oleh

Pagaralam tak Seseram yang Dibayangkan

PAGARALAM – Gubernur Provinsi Sumsel H Herman Deru melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) di Kota Pagaralam. Kamis (19/12) malam, Gubernur Sumsel H Herman Deru, beserta Pangdam II Sriwijaya dan Kapolda Sumsel Irjen Pol Priyo Widyanto beserta jajaran FORKOKPIMDA Provinsi dan Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam, menggelar ramah tamah dan rapat penanganan konflik Harimau dan manusia, bertempat di Rumah Dinas (Rumdin) Walikota Pagaralam.

Herman Deru menyebut, tinggal lagi bagaimana mereduksi perambahan ini, karena pasti ada yang terganggu, Sungai alirannya terganggu, hewan-hewan terganggu dan begitu juga perburuan yang semakin masif berburu.

“Ini tanggungjawab kita bersama, bagaimana kita mempertahankan flora dan fauna di daerah kita ini, karena ini untuk masa depan anak cucu kita sendiri, pengelolaannya harus bisa sampai ke anak cucu kita,” ujarnya.

Sementara Walikota Pagaralam, Alpian Maskoni SH menuturkan, awal mula timbulnya konflik ini, berawal dari kejadian di Tugu Rimau, Pulau Panas, Tebat Benawa dan terakhir di Kota Agung.

Permasalahan-permasalahan yang muncul ini, cukup mengganggu pariwisata di Kota Pagaralam. “Saya sudah bertemu beberapa pelaku usaha pariwisata di Pagaralam, yang biasanya satu bulan sebelum tahun baru, tempat penginapan-penginapan istirahat sudah penuh, sampai Rabu (18/12) belum mencapai 50%,” ucapnya.

Untuk itu kata Kak Pian, ini menjadi tugas bersama untuk menyampaikan kepada khalayak ramai, bahwa Pagaralam tidak seseram yang dibayangkan. “Tadi kita sudah ke Bendung yang masuk ke kawasan Hutan Lindung, serta ke talang-talang menemui warga untuk mengkampanyekan bahwa Pagaralam aman,” tegasnya.

Sebelumnya, Pemkot Pagaralam telah melakukan upaya-upaya itu, dengan melakukan kunjungan ke tempat-tempat wisata, tapi yang namanya Media Sosial (Medsos) lebih cepat, sehingga berita Harimau yang ada di Malaysia, Pekan Baru dan lainnya, semua bermunculan seolah-olah itu ada di Pagaralam.

“BKSDA sudah cukup kewalahan untuk melawan berita-berita itu. Saya yakin dengan pertemuan ini, kita akan merumuskan suatu untuk membantu para wisatawan, baik itu wisatawan dari dalam maupun luar Pagaralam,” ujarnya.

Karena terus terang sebut Kak Pian, persaingan pariwisata di Pagaralam, kalau selama ini bersaing dengan Bengkulu Selatan, terakhir ini juga bersaing dengan daerah Lampung, karena setelah dibuka Tol Palembang – Lampung, banyak orang sementara ini lebih memilih ke Lampung. Karena berita-berita gencarnya tentang Harimau. “Untuk itu mari kita bersama-sama menyuarakan, bahwa Kota Pagaralam aman,” tandasnya.

Tidak Ada Serangan, Kalau Tidak Diganggu

Secara rutin kita telah melakukan restorasi rehabilitasi, mulai dari keiikutsertaan para perusahaan, ada Gerhan dan Rehabilitasi Hutan dan Lahan, cuman karena kerusakan masif, sehingga tumbuhnya pelan,” demikian dikatakan Gubernur Sumsel H Herman Deru, ketika dibincangi awak media.

Pada pertemuan Rapat Kerja (Raker) ini kata Deru, mendapatkan suatu manfaat besar, bahwa informasi-informasi akurat datang dari sumbernya langsung, dengan berkesimpulan bahwa tidak ada serangan dari Harimau, bila Harimau itu tidak diganggu. “Terganggunya real time atau pada saat itu, atau juga terganggu pada saat sebelumnya, karena memori hewan sangatlah kuat, memang kita harus berusaha, khususnya para penduduk yang berada disekitar,” paparnya.

Hal kedua tambah Deru, berbicara restorasi secara berangsur, akan terus disosialisasikan tentang larangan untuk tidak merambah hutan lindung. Namun, juga haruslah dapat mencarikan solusi untuk merelokasi yang membutuhkan informasi dari para tokoh adat, serta pejabat daerah Kabupaten/Kota sampai ke tingkat Desa.

“Kalau kita hanya diamkan saja, sudah bisa terlihat, macan marah, belum hewan lainnya marah. Untuk itu, harus bisa segera diatasi. Langkah yang sekarang kita lakukan, tentu mengembalikan kepercayaan masyarakat sekitar, baik itu internal maupun eksternal, stop kerusakan hutan ini,” tegasnya.

Seruan yang disampaikan tambah Deru, bukan sekedar maklumat semata, melainkan sebuah instruksi yang disampaikan kepada semua pihak, untuk bersama-sama bertanggungjawab terhadap perambahan-perambahan hutan beserta isinya ini. “Semua tingkatan harus berperhatian khusus, karena kita tidak bisa diamkan terus bertambah korban. Kita ingin menunjukkan kepada masyarakat luar dan masyarakat Pagaralam sendiri, bahwa di Pagaralam itu, tidak ada apa-apanya lagi, sudah aman masalah macan sudah selesai,” pungkasnya. (ald)

Komentar

Berita Lainnya