan Sriwijaya memang bisa dilihat dari bayaknya peninggalan prasasti. Kota kapur atau Junggut misalnya, yang ditaklukan kerajaan Sriwijaya.

Namun, lanjut Rizky, inilah hebatnya Sriwijaya, dimana setiap daerah wilayah jajahan selalu tidak pernah memaksakan masyarakatnya untuk menganut agama yang dibawa. Antara Hindu, Budha, ataupun Islan bisa berjalan dengan baik dalam keberagaman.

“Keberagaman ini, diperkirakan sudah masuk sejak abad 8, 9 dan 10 namun diperkuat prasasti-prasasti abad 7, juga jadi bukti awal kebagagaman tampaknya sudah berjalan,” tambahnya. (cj11)

Komentar

Berita Lainnya