oleh

Nazar Terkabul, Potong Kambing Tengah Malam

RIBUAN warga Tionghoa dan pribumi memadati Pulo Kemaro (Pulau Kemarau). Mereka tak hanya warga lokal, banyak juga orang luar kota dan negeri yang sengaja datang. Perayaaan Cap Go Meh 2019 jadi momen kunjungan.
——————————————————————–

UNTUK menyeberang ke Pulo Kemaro, selain lewat jembatan ponton dekat Bogasari, Sei Selayur, Kalidoni. Pengunjung juga bisa naik kapal atau tongkang pulang pergi secara gratis. Lokasinya berada di Dermaga Kelenteng Hong Tiong Bio (Serikat), Lr Lais, 16 Ilir, Palembang.

Koran ini pun berkunjung ke sana, sekitar pukul 14.00 WIB, kemarin (17/2). Lorong Lais betul-betul sudah padat orang-orang yang mau ke Pulo Kemaro. Mereka menuju dermaga yang ada di pesisir Sungai Musi. Atau depan pasar kuliner 16 Ilir. Di sana, ada tiga kapal ponton bersandar. Bagian depan terpampang spanduk bertuliskan “Angkutan Cap Go Meh”. Kapal itu, dilengkapi tenda, tempat duduk kursi plastik berjejer, lengkap dengan lampion dan pernak-pernik khas Tionghoa.

Puluhan penumpang tampak menunggu kapal berlayar ke Pulo Kemaro. Mereka sembari menikmati musik yang disetel panitia dan atraksi barongsai. Tapi, karena menunggu terlalu lama, ada penumpang yang kemudian memilih naik speedboat dan ketek. Setelah penumpang cukup penuh mencapai 200-an orang. Barulah tugboat menarik kapal ponton berangkat menuju Pulo Kemaro.

Di sana ada Felix (35), warga Tionghoa dari Jakarta. Dia sengaja datang ke Palembang untuk rayakan Cap Go Meh di Pulo Kemaro. “Keluarga besar juga banyak di Palembang, jadi mau rayakan bersama,” katanya. Apalagi, dia tak berangkat sendiri, juga membawa teman-temannya dari Jakarta. “Saya ceritakan kalau Pulo Kemaro itu selalu ramai tiap Cap Go Meh. Ada legenda Tan Bun An dan Siti Fatimah di sana. Mereka jadi tertarik,” imbuhnya.

Sementara Aina (42), warga Tionghoa asal Selangor, Malaysia mengaku setiap tahun selalu datang ke Pulo Kemaro memohon doa dan sembahyang ke Dewa Bumi. “Perayaan Cap Go Meh di pulau ini cukup terkenal. Saya ke sini tidak sendiri, juga membawa teman,” ujarnya. Yang buat dia terpaut karena sebelumnya sempat punya nazar dan bersembahyang di Kelenteng Hok Ceng Bio. Meminta rezeki dan kesuksesan usaha travelnya. “Dan nazar terkabul, jadi saya datang lagi ke sini,” ujarnya.

Prosesi puncak Cap Go Meh di Pulo Kemaro sendiri berlangsung pukul 24.00 WIB. Di sana, ratusan warga Tionghoa pun ikut ritual sembahyang untuk Thien atau Tuhan Yang Maha Esa dan Dewa Bumi. Lalu ada seekor kambing yang dikurbankan di depan altar Buyut Siti Fatimah. “Tadi dibagikan angpau merah berisi koin. Semoga selalu beruntung,” harap Han (32) usai sembahyang, tadi malam (17/2).

Wakil Ketua Majelis Rohaniawan Tri Dharma Indonesia (Matrisia) Komda Sumsel, Harun, menjelaskan. Orang luar hingga dari mancanegara datang, bukan karena melihat pulaunya. “Tapi dewanya, Dewa Bumi yang karismatik dan punya petuah. Menguasai kita punya kantong, rezeki,” ujarnya.

Jadi mereka yang datang memohon rezeki sepanjang tahun berjalan. “Ini kadang-kadang mereka punya nazar (niat), kalau berhasil mereka datang lagi. Dan kemungkinan yang datang ini 90 persen nazar mereka berhasil dan doanya terkabul,” ujarnya. Nah, mereka datang bahkan tak sendiri, juga mengajak teman-temannya.

Diakuinya, puncak perayaan Cap Go Meh memang di Pulo Kemaro. “Kalau suatu tempat banyak yang datang dan minta doa. Kan petuahnya bisa lebih kuat. Makanya orang rela dari luar pun berbondong-bondong ke sini,” ujarnya.

Sementara daerah lain mungkin tidak ada perayaan Cap Go Meh. Menurut Harun, mereka bisa tahu orang Malaysia, Tiongkok, Thailand datang lihat dari sumbangan yang masuk. “Kadang ada yang masukkan uang ringgit atau bath,” sebutnya. Panitia Cap Go Meh, Hasan menambahkan mereka yang siapkan enam kapal ponton gratis. Beberapa bantuan penyumbang. “Angkutan gratis kita siapkan 17-18 Februari,” sebutnya.

Pengurus Perkumpulan Warga Guang Zhao Seluruh Indonesia (Perwaguzsi) Sumsel, Anang Kosim MBA, menambahkan. Perayaan Cap Go Meh di Pulo Kemaro salah satu yang terbesar di Indonesia.  Selain Singkawang Kalimantan Barat. “Tercatat lebih dari 600 ribu pengunjung biasa mengikuti perayaan Cap Go Meh. Apalagi kepercayaan warga Tionghoa bila berdoa di malam perayaan niscaya terkabul. Jadi tak heran kalau malam membeludak,” pungkasnya. (cj14/fad/ce1)

Komentar

Berita Lainnya