oleh

Meski Tiket Mahal, ASITA Masih Yakin Target 20 Juta Wisman Tercapai

JAKARTA – Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia atau ASITA menggelar halal bi halal di Gedung Sapta Pesona Kementrian Pariwisata, senin (1/7). Acara ini dihadiri perwakilan perusahaan perjalanan dari seluruh provinsi di Indonesia. Acara asosiasi yang beranggotakan 7.000 travel agent ini menjadi lebih wah karena dibumbui acara Rembuk Nasional dengan tema “Tantangan Pencapaian Target 20 Juta Wisman di Tahun 2020”.

Diakui Ketum ASITA N. Rusmiati, kondisi pariwisata saat ini terkena imbas dari mahalnya harga tiket pesawat. Situasi ini tentu tidak bagus untuk mensukseskan target 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) untuk kunjungi Indonesia tahun ini. Diharapkan, melalui rembuk nasional ini masalah tersebut terpecahkan. “Harga tiket mahal memang pengaruhi aktivitas penjualan. Tapi di sinilah kita dituntut lebih kreatif,” ungkap Rusmiati.

“Saya berharap, seluruh anggota ASITA manfaatkan momentum rembuk nasional ini lebih luas untuk berdialog. Apa yang dimau dibicarakan. Anggota juga bisa tanya langsung ke narasumber sehingga kita bisa evaluasi dan apa next stepnya,” lanjutnya.

Terkait harga tiket yang mahal, Rusmiati berharap penurunan tiket bisa lebih dari 30 persen. Apalagi kelas ekonomi ada delapan tahap. “Seharusnya airline itu cukup perlakukan lagi harga terbawah, misal victor class walau pun gak banyak. Kita tahu kok harga gak terlalu banyak, tapi bisa diperlakukan dari victor class karena yang ada cuma yankee class. Sebenarnya gak masalah dengan average 30 persen tapi tolong perlakukan lagi semua kelas sedikit-sedikit.

Kita biasakan orang Indonesia punya planing,” ucapnya. Namun demikian, Rusmiati menegaskan keyakinannya terhadap pariwisata Indonesia bakal kembali menggeliat. Apalagi Mentri Pariwisata Arief Yahya mendukung penuh kegiatan ASITA. “Tanpa dukungan saja kita harus bekerja dan promosikan pariwisata seluruh Indonesia di 34 provinsi karena itu dapur kita.  Apalagi sekarang didukung penuh Pek Mentri.

Karena itu, kita harus optimis target 20 juta wisman tetap akan tercapai dengan kerja keras dan fokus,” terang wanita yang sudah 25 tahun geluti travel agent. Optimisme itu semakin menebal karena Pemerintah sangat mendukung perkembangan pariwisata Indonesia.

Apalagi Presiden Republik Indonesia Joko Widodo memandang dunia pariwisata efektif sebagai mesin penyumbang devisa negara. “Rembuk nasional ini ada dua hal yang dibicarakan. Tiket mahal dan bagaimana hadapi utang. Kita tahu respons masih kurang bagus dengan penurunan tiket rata-rata 30 persen karena kenaikannya hampir 200 persen.

Apalagi masyarakat itu tahunya harga yang tertera. Ini butuh inovasi. Tapi ingat, setiap inovasi pasti akan memunculkan konfrontasi,” ucap Menpar Arief Yahya. (kmd)

Komentar

Berita Lainnya