oleh

Omset Rp10-20 Juta Per-bulan

Tak pernah terbayangkan bisnis ikan cupang atau orang Palembang menyebutnya iwak tempalo menjadi ladang bisnis yang sangat menjanjikan bagi Isa Anshori. Bapak satu anak ini merintis dari nol usahanya hingga bisa mengekspor ikan eksotis penuh corak dan warna dari Asia Tenggara ini ke Amerika Serikat dan Eropa. Bahkan omsetnya bisa mencapai Rp10-20 Juta per-bulan.
————————-

Zulhanan – Palembang – Sumeks.Co

Tren memelihara Betta (ikan cupang) meningkat tajam selama Pandemi Covid-19, banyak orang mempunyai hobi baru. Itu karena tidak banyak kegiatan yang dikerjakan di luar rumah. Namun yang paling banyak adalah hobi memelihara ikan hias bagi laki-laki dan tanaman hias bagi perempuan. Harganya menjadi melambung terkandang tidak masuk akal. Bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Kondisi tersebut diakui oleh Isa Anshori. Selama Pandemi Covid-19, kisaran bulan April hingga Agustus 2020 permintaan ikan cupang dalam negeri melonjak dari biasanya Sebelum pandemi, dirinya meraup omset sekitar 10-20 Juta perbulan. Namun sejak pandemi naik tiga kali lipat.

”Ikan yang saya jual jenis Betta Koi dengan harga paling murah sepasang Rp500 Ribu. Namun jika ikan cupang tersebut mempunyai corak dan warna yang bagus bisa dijual diatas Rp1 Juta,” kata Isa Anshori.

Bagi kalangan penggemar ikan Betta (Cupang) di Palembang, nama Isa Anshori dengan brand Tegal Series tidak perlu diragukan lagi. Kualitas ikan cupang miliknya diburu oleh penggemar hobi hampir dari seluruh tanah air.
Isa menceritakan awal mula merintis bisnis secara otodidak. Pada tahun 2014 lalu, dirinya mencari tahu cara mengekspor ikan cupang ke luar negeri. Setelah membuka laman facebook bertanya dengan orang Jakarta yang lebih dulu bergelut ekspor ikan cupang dan menyarankan untuk gabung grup Facebook Betta luar negeri sebut saja Betta USA, Betta Canada, Betta UK.

“Dari banyak grup Betta tersebut, saya bergabung dengan grup Betta USA. Disana tertera harga seekor ikan cupang 50 US Dollar atau setara Rp600 Ribu. Harga tersebut cukup mahal mengingat ikan cupang yang ditawarkan tidak begitu bagus untuk ukuran cupang di Palembang,” tambah alumni Gontor ini.

Dengan inisiatif sendiri, Isa memborong ikan cupang di Pasar Burung dengan harga Rp15 Ribu sepasang dan membuat tutorial cara mengembangbiakkan ikan cupang dalam bahasa Inggris. Tutorial tersebut sengaja dibuat untuk menggoreksi cara budidaya ikan Cupang yang salah di Amerika.

Ikan Cupang Koleksi Isa Palembang. Foto;hatta-Sumeks.co

Di dalam tutorial grup Betta USA, dijelaskan setelah bertelur, Induk betina tetap disatukan dengan induk jantan. Itu cara salah karena kalau tidak dipisahkan induk betina akan memakan telur tersebut. Setelah diposting di grup banyak respon positif dari anggota grup. Bahkan ada yang bertanya. “Do you sell that’s betta? (Apakah anda menjual ikan cupang)? Tanya salah satu anggota grup Betta USA di kolom komentar. “Saya langsung jawab ya saja,” lanjut Isa.

Dari sanalah mulai banyak order dari Amerika dan Eropa. Dan Isa menjadi orang pertama dari Sumatera yang memiliki lisensi ekspor dan impor ikan cupang ke luar negeri. Namun sayang, setelah tiga bulan, Isa dikeluarkan dari grup Betta USA karena admin Betta USA merasa tersaingi kehadiran Isa yang merusak harga promosi ikan cupang miliknya.

Atas inisiatif anggota grup Betta USA, Isa dimasukkan lagi dalam grup baru. Seiring perjalanan waktu, penjualan ikan cupang ke Amerika tidak berlangsung lama karena banyak anggota grup Betta USA sudah banyak yang tahu dan beralih ke Thailand. Harga ikan cupang di Thailand cukup murah sekitar 10 US Dolar atau Rp100 Ribu.

“Penjualan ke Amerika hanya bertahan sekitar 3-4 Bulan. Selain itu, biaya pengiriman ke Amerika cukup mahal Rp 10 Juta untuk 100 ekor cupang. Jika kuota belum cukup 100 ekor, saya mengajak bergabung rekan-rekan yang punya order dari Amerika agar bisa menutupi ongkos pengiriman,” tambanya.

Isa sendiri tidak tahu mengapa ongkos pengiriman ikan cupang ke Amerika cukup mahal dibandingkan dengan Thailand. Meski tidak lagi menjual ikan cupang ke Amerika dan Eropa, bisnis miliknya tetap berjalan dengan baik karena sudah ada pangsa pasar di dalam negeri dan Asia Tenggara terutama dari Malaysia dan Singapura.

“Orang Singapura sangat mengedepan prestige meski harga mahal tetap dibeli. Ada kebanggaan tersendiri jika membeli ikan mahal. Berbeda dengan orang barat yang sangat rasional tidak mau mengeluarkan uang jutaan rupiah hanya sekedar untuk membeli seekor cupang,” lanjutnya.

Pria yang pernah bekerja di di LPG Plant, Gas Plant Lembak, PT Surya Eka Perkasa dan PT SEP ini sangat bersyukur bisnis ikan cupang masih ‘basah’ hingga sekarang. Ikan cupang punya pangsa pasar hobi tersendiri dak tidak pernah lekang oleh waktu.

“Perkembangan Ikan cupang sangat dinamis karena pasti ada corak dan warna baru yang muncul di tubuh ikan cupang sehingga pasti ada penamaan baru. Itulah mengapa banyak orang tergila-gila dengan warna ikan cupang,” tambahnya pria yang tinggal di kawasan Tegal Binangun Plaju Darat ini.

Untuk pangsa pasar dalam negeri dirinya pernah menjual ikan cupang seharga Rp12 Juta sepasang. Itulah rekor penjualan tertinggi ikan cupang miliknya. “Pembelinya orang KM 5 Palembang untuk dijadikan indukan. Harga tersebut masih terbilang wajar karena ikan tersebut impor langsung dari Thailand,” pungkasnya. (zul/bersambung)

Ikan cupang koleksi Isa Anshori Palembang. Foto ; Hatta- Sumeks.co

  [embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=v6osUQPPlZ8[/embedyt]

Komentar

Berita Lainnya