oleh

Non ABK Nanggala 402, Hendak ke Italia, Sudah Berencana Naik Gunung

Satu ahli torpedo, satunya lagi perwira menengah. Kesederhanaan dan kesantunan mereka terus dikenang orang-orang yang ditinggalkan.

PASPOR telah dibuat. Suheri pun sudah mempersiapkan diri. Namun, rencana studi ke Italia itu berantakan gara-gara pandemi.

”Semestinya tahun lalu anak saya berada di Italia untuk belajar tentang persenjataan,” kata Untung, ayah Suheri, ketika Jawa Pos bertandang ke rumahnya di kawasan Bronggalan Sawah, Surabaya.

Masih di Surabaya, tetapi di waktu dan kawasan terpisah, Ady Setiawan juga mengingat benar janji yang dibuatnya bersama kawan dekatnya, Mayor Laut (E) Whilly Harsono Putra. ”Kami mau naik gunung,” ucap Ady.

Namun, nasib membawa dua non-anak buah kapal KRI Nanggala-402 itu ke kelokan lain.

Saat lulus SMP, sejatinya Suheri lebih tertarik masuk sekolah tata boga. Namun, lahir dari keluarga sangat sederhana, impian itu kandas. Gaji sang ayah tak cukup untuk membiayai sekolah yang dia inginkan. ”Biayanya kan mahal. Saya pengin anak saya masuk STM saja,” ujar Untung.

Ke sanalah akhirnya Suheri menuju. Dan, setelah lulus STM, dia menjajal peruntungan dengan mendaftar ke pegawai negeri sipil (PNS) di Arsenal Dinas Materiel Senjata dan Elektronika Angkatan Laut (Dissenlekal) Markas Besar Angkatan Laut (Mabesal) pada 1991. ”Kebetulan, saya juga kerja di Arsenal. Saya di kapal, sedangkan dia (Suheri, Red) di persenjataan,” ungkap pria 71 tahun tersebut.

Suheri yang terpaut usia 20 tahun dari sang ayah diterima dan mengabdi selama tiga dekade ini di sana. Namun, selama itu, tak pernah sekali pun Untung tahu bahwa sang anak adalah ahli torpedo.

Bagi Untung, Suheri tetaplah anak yang suka guyon. Sederhana dan mau menerima apa adanya. Tak neko-neko karena memang keadaan keluarga sejak kecil sangat sederhana. ”Sangat bangga sama anak saya. Satu-satunya PNS yang ada di kapal selam. Sebab, tidak semua orang bisa masuk sebagai personel di kapal selam,” jelas dia.

Komentar

Berita Lainnya