oleh

Nyepi, Bhakti dan Brata

DI Bali ada beberapa istilah yang merujuk pada pengertian wabah, yaitu: (1) mrana yang berarti wabah secara umum, bisa menyerang hewan, tumbuhan maupun manusia, ritual penolak wabah disebut nangluk mrana, (2) sasab: wabah demam yang menular dengan cepat, (3) gering agung atau epidemi: lebih kepada wabah bagi manusia berupa penyakit menular, biasanya akibat pengaruh musim, dapat berlaku lokal maupun global, yang terakhir (4) grubug atau pandemi: ini yang paling parah, karena wabah ini bersifat mendadak dan menimbulkan korban secara serempak bahkan sampai memakan korban jiwa.

Dapat dikatakan, ini adalah sebel jagat, karena hampir seluruh dunia sedang dilanda kecemasan, ketakutan, kesedihan dan terikat oleh banyak hal, terikat dengan hidup dan mati, pertemuan dan perpisahan, untung dan rugi, sakit dan sehat, hilang sudah kejernihan pikiran.
Maka dari itu, wajar jika secara resmi diimbau agar mengurangi aktivitas yang melibatkan kerumunan, tidak terkecuali aktivitas tradisi dan keagamaan. Justru, di balik ini semua, ajaran agama harusnya benar-benar berjalan, kenapa?

Pandemi ini mendorong kita menjalankan dua hal penting, bhakti dan brata. Jika kita benar-benar ber-Tuhan, memahami kenapa dan bagaimana seseorang ber-Tuhan, maka bhakti itulah jalannya. Bhakti artinya tunduk, hormat, setia.

Tunduk pada hukum alam, hormat pada segala ciptaan, dan setia pada hakikat kehidupan, karena Tuhan ada pada ketiga aspek ini. Pandemi adalah salah satu bentuk hukum alam, hukum sebab akibat, sedangkan manusia adalah bentuk ciptaan sekaligus wadah kehidupan.

Menjalankan bhakti dituntut untuk melepaskan dan merelakan. Ber-bhakti tidak cuma berarti mebakti, tidak juga sekadar upacara dan menjalankan tradisi. Apabila ego belum ditundukkan, sama saja percuma. Sebaliknya, dengan seringnya kita menjalankan upacara selama ini, seharusnya menjadi lebih paham cara ber-bhakti, yaitu lebih rela berkorban dan melepaskan ego pribadi.

Perhatikan bagaimana banten dibuat berjam-jam bahkan berhari-hari, tetapi harus dibuang setelahnya. Begitu juga bade yang dihias dengan indah, akhirnya dibakar juga, kenapa tidak dipajang saja. Tentu saja ini latihan diri, berlatih melepas dan mengikhlaskan. Tidak peduli seberapa lama waktu membuatnya, seberapa indah, berapa biayanya, tetap saja dibuang, hancurkan dan dibakar, kemudian ikhlaskan.

Tidak ada yang bisa menolak kenyataan bahwa saat ini virus Korona sudah menyebar pesat, mau tidak mau manusia harus tunduk pada dampaknya. Jika kita sekarang diminta untuk mengorbankan tradisi dan aktivitas beragama lainnya demi kemanusiaan, maka itulah bhakti yang sebenarnya. Karena dalam fenomena kemanusiaan terlibat hukum alam, ciptaan dan kehidupan.

Hal penting kedua adalah brata yang berarti pengendalian. Kebetulan, imbauan untuk bekerja di rumah dan menghindari keramaian sejalan dengan konsep catur brata penyepian. Harus ada objek yang dikendalikan baru bisa dikatakan pengendalian.

Sekarang ini jelas, yang perlu dikendalikan adalah penyebaran virus, mengendalikan jumlah orang yang terjangkit sembari menunggu para ilmuan menemukan obat dan vaksin, tentu pengendalian ini sebaiknya dijalankan karena menyangkut keselamatan banyak orang.

Tapi, menjalankan brata ini memerlukan brata yang lainnya lagi, brata untuk mengekang ego, mengendalikan manas (pikiran) yang memunculkan sikap selalu ingin diutamakan, selalu merasa lebih penting, fanatik kesukuan dan kepercayaan. Ego, pikiran dan ingatan inilah yang membuat orang buta pada fakta.

Buta adalah serapan dari kata Bhuta yang memiliki makna tidak memiliki kesadaran atau berkesadaran rendah, tidak melihat realita. Itulah mengapa unsur alam disebut Mahabhuta, karena unsur alam tidak memiliki kesadaran, atau kesadarannya sangat kecil. Ego adalah rasa ke-Aku-an, semua yang tentang diriku, menguntungkan, dan memuaskan diriku secara pribadi.

Ingatan adalah gudang konsep, apa yang diketahui, yang pernah dibaca, pernah didengar, pernah dirasa kemudian membentuk cara pandang atau persepsi. Pikiran adalah yang merangkum antara apa yang diketahui dengan rasa ke-Aku-an, sehingga sering dikatakan pikiran adalah gudang keinginan dan nafsu.

Dari pikiran inilah seringkali muncul masalah, oleh karena itu pikiran perlu dikendalikan dengan buddhi atau kecerdasan. Kecerdasan dalam memilah, mengambil keputusan, pertimbangan. Buddhi yang baik adalah Buddhi Satwam, yang berarti segala keputusan diambil berdasarkan pertimbangan atas dasar kebaikan yang utama.

Agama ada sebagai pedoman dasar menjalani hidup dan menjunjung tinggi kehidupan. Tradisi dan budaya adalah medianya, manusialah yang menjalankan. Jika saat ini manusia dihadapkan dengan sesuatu yang mengancam kehidupan, dan tradisi yang bersifat masal harus ditiadakan sementara, itu bukan berarti tidak beragama atau tidak percaya Tuhan.

Justru dengan jeda melakukan tradisi maka penyebaran virus dapat ditekan. Akibatnya banyak individu terselamatkan. Itu berarti menghormati kehidupan, kehidupan adalah Purusha atau Atman, kelahiran adalah Prakerti atau Jiwatman. Purusha dan Prakerti adalah Siwa dan Shakti, kedua ini adalah Brahman; Tuhan itu sendiri.

Semoga semua makhluk terselamatkan dan berbahagia. Semoga wabah ini segera berlalu menjadi kembali sejahtera dan sentosa.(radarbali)

Oleh  I Wayan Putra Adi Subawa adalah seorang dosen dan penulis.

Komentar

Berita Lainnya