oleh

Pak Bupati, ‘Kami 7 Tahun Mengabdi, Bukan Hanya 5 Hari!’

Dengan alasan 5 hari tak masuk kerja, 109 tenaga kesehatan (Nakes) RSUD Ogan Ilir (OI) dipecat.

 

Dipecat tidak hormat!

Surat pemecatan belum lama diteken Bupati Ogan Ilir, H M Ilyas Panji Alam.

Salah seorang nakes, bahkan sudah 7 tahun mengabdi di RSUD Ogan Ilir.

Nakes ini minta namanya tak disebut, dengan berbagai alasan.

“Saya sudah tujuh tahun bekerja, sejak 2013, dan selama itu tidak pernah ada masalah,” tuturnya.

Pengabdian yang panjang dengan honor minim, saat ini seolah sia-sia. “Ya, tak dihargai,” cetusnya dengan nada suara bergetar saat dihubungi SUMEKS.CO.

Sumber kita ini, mau bercerita namun ia mewanti-wanti agar namanya tidak ditulis. ’’Tolong Pak ya, jangan ditulis nama saya,’’ pintanya.

Pemecatan sepihak itu, lanjut nakes ini, sangat sepihak dan tidak berimbang.

“Semestinya Bapak Bupati mendengarkan langsung keluhan kita, bukan hanya manajemen RSUD saja,” katanya.

Sebab jika dasar alasan pemecatan karena mogok kerja selama 5 hari ia menilai sangat tidak tepat.

’’Saat wabah Covid-19 ini semua nakes di RSUD kerja dengan sistem shift, ada yang kerja dan ada yang off, dan saya juga kerja sesuai jadwal, jadi off bukan mogok’’ ungkapnya.

Yang lebih aneh, ia mengetahui dipecat dari berita di media. “Kerja tujuh tahun dan SK pemecatan saya tahu dari pemberitaan di media?,” ujarnya dengan nada tanya.

Ia mengakui, saat Nakes menyampaikan aspirasi di gedung wakil rakyat, memang semua tidak bekerja.

“Tapi sebelumnya mereka bekerja semua sesuai shift masing-masing ,’’ jelasnya.

Dihadapan Komisi IV DPRD Ogan Ilir, para Nakes menuntut hal yang wajar.

“Ada jaminan perlindungan seperti APD, masker , sarung tangan yang standard,” jelasnya.

Soal tuntutan mengenai rumah singgah menurutnya sangat urgen. “Nakes juga bertugas mengawal pasien yang terpapar Covid-19. Kami punya keluarga, punya anak, kami takut pulang, bukan taku menangani pasien Covid,” ungkapnya.

Saat selesai mengawal pasien Covid-19 adalah wajar jika Nakes tidak langsung pulang. “Di rumah singgah kami bisa ganti pakaian dulu, istirahat dan mandi sebelum pulang,’’ katanya.

Kalau APD tidak standard, jelas Nakes takut melayani pasien Covid-19. “Ya, takut la Pak, kami juga manusia biasa, tapi kalau APD standard tentu lain ceritanya, dan itu memang sudah tugas dan resiko kami,’’ ujarnya.

Atas pemecatan itu, ia mengaku tidak terima, meski belum memikirkan apakah akan menempuh jalur hukum.

“Belum terpikirkan, kami jelas tidak terima dipecat tidak hormat. Kesannya seolah kami melakukan kesalahan besar,”

Apalagi, pemecatan itu tidak melihat pengabdian nakes yang sudah tujuh tahun. “Kami kerja maksimal dengan honor Rp 850 ribu per bulan, tak ada mengeluh selama ini,’’ tandasnya. (sid)

 

Komentar

Berita Lainnya