oleh

Menunda Hepi, Melawan Boring

“Harus uplifting. Itu saja pesanku.”

Ah, betapa sulitnya menulis kolom Happy Wednesday di tengah situasi global seperti ini. Di saat semua orang (seharusnya) menghabiskan begitu banyak waktu di rumah, menerapkan sebisa mungkin social distancing.

Pesan di awal tulisan ini datang dari seorang sahabat. Yang mewanti-wanti supaya apa pun tulisan saya harus mampu memberi semangat. Bukan sesuatu yang mudah!

Buka berita online, yang pertama muncul langsung soal virus yang satu itu. BukaYouTube juga sama. Bahkan, percakapan dengan orang via WA pun tak jauh-jauh dari itu.

Grup WA teman-teman sepeda, yang biasanya isinya bully-bully-an dan canda, sekarang juga ramainya soal virus satu itu. Postingan dan forward-an bercanda khas Indonesia pun tak jauh dari masalah virus itu.

Semua yang berkaitan dengan SEKARANG selalu nyenggol virus itu.

Makin geleng-geleng kalau memikirkan ke depan. Wong ke depan sejauh apa saja tidak ada yang berani memperkirakan.

Semua kesukaan saya tidak ada yang tahu ke depannya seperti apa.

Formula 1 sampai hari ini belum tahu kapan musim 2020 dimulai. Grand Prix Monaco akhir Mei resmi di-cancel. Grand Prix Azerbaijan pada awal Juni sudah minta ditunda. Grand Prix Kanada pertengahan Juni kemungkinan besar juga minta dibatalkan atau tunda. Jadi, no F1 sampai mungkin Juli. Kalau jadi.

Balap sepeda? Giro d’Italia di bulan Mei sudah pasti ditunda, entah sampai kapan. Tour de France, yang berlangsung akhir Juni sampai pertengahan Juli, sekarang masih pusing mau ngapain.

Olimpiade Tokyo, yang seharusnya dimulai Juli, tampaknya juga bakal ditunda. Entah ditunda kapan.

Itu berarti, semua hal besar yang seharusnya berlangsung pertengahan tahun pun sudah angkat tangan.

Tinggal menunggu sikap tegas liga sepak bola Indonesia saja. Yang menurut saya harus punya beberapa opsi tegas. Kalau menunda sudah pasti minimal dua bulan, mengingat Mei itu Ramadan dan Idul Fitri. Dan kita semua tidak boleh mengabaikan konsekuensi terburuk: Liga dibatalkan daripada dipaksakan. Walau tidak ada yang mau begitu.

Saya dan beberapa teman juga sudah siap kalau harus menunda rencana kita yang paling “hepi” tahun ini. Terbang ke Kansas akhir Mei, ikut balapan sepeda yang sekarang dianggap paling gila. Namanya Dirty Kanza 200.

Hampir tiga tahun sudah saya ingin ikut balapan itu. Balapan gravel (jalan makadam) sejauh 200 mil alias 300 km lebih (jarak resminya 322 km, 95 persen jalanan kerikil). Diberi batasan waktu 21 jam. Harus self supported, artinya harus mengatasi sendiri kalau ada masalah teknis. Salah satu event sepeda paling gila di dunia!

Kenapa hampir tiga tahun, karena tidak mudah untuk mendaftarnya. Harus masuk daftar lotere. Dan Januari 2020 lalu, saya dan dua teman lain dari Indonesia diterima ikut lomba!

Alangkah bahagianya kami ketika surat itu masuk.

“Azrul, kami akan menemuimu pada 28-31 Mei, di garis start 2020 Garmin Dirty Kanza. Benar! Selamat! Namamu telah dipilih untuk ikut mencoba menaklukkan rute gravel terbaik yang kami siapkan!”

Pesawat sudah di-booking. Lain-lain sudah disiapkan.

Program latihan pun kami siapkan. Bakal sering gowes 300 km dalam sehari. Bisa keliling Pulau Madura atau Surabaya-Madiun PP.

Ahhhh, lalu virus ini datang.

Secara resmi event itu belum dibatalkan. Menunggu 1 Mei katanya. Tapi kami sudah siap menghadapi keputusan terburuk. Menunda hepi lagi sampai tahun depan.

Mungkin ini yang dirasakan Dokter Tommy, dokter tim Persebaya yang terbiasa ikut lari marathon. Tahun ini dia untuk kali pertama diterima ikut Tokyo Marathon. Tapi kemudian batal gara-gara virus itu.

Sekarang, benar-benar sulit untuk menulis yang uplifting.

Tapi, memang ada sisi unik dari masa-masa “tahanan rumah” ini. Aneh melihat tiga anak saya sekolah di rumah. Meja makan jadi meja sekolah. Masing-masing di depan laptop, pagi sampai sore.

Saya dan istri, yang sama-sama hobi olahraga, jadi banyak olahraga di rumah. Bersepeda pakai indoor trainer, atau dia melakukan yoga dll. Saya sampaidownload tiga aplikasi bersepeda indoor. Sebelumnya punya Zwift dan Trainerroad, sekarang tambah satu lagi Sufferfest.

Dan, sekarang saya harus kreatif. Karena anak-anak saya tiap malam minta Movie Night. Rupanya mereka suka film-film pilihan saya. Antara yang di Netflix atau dari koleksi DVD yang ada di rumah.

Demi menghindari tontonan lain yang bikin tidak enak hati.

Nang oma rong minggu. Ndelok tipi lek gak isine berita corona yo sinetron tangis-tangisan…” (Di dalam rumah dua minggu. Lihat televisi kalau isinya bukan berita corona ya sinetron tangis-tangisan). Begitu posting seorang teman di grup WA sepeda saya.

Film-film apa saja yang sudah kami tonton bareng? Hari pertama, Contagion. Mereka tidak suka. Wkwkwk

Kemudian, saya mengambil koleksi lama saya.

Anak-anak saya ajak nonton Little Giants. Komedi olahraga anak-anak, tentang sekelompok anak yang tidak dipilih masuk tim Peewee Football (American Football untuk anak-anak), lalu bikin tim sendiri. Film keluaran 1994 ini sukses membuat mereka tertawa terbahak-bahak.

Pilihan selanjutnya: Cool Runnings keluaran 1993. Lagi-lagi komedi olahraga. Tentang tim bobsled asal Jamaica. Sukses lagi. Anak-anak tertawa terbahak-bahak.

Untuk hari-hari ke depan, saya sudah memilah-milah pilihan lain. Ada The Little Rascals (1993), juga Baby’s Day Out (1994).

Plus, rasanya sudah waktunya anak-anak saya menonton aksi aktor favorit saya Tom Hanks, dalam film komedi keluaran 1988 berjudul Big.

Just in case hidup menjadi terlalu boring, istri saya sudah siap-siap “senjata tambahan.” Kami beli permainan Monopoli, lalu beli beberapa puzzle 1.000 piecesyang siap menyibukkan mereka (juga kita).

Karena tetap harus ada opsi-opsi yang memaksa anak-anak jauh dari gadget. (azrul ananda)

Komentar

Berita Lainnya