oleh

Pak Parno; From Zero To Hero

Pertemuan saya dengan Pak Parno pertama kali terjadi pada 1992. Saat itu saya baru bergabung dengan Jawa Pos dan ditugaskan di Jakarta. Sebagai reporter baru yang tidak punya pengalaman liputan di Jakarta, maka kehadiran saya dimentori oleh wartawan senior, yakni Pak Parno.

Ya dialah yang mengajak saya liputan ke mana dia bertugas dengan naik bus mini (di Jakarta namanya bus Kopaja). Penumpang di bus mini cukup padat, sehingga saya dan Pak Parno sering bergelantungan di bus menuju tempat liputan. Ya di situlah saya belajar banyak dengan Pak Parno; belajar menjadi wartawan, belajar bekerja keras dan belajar kesabaran.

Menjadi wartawan, Pak Parno sangat teliti dan detail. Dia sangat jago membuat diskripsi cerita sebuah peristiwa. Apalagi berita yang dibuat saat itu banyak berita tentang bidang hukum dan kriminal yang memang memerlukan kepiawaian dalam menulis.

Kebetulan saat itu Pak Parno tugas bidangnya adalah reporter hukum dan kriminal. Diakui bahwa berita peristiwa yang dibuat Pak Parno menjadi hidup yang bisa membuat pembaca seolah olah ikut menyaksikan di lokasi kejadian. Sesungguhnya tidak gampang menjadi wartawan bidang hukum maupun kriminal.

Banyak wartawan di bidang tersebut dari banyak media, namun bentuk tulisannya tidak seperti gaya Pak Parno yang mengalir dan enak dinikmati. Sebagai wartawan Pak Parno tipe wartawan yang rajin turun ke lapangan. Melihat langsung peristiwa. Dan ingin menyaksikan sendiri bukan hanya mendengar cerita dan kata orang lain. Maklum di jaman Pak Parno pun sudah banyak wartawan salon yang beritanya “minta” dari temen, dan kata temen, sehingga bentuk tulisannya pun tidak bagus karena yang penting ada.

Apa yang dilakukan Pak Parno ini adalah bentuk penghayatan dan tanggung jawab pekerjaan sebagai wartawan agar bisa menulis dengan baik dan benar. Karena semua tulisannya ditulis dari sumber dan fakta yang sesungguhnya terjadi di lapangan. Biarpun sudah dianggap lengkap bentuk tulisannya, namun terkadang Pak Parno masih menemukan angle angle lain yang bisa dikembangkan sehingga tulisannya menjadi lebih berwarna.

Sebagai teman terkadang juga mengingatkan sambil berseloroh,”sudahlah Pak, udah bagus itu. Ngapain masih nyari nyari yang lain? Nggak capek apa Pak?” Apa jawaban Pak Parno?,”Nggak apa apa capek yang penting pembaca bisa puas.” Yah, memang sebagai teman dan yuniornya, saya mengakui bahwa Pak Parno menjadi wartawan tidak merasa puas kalau tulisannya tidak bisa memuaskan pembaca. “Coba kalau pembaca gak mau beli koran kita dan gak mau baca koran kita? Lebih bahaya kan? Koran kita nggak laku, kalau nggak laku, dampaknya ke perusahaan juga gak bagus. Iya kan?.” Begitulah gumam Pak Parno.

Selain itu, sebagai wartawan, Pak Parno saya kenal tipe pekerja keras. Tidak pernah merasa capek. Meskipun sudah seharian penuh liputan di lapangan, namun setelah sampai di kantor dan menyelesaikan tulisannya Pak Parno masih bersedia mendapatkan tugas untuk meliput sebuah peristiwa lain. Padahal dia sama sekali belum istirahat. Tapi Pak Parno tetap bersemangat dan berangkat naik bus mini yang rutenya lewat depan kantor Jawa Pos di Jl Prapanca Jakarta Selatan, menuju ke lokasi kejadian.

Kegigihan dan pekerja keras ini tidak pernah kendor. Ada pimpinan atau tidak ada pimpinan, Pak Parno tidak pernah menunjukkan perubahan etos kerja. Dia selalu semangat dan fokus bekerja. Bagi dia, wartawan akan dilihat dari hasil karyanya. Seberapa besar produktifitasnya, seberapa penting karya-karyanya yang ditulis setiap hari bagi Jawa Pos dan pembacanya. Tentunya ada faktor lain yang menambah nilai plus Pak Parno.

Dia sangat supel, bukan tipe yang memiliki potensi konflik dengan teman temannya, baik di dalam kantor maupun di luar kantor alias dengan komunitas media lain. Juga bukan tipe wartawan yang suka ngomong di belakang alias ngrumpi. Pak Parno memang bersuara keras dan cempreng, tapi memiliki sens of  humornya tinggi. Punya hati yang baik dan care full dengan teman temannya.

Satu lagi style Pak Parno adalah foto copy Pak Dahlan Iskan (bos besar Jawa Pos). Persis! Cara berpakaian, cara berbicara dan body languagenya pun persis Pak Dahlan. Tentu soal etos kerjanya juga tidak perlu diragukan. Persis Pak Dahlan. Suka tidur di atas meja, di kursi, suka pakai sendal jepit, kebiasaan mengenakan sepatu kets kemanapun pergi. Dan yang saya kagum, ini juga meniru Pak Dahlan, tidak merokok dan tidak minum minuman beralkohol alias hidup sehat.

Karena nilainya Pak Parno sangat bagus inilah, meski posisi Pak Parno saat itu masih reporter senior, namun bos besar Jawa Pos, Pak Dahlan Iskan, memberikan kepercayaan Pak Parno dengan tugas baru sebagai bos koran di Bengkulu. Pak Parno diminta menjadi bosnya untuk mengendalikan semua operasional koran di Bengkulu waktu itu, kalau tidak salah namanya koran Semarak.

Saya masih ingat sore sore Pak Parno baru pulang dari liputan dan masuk kantor, tiba tiba dipanggil Pak Dahlan yang sedang duduk di kursi teras kantor. Tanpa basa basi Pak Dahlan langsung memberikan instruksi,”Parno, kamu berangkat ke Bengkulu. Kamu pegang koran di sana ya? Tiket pesawat sudah disiapkan.” Pak Parno tidak pakai mikir dan langsung menjawab,”Siap Bos.”

H Suparno Wonokromo di dampingi iteri dan Dirut Sumeks Grup H Muslimin saat berbagi dengan anak panti asuhan

Beberapa teman di kantor Jakarta saat itu meragukan kenapa Pak Dahlan memilih Pak Parno untuk ditunjuk menjadi pimpinan koran group Jawa Pos di Bengkulu. Maklum, Pak Parno saat itu hanya seorang reporter senior dan secara formal belum memiliki pengalaman di bidang management perusahaan. Tapi, toh keraguan beberapa teman senior di Jakarta terhadap Pak Parno tidak terbukti. Bahwa Pak Parno dalam waktu cepat berhasil menunjukkan kemampuannya sebagai bos kecil (karena istilah bos besar hanya milik Pak Dahlan) di Bengkulu, di mana koran Semarak yang dipegangnya ternyata berkembang sangat baik.

Kesuksesan Pak Parno di Bengkulu itulah yang membuat Pak Dahlan makin percaya dengannya. Pak Parno kemudian diberi tambahan pekerjaan untuk memegang koran Sumatra Ekspres di Palembang. Lagi lagi karena kerja kerasnya dan faktor keberuntungan yang berpihak kepada Pak Parno, koran besar di Palembang yang saat itu menjadi kompetitornya, yakni Sriwijaya Post, sedang ada masalah sehingga menyebabkan tutup alias tidak terbit dalam kurun tertentu, dan disitulah blessing menyertai Pak Parno karena koran Sumatra Ekspres akhirnya menambah oplah cetak untuk menggantikan market yang ditinggalkan oleh kompetitornya.

Dari Palembang inilah kemudian Pak Parno benar-benar menjadi The King of Media di lingkungan group Jawa Pos karena achievmentnya yang beyond Jawa Pos. Pak Parno benar-benar meninggalkan sebuah legacy bagi Jawa Pos Group maupun group perusahaan yang dinakhodai Pak Parno sendiri di wilayah Sumatra dan Jawa. Pak Parno benar-benar from zero to hero. Dan Pak Parno sudah menjadi bagian sejarah besar persuratkabaran di Indonesia. Pak Parno benar benar sangat membanggakan. Dia akan menjadi inspirasi yang abadi, everlasting like the sun. (sururi alfaruq, CEO Sindo Media)

Komentar

Berita Lainnya