oleh

Objek Wisata Pelancu Dihembus Isu Tak Sedap

LAHAT – Objek wisata Pelancu Desa Ulak Pandan, Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat, behembus isu tak sedap.

Memang saat ini lantaran terdampak covid19, objek wisata yang sangat populer ini sempat tutup sementara. Guna memutus mata rantai penyeberan covid19 di Kabupaten Lahat.

Namun beberapa hari terakhir adanya isu terkait pengelolaan pelancu. Diduga ada hubungannya dengan beberapa kejadian sebelumnya di pemerintah desa Ulak Pandan sendiri. Diantaranya mundurnya beberapa perangkat desa seperti kadus dan lainnya. Termasuk karang taruna desa yang merupakan pengelola objek wisata Pelancu yang ikut mundur.

Adanya isu bahwa wisata pelancu selama ini diketahui dan dikelola oleh BUMDes. Lalu lahannya merupakan aset pribadi milik mantan Kepala Desa sebelumnya, sehingga mempertanyakan pemasukan selama ini kemana.

Menanggapi dugaan tersebut, pemuda Desa Ulak Pandan yang sebelumnya mantan karang taruna desa yang telah mengundurkan diri. yakni Exnis,  Lensi, Jon, Jimi, Adi, Aman menjelaskan. Bahwa secara pengelolaan Wisata Pelancu bukan oleh BUMDes tetapi dikelola oleh Karang Taruna. Sejak diresmikan pengurusan pelancu sudah dikelola oleh karang taruna. “Kami yang kedua, sebelumnya dikelola pengurus karang taruna sebelum kami,” ujar Exnis mantan ketua Karang Taruna Desa.

Namun memang pengurusan karang taruna, tetap bernaung dan berkoordinasi ke Bumdes. “Bahkan manajemen dan tata kelolanya dulu Bumdes yang konsep. Tetapi untuk pengelolahan sepenuhnya dikelola oleh Karang taruna dan masyarakat. Sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat,” ungkapnya.

Dijelaskannya bahwa, pemerintah desa, BPD, pendamping desa, PLD jugabikut andil membantu objek wisata Pelancu.

Untuk pendapatan, dari retribusi masuk Rp. 5.000 /pengunjung. Untuk wahana playing fox dikelola oleh teman-teman flaying fox, lalu untuk  parkiran dikelolah pemilik lahan. Kemudian untuk wisata air kerjasama dengan pemilik perahu dan sopirnya.

“Pendapatan dari tiket masuk pengunjung itulah yang selama ini kami gunakan untuk perbaikan,  kegiatan, atau pun honor kami. Serta bekerja sama dengan pihak lain,”ujar Exnis yang diamini oleh rekan- rekannya.

Sementara untuk Pelancu bukan aset desa, lantaran proses pembangunannya tidak menggunakan dana desa tetapi menggunakan uang pemasukan dari retribusi pengunjung.

“Kami bekerja sama dengan pemilik Lahan.  Itupun kami bebas sewa dan kami tidak ada kewajiban untuk setor kepemilik lahan karena mereka paham itu juga untuk membanggakan nama desa dan memperdayakan karang taruna waktu itu, justru warga yang ingin berjualan disana kami sediakan tempat dan tidak pungut biaya atau pun penyedia perahu pun tanpa dipungut biaya oleh kami pengelola,” sambungnya.

Evan Yusup, warga Ulak Pandan menanggapi tuduhan Pelancu yang saat ini tidak bisa dikelola oleh desa, saya rasa itu tidak lah benar. Justru objek wisata Pelancu, bisa maju bila terus didukung.

“Karena bukan hanya aset wisata tetapi itu sudah menjadi aset daerah karena pernah membanggakan nama daerah dikanca nasional, jangan sibuk mengharapkan sesuatu dari Pelancu seharusnya apa yang bisa diberikan ke Pelancu agar bisa bertahan dan lebih baik lagi. Yang tidak boleh itu menguasainya,” ungkap Evan.

Sambungnya bahwa saat ini objek Wisata Pelancu tutup sementara, ditegaskannya bukan karena adanya permasalahan desa. Namun memang karena terdampak pandemi covid19. Sehingga ditutup guna memutus mata rantai penyebaran.

“Beberapa hari ini jajaran BPD dan Pengurus Wisata Pelancu melakukan gotong royong untuk kebersihan diseputaran wisata Pelancu. Karena memang ada sampah karena lama ditutup jadi kita bergotong royong,” ungkapnya.

Evan sendiri sempat bingung terkait adanya isu mengenai pengelolaan Pelancu, padahal sejak 18 agustus 2017 tidak ada masalah.

Sapta, mantan Kasi Aset didampingi Tarmizi Ketua BPD dan Aswani mantan Ketua BPD sebelumnya menambahkan. Sudah tiga hari ini orang-orang bersama-sama membersihkan wisata pelancu karena selama ini wisata Pelancu sudah 2 bulan ditutup.

Karena dampak Covid-19 dan permasalahan di Desa, apa lagi ada kabar bahwa selama tutup wisata Pelancu sering dijadikan tempat minum-minuman keras oleh beberapa oknum masyarakat, semua kabal listrik diputus,  semua lampu hilang,

Semenjak tutup memang tidak lagi dijaga,  biasanya ada jaga malam tetapi saat ditutup semua pekerja diliburkan semua.  “Apa lagi sudah lebih 2 bulan tutup sehingga kebersihan dan rerumputan sudah tidak enak dipandang lagi.  Bukannya mempertanyakan kepemilikan tanah ataupun kepengurusannya, seharusnya saat ini bersama-sama bagaimana agar pelancu itu tidak dijadikan tempat minum-minuman keras dan terus dikelolah agar tetap bertahan dan lebih baik lagi kedepannya,” ujarnya.

Ditambahkan Mario Andramatik penggiat wisata di Lahat berharap agar objek wisata pelancu bisa terus berkembang. Menurutnya wisata jangan dikaitkan dengan permasalahan politik maupun lainnya.

“Karena pada dasarnya wisata itu, tempat refreshing dan mencari pengalaman baru. Kalau karema masalah covid19 wajar tutup. Namun kalau karena masalah lain jangan sampai. Semoga pelancu bisa terua berkembang dan konsisten,” ujar Mario, yang juga staf khusus Bupat Lahat bidang Wisata dan Ekonomi Kreatif ini.(gti)

Komentar

Berita Lainnya