oleh

Oknum Polisi Terjerat Narkotika, Mengaku Diancam Senior

 

SUMEKS.CO, PALEMBANG – Seorang oknum anggota kepolisian berinisial AB (36) berpangkat Bripka diketahui dari Polsek Pagaralam diduga terlibat kasus narkotika dengan barang bukti sabu seberat 9,4 gram. Dia tertangkap saat sesama rekan yang sedang melakukan undercover buy kepada terdakwa.

Dalam persidangan dengan agenda mendengarkan keterangan terdakwa secara visual, Rabu (24/3) dihadapan majelis hakim diketuai Mangapul Manalu SH MH, terdakawa AB mengungkapkan dirinya diminta mencarikan sabu oleh Bripka AL, seniornya sendiri.

“Saya diminta mencarikan sabu senilai Rp 10 juta, pak, oleh Bripka AL yang bertugas di Polsek Tanjung Sakti, Lahat dengan nada ancaman,” ungkap terdakwa.

“Jadi saya carikan sabu itu dari bandar narkoba bernama Ebi yang saat ini statusnya buron,” tambah terdakwa.

Pernyataan itu lantas mendapat respon dari hakim yang mempertanyakan alasan terdakwa untuk mengikuti ancaman itu. Padahal antara terdakwa dan rekannya sama-sama berasal dari instansi kepolisian sehingga bisa langsung melapor pada atasan bila ada salah satu yang melakukan pelanggaran.

“Siap salah yang mulya. Saya menurut karena dia senior saya pak,” ujar terdakwa menjawab pertanyaan hakim.

Sementara itu dikonfirmasi terpisah Kamis (25/3), Rustini SH MH selaku penasihat hukum terdakwa justru mempertanyakan kapasitas Bripka AL yang melakukan undercover buy kepada terdakwa.

Rustini berpendapat bahwa Bripka AL tak memenuhi syarat dalam melakukan undercover buy sebagaimana yang diatur dalam undang-undang. Sebab berdasarkan ketentuan pasal 79 UU Narkotika yang secara menyatakan, teknik pembelian terselubung harus dilakukan atas perintah tertulis dari penyidikan.

“Yang kami pertanyakan disini, apakah AL selaku undercover memiliki surat perintah penangkapan dan surat perintah penahanan. Karena saat kami tanyakan, yang pada saksi yang dihadirkan JPU tidak dapat memberikan jawaban pasti,” ujarnya.

Rustini juga menjelaskan, dalam pelaksanaan teknik undercover buy hanya boleh dilakukan oleh petugas kepolisian dan BNN saja, sehingga tidak boleh sembarang orang yang melakukannya. Hal tersebut dikarenakan aparat kepolisian dan BNN yang melaksanakan tugas, dilindungi secara sah oleh UU dalam pasal 75 huruf J UU RI no 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

“Yang juga jadi pertanyaan kami, Bripka AL bukanlah anggota kepolisan dari satuan narkotika. Wajar kami mempertanyakan apakah dia berhak melakukan undercover,” ujarnya.

Rustini turut menjelaskan bahwa tujuan dari pasal 75 huruf J UU RI no 35 Tahun 2009 tentang narkotika adalah untuk mendapatkan barang bukti langsung dari tersangka dan tidak melibatkan spionase atau informan. Dikarenakan informan hanyalah sebagai pemberi informasi dan selanjutnya petugaslah yang mengambil alih transaksi tersebut.

“Sedangkan bila dari keterangan terdakwa, dirinya bersama saksi AL tidak hanya saling berkomunikasi. Dia juga yang menyuruh terdakwa memesankan narkoba tersebut. Dia bahkan sudah sempat melihat paket sabu tersebut bersama dengan terdakwa saat di dalam mobil,” ujarnya.

“Jadi kenapa hanya klien kami saja yang ditangkap. Sedangkan berdasarkan kronologi kejadian dan kapasitasnya, saksi AL juga menyalahi aturan,” tandasnya.

Sementara itu, berdasarkan situs resmi Sistem Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Palembang, diketahui bahwa terdakwa Bripka AB dihubungi Bripka AL (informan polisi) untuk diminta mencarikan narkotika jenis sabu, Kamis (10/12/2020) sekira pukul 14.00 WIB. Namun saat itu terdakwa  belum memiliki narkotika tersebut.

Dihari yang sama, terdakwa membeli dari temannya bernama Ebi (DPO) untuk selanjutnya kembali dijual ke Bripka AL. Setelah itu didapatlah kesepakatan antara terdakwa dan Bripka AL untuk bertemu di jalan Terminal Kecamatan Pagar Alam Selatan Kota Pagar Alam Provinsi Sumatera Selatan, sekira pukul 21.00 WIB.

Setibanya di tempat tersebut, Bripka AL yang datang bersama anggota Direktorat Reserse Narkoba Kepolisian Daerah Sumatera Selatan langsung mendekati terdakwa. Selanjutnya pada saat anggota polisi melakukan penggeledahan, terdakwa menjatuhkan 1 paket narkotika jenis sabu dengan berat 9,426 gram di jalan.

Rencananya sabu tersebut akan dijual terdakwa senilai Rp.10 juta kepada Bripka AL. Akibat perbuatannya JPU Kejati Sumsel menjerat Bripka AB dengan Pasal 114 ayat (2) UU Republik Indonesia Nomor : 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Atau Pasal 112 ayat (2) UU Republik Indonesia Nomor : 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. (Fdl)

Komentar

Berita Lainnya