oleh

Nyaris Rampung 95 Persen, Front Aksi Rakyat Harap Pembangunan PIM Dikaji Ulang

SUMEKS.CO – Pembangunan Pasar Ikan Modern (PIM) menuai kontroversi di masyarakat, dan ini menjadi sorotan LSM Front Aksi Rakyat Palembang. Diketahui, Pasar Ikan Modern Palembang itu dibangun di lokasi eks kantor Camat Ilir Timur 3, Jl. MP. Mangkunegara Palembang dan dibangun dari dana APBN.

Andreas.

Andreas, Ketua LSM Front Aksi Rakyat Palembang mengatakan, pembangunan memang sudah 95 persen, tapi masih menimbulkan kegelisahan warga dan pelaku usaha di dekat lokasi pembangunan. “Hasil observasi lapangan, kami dapat gambarkan bahwa ada kejanggalan dalam penentuan lokasi Pasar Ikan Modern ini,” kata Andreas.

Di kanan kiri lokasi PIM padat perumahan warga, kantor, hotel, gardu pembangkit listrik, dan jalan umum alternatif.

“Kawasan di bangunan PIM tidak memiliki kanal pembuangan limbah ke saluran utama yang kami sinyalir akan menimbulkan polusi, pencemaran air dan udara,” prediksinya.

Hal ini, lanjut Andreas, tentu akan menggangu kesehatan warga sekitar. Begitu juga dengan penggunaan Jalan R Seokamto dan MP Mangku Negara ketika pasar ini beroperasi.

“Kami menarik asumsi sementara, berdasar fakta di lapangan telah terjadi indikasi pelanggaran perizinan pada proses pendirian pasar dan pelanggaan UU Lingkungan,” cetus Andreas lagi.

Untuk itu, pihaknya berharap, pemerintah kota Palembang dan semua instansi terkait dapat mengkaji ulang dampak PIM kedepan.

“Dugaan kami, proses dari awal pembangunan ini tidak melalui proses studi tata ruang kota Palembang dan diduga tidak tepat sasaran peruntukan lokasi dan fungsi,” jelasnya,

Andreas berharap, DPRD Kota Palembang agar turun ke lapangan, memanggil walikota, kontraktor, Dinas Perikanan, Bappeda, PUPR Kota Palembang, DLHK Kota Palembang, Dinas Pasar, Dinas perhubungan, SatpolPP dan Camat.;

Juga pejabat Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), Pelaku Usaha,Tokoh Masyarakat, Pemuda, LSM dan Akademisi.

“Untuk melakukan studi kelayakan ulang terhadap lokasi PIM ini, karena diduga tidak tepat sasaran peruntukkan lokasi dan fungsi, mari kita sama-sama mereview ulang pembangunan PIM,” harapnya.

Senada juga disampaikan Zenkipli, warga 8 Ilir. “Rumah saya di belakang PIM ini, setiap aktivitas sehari-hari saya lewat di depan proyek PIM. Sekarang saja sudah macet, apalagi kalau PIM dibuka, pasti tambah parah macetnya,” keluhnya.

Terpisah, Pengamat Lalu Lintas Kota Palembang H. Saidina Ali menilai, pembangunan PIM selayaknya memperhatikan perencanaan pembangunan. “Apakah sudah sesuai Tata Ruang Peruntukannya, apabila tidak maka banyak aturan yang dilanggar.

Untuk lalu lintas seperti mal ini, memang harus mempunyai kajian Amdal Lalin,” jelasnya.

Kajian itu, lanjutnya, harus dibuat oleh orang yang benar-benar mengerti dan memiliki sertifikasi dan tidak semua orang perhubungan mengantongi sertifikat itu.

“Tidak semua konsultan juga bisa mengeluarkan kajian Amdal Lalin,” tegasnya.

Kemudian Saidina Ali juga menyoroti Analisa Dampak Lingkungan dan Perencanaan PIM, karena di lokasi itu pusat kota yang berdekatan dengan Under Pass.

“Pertanyaannya, apakah nanti tidak berdampak sistematis terhadap proses transportasi? Apakah itu sudah dihitung? Jangan sampai terjadi seperti Trans Mart jilid dua berdampak pada simpang lima,” ujarnya dengan nada bertanya.

Saidina Ali menilai pembangunan Pasar Ikan Modern harus melalui kajian Fissiblity Studies (FS), apalagi Palembang sudah termasuk kota besar. “Jangan sampai ke depannya pembangunan ini tidak begitu bermanfaat bagi masyarakat dan menuai kontroversi,” tandasnya.

Untuk diketahui, bangunan PIM berdiri diatas lahan 9,025 m2, dengan konsep bangunan permanen 2 (dua) lantai, yang terdiri dari gudang cold storage, kantor, petak kios, lahan parkir dan ruang kuliner. (nur)

Komentar

Berita Lainnya