oleh

Order Selai Kacang Berisi Sabu dari Balik Jeruji , Napi Ini Kembali Terancam Pidana Penjara

SUMEKS.CO,- Tiga saksi petugas Lapas Narkotika Kelas IIB dihadirkan oleh JPU Kejati Sumsel secara virtual dihadapan majelis hakim PN Palembang diketuai Said Husein SH MH guna mengungkap kasus penyelundupan sabu dalam makanan ringan yang menjerat Iskandar bin Rusli yang menjadi terdakwa sekaligus narapidana penghuni lapas tersebut. Salah satu saksi yang dihadirkan dalam gelar sidang secara virtual Rabu (3/2) sore kemarin bernama Jimi mengatakan bahwa makanan ringan tersebut diantar oleh salah seorang driver online untuk seseorang bernama Rusli yang merupakan warga binaan kasus narkotika.

“Setelah melalui tahapan beberapa kali pengecekan petugas baru mencurigai satu botol selai kacang, saat dibuka terdakwa didapati sabu seberat 2 gram,” terang Jimi. Saat majelis hakim menanyakan kepada saksi petugas tersebut apakah diperbolehkan seorang warga binaan membawa handphone dari balik jeruji, saksi petugas tersebut menjawab tidak diperbolehkan.

“Lantas dari mana terdakwa dapat memesan makanan ringan berisi sabu melalui aplikasi online,” tanya hakim Said yang dijawab langsung oleh saksi petugas bahwa berdasarkan pengakuan terdakwa barang itu dipesan dari seseorang bernama Dedi (DPO).

Mendengar jawaban saksi tersebut, Said kembali mempertanyakan bahwa tidak mungkin pesanan itu datang dengan sendirinya tanpa ada pesanan terlebih dahulu dari terdakwa didalam lapas dengan menggunakan handphone.

Didalam dakwaan JPU Kejati Sumsel Selly Agustian SH terungkap bahwa pada Maret 2020 silam, petugas lapas II B menerima paket dari driver ojek online bernama Novri Sugiantoro membawa kiriman paket untuk narapidana yaitu terdakwa Iskandar.

Selanjutnya petugas penjaga lapas mengantarkan paket itu ke ruang Karupam untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan secara manual bersama Ka PLP dan petugas lain yang turut disaksikan terdakwa, ditemukan kecurigaan pada 1 (satu) buah botol selai kacang merek Skippy Creamy berisi sabu dengan berat bruto 2 gram.

Oleh JPU sebagaimana perbuatannya kembali terancam pidana pidana penjara sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 114 ayat (2) UU Republik Indonesia Nomor : 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. (fdl)

Komentar

Berita Lainnya