oleh

Modus, Sabu di Selangkangan

-Hukum-786 views
PALEMBANG – Tujuh kurir narkoba jaringan Jawa Barat (Jabar) digulung di Palembang. Disita barang bukti 5,9 kg sabu dari mereka yang rencananya akan dibawa ke Kendali, Sulawesi Tenggara. Terbongkarnya komplotan ini berawal dari tertangkapnya Eka Chandra Hidayatullah (23), warga Garut, di pintu pemeriksaan pertama Bandara SMB II Palembang. Darinya didapati 650 gram sabu. Kemudian, didapatkan pula 2 kg sabu pada tempat sampah di lantai 2.

“Mereka ini ternyata pecah jadi dua kelompok. Jemput sabu 10 kg untuk dibawa ke luar Sumsel,” beber Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain. Rinciannya, Eka bersama Rizki (27), Ribut Haryanto (49), Nova Nuryana (25), Asep Erik Mulyana (30), Diki Purnama (20). Dan Dedek Enjang (25). Membawa 5,9 kg sabu.

Sedangkan sabu seberat 4.1 kg dibawa Darman (32) dengan tujuan Kendari Sulawesi Tenggara. Darman sudah lebih dulu ditangkap di Bandara Kendari. Dalam pengembangan, usai menangkap Chandra, jajaran Ditres Narkoba Polda Sumsel memangkap Nova Nuryana (25). Asep Erik Mulyana (30), Diki Purnama (20) dan Dedek Enjang (25), warga Jawa Barat.

Mereka ditangkap di Stasiun Kereta Api (KA) Kertapati, pukul 19.30 WIB. Rencana mereka akan ke Lampung. Disita lima paket sabu seberat 3,2 kg dari mereka. Selain itu, Polda koordinasi Polres OKI. Sekitar pukul 23.50 WIB ditangkaplah Ribut Haryanto (49) dan Rizki (27), warga Kota Bandung, Jawa Barat. Tak ditemukan barang bukti.

“Modus mereka mirip dengan modus jaringan Letto Cs. memalsukan KTP,” ungkap Kapolda didampingi Diresnarkoba Polda Sumsel Kombes Pol Farman. Mereka meletakkan sabu di selangkangan. Saat di bandara, petugas curiga dengan cara berjalan Chandra.

Lanjut Kapolda, ketika dibawa ke toilet, tersangka ini berupaya untuk membuang barang bukti 673 gram sabu. Dari situ, pihak bandara berkoordinasi dengan Polda Sumsel dan dilakukan pengembangan.  Tersangka Chandra sempat berkelit kepada polisi untuk menunjukan teman-temannya. Setelah diperiksa secara detil, ternyata satu orang sudah berhasil terbang ke Kendari. Dari situlah, dilakukan koordinasi dan akhirnya Darman ditangkap saat turun dari atas pesawat di Kendari.

Pengembangan kembali dilakukan untuk menangkap enam orang lainnya yang masih berada di wilayah Sumsel. Eka mengaku, bila keempat temannya sudah berangkat dari stasiun kereta api (KA) Kertapati. Sekitar pukul 19.30 WIB dilakukan pengejaran. Dan di Stasiun Besar Kertapati ditangkap Nova Nuryana, Asep Erik Mulyana, Diki Purnama dan Deden Enjang, dengan membawa lima bungkus sabu yang dilakban berwarna coklat seberat 3,2 kg.

“Dari keterangan mereka berempat ini. Ternyata tiga bungkus sabu yang dilakban berwarna cokelat sudah dibuang di toilet Bandara SMB II dengan berat 2 kg,” ujarnya.

Dari hasil interogasi lagi, ternyata masih ada dua orang lagi rekannya yang hendak menuju Lampung. Dengan jalan darat menggunakan mobil rental. Setelah berkordinasi dengan Polres OKI, sekitar pukul 23.50 WIB dilakukan razia kendaraan. Ddan tertangkaplah dua orang yakni Ribut Haryanto dan Rizki. “Mereka ini diduga masih masuk jaringan Letto dan modus yang digunakan sama. Dengan menggunakan KTP palsu, mereka bisa masuk ke bandara. Dengan membawa narkoba yang disimpan di selangkangan, “ tandas Kapolda.

Dia juga berterima kasih atas bantuan Avsec dan Lanud. Ssehingga berhasil mengungkap jaringan ini. Pengakuan para pelaku yang tertangkap sungguh mencengangkan. Noval (25) misalnya. Warga Jawa Barat ini sudah berulang kali melakukan mengambil narkoba jenis sabu di Palembang dengan jalur udara.

Pengakuan Noval, seperti yang dikatakan Nova Nuryana (25), ia sudah 13 kali mengambil dan membawa narkoba jenis sabu. Dan yang ke-14 kali ini sial baginya karena tertangkap saat sedang berada di Stasiun Kertapati. Dimana rencananya sabu yang sudah ia dapatkan akan dibawa ke Lampung.

“Saya sudah dapat upah Rp20 juta untuk bawa sabu-sabu ini ke Kendari,” katanya di Mapolda Sumsel, Jumat (22/2). Baru tiga bulan dia jadi kurir sabu. Dalam sebulan, bisa dua kali atau lebih lakukan pengiriman sabu.

“Kirim ke Lampung-Surabaya, lalu Padang-Bali. Yang ini Palembang-Kendari,” katanya. Karena sabu itu diletakkan di selangkangan, beratnya sengaja dikemas tidak sampai 1 kg. Pernah juga komplotan ini membawa sabu itu dalam koper. Cukup dilapisi baju sehingga tidak terdeteksi X-Ray.

“Mereka ini tidak pakai benda-benda dari bahan logam seperti jam tangan atau pun IR. Sehingga H-Ray tidak berbunyi sedikit pun. Menurut Nova, dia, Diki dan Dedek teman satu kampung. Sedangkan Eka Chandra Hidayatullah (23), Asep Erik Mulyana (28), Riski (28) dan Ribut Haryanto (49) itu bertemu saat akan ke mengambil barang di Palembang. “Kami tiba di Palembang ini hari Selasa dan menginap di dua hotel berbintang. Mereka menginap di dua hotel berbintang. Untuk barangnya ambil di Hotel Sentosa,” tuturnya.

Tiap kali berangkat, komplotan ini selalu gunakan KTP palsu yang digunakan, Nova menuturkan bahwa setiap kali berangkat selalu membuat KTP baru agar tidak curiga. “ Kalau mau berangkat pasti buat KTP baru,” ujarnya.

Ketika ditanya lagi kenapa pembayarannya lebih besar dibandingkan ke enam temannya. Bapak satu anak ini menjawab bahwa ia merupakan kaki pertama. Jadi, karena itulah dia mendapatkan upah lebih besar dibandingkan rekan-rekannya.

Nova mengaku berkecimpung dalam bisnis narkoba karena tergiur dengan pembayaran yang cukup mahal. “Saya punya rental PS di Garut. Dan saya tidak menggunakan sabu hanya saja saya tergiur dengan bayaran yang cukup banyak itu,” pungkasnya.

Sedangkan Eka Chandra Hidayatullah (23) mengaku ia baru tiga kali mengantarkan narkoba jenis sabu dari Palembang ke Palu. “Dari Bandung ke Palembang, dari Palembang ke Palu dan upahnya Rp8 juta ,” katanya.

Menurut warga Desa Cibeber, Kecamatan Cikalong, Jabar ini dari Bandung ke Palembang naik Maskapai Lion Air. Dan dari Bandung, mereka bertujuh naik pesawat. Tiba di bandara, mereka berpencar. “Kalau barang sudah sampai di Pulua Jawa, baru dibayar Rp8 juta, tapi ini keburu ditangkap jadi belum dapat pembayaran,” tuturnya. (wly/ce1)

Komentar

Berita Lainnya