oleh

Pak Parno, Teh Poci, dan Nasi Gudeg

Oleh Masayu Indriaty Susanto

Santai tapi serius. Rasanya semua masalah terasa gampang. Beliau selalu punya cara untuk melakukan apapun, sambil tersenyum dan tertawa. Selalu menularkan energi positif pada semua orang yang berbincang dengannya.

Soeparno Wonokromo, biasa kami sapa dengan Pak Parno, adalah atasan saya.

Akhir 1999, sebagai reporter baru di harian Palembang Pos (Sumeks Grup), posisi Pak Parno sebagai CEO Sumeks Group tentu jauh sekali di atas saya. Karena itu, saat pertama kali dikenalkan dengan beliau, saya sempat agak kaget. Karena sosoknya tidak seperti yang saya bayangkan.

Begitu sederhana. Padahal beliau adalah orang paling penting pada jaringan Sumeks Grup, yang membawahi 50 media dari koran, televisi, radio, media online, dan bisnis lainnya. Jaringan media terbesar di Sumatera.

Pada pertemuan pertama itu, beliau menyapa saya dan langsung bertanya, ”Mengapa kamu mau jadi wartawan Nduk?”

Saya kebingungan saat itu dan tidak menyangka akan ditanya seperti itu.

Spontan saya menjawab saja sekenanya,”Saya suka traveling Pak.” Mendengar itu Pak Parno langsung tertawa terbahak-bahak.

Sejak itu, saya tidak sering bertemu beliau lagi. Dalam beberapa kesempatan berpapasan, beliau selalu menyapa dan menanyakan kabar. “Gimana Nduk, beritamu apa hari ini?” tanyanya sambil tersenyum. Tidak ada kesan menggurui, dan saya paham beliau bertanya itu pun hanya sekadar basa basi. Dan sejak itu beliau pun selalu memanggil saya dengan sapaan “Nduk”.

Dua tahun kemudian, saya ditugaskan ke Jawa Pos Surabaya. Malam sebelum keberangkatan, saya berpamitan dengan beliau. Dan saat itu, beliau pun banyak bercerita tentang Surabaya dan Jawa Pos, di mana dulu adalah “kawah candradimuka”, ajang penempaan awal karir buat beliau.

Saya menikmati betapa antusiasnya Pak Parno menceritakan kisah masa lalunya itu. Masa-masa yang seharusnya sulit, tapi cara beliau menceritakannya terdengar begitu mengasyikkan.

Malam itulah, beliau bilang, ”Sulit atau mudah itu tergantung kita Nduk. Kalo kita lakukan dengan hati senang, ngga ada yang sulit.”

Beliau menyemangati saya yang awalnya agak takut juga berangkat tugas yang cukup jauh, sendirian pula. Bekal semangat dari Pak Parno itulah yang membuat saya makin percaya diri berangkat ke Surabaya esok harinya.

Saat Jawa Pos meluncurkan harian Indopos, saya kembali ditugaskan ke Jakarta.
Di sanalah saya lebih sering bertemu dengan Pak Parno.
Jika beliau ke Jakarta, sering menengok saya di lantai 10 Graha Pena Jakarta.
Lalu bertanya, ”Kamu selesai jam berapa Nduk? Ayo kita makan-makan.”

Saya menjawab jika saya baru bisa keluar kantor sekitar jam 10 malam, dan susah mencari restoran yang masih buka jam segitu.
Tapi Pak Parno bilang, “Ngga apa apa Nduk, santai saja.”

Dan benar saja, selesai deadline malam itu, kami langsung meluncur ke kawasan Melawai, Jakarta Selatan.

Di perjalanan saya sempat bertanya-tanya mau makan di mana selarut itu. Tapi kemudian, Mbak Rosmiati Darwis, manager iklan Sumeks Grup Jakarta yang mengantar kami malam itu memarkirkan mobilnya di tepi jalan kawasan lesehan Melawai.

Dinamakan kawasan lesehan ya karena memang di sana makannya benar-benar sambil lesehan. Di emperan toko-toko yang sudah tutup. Hanya dengan gelaran tikar, dan meja-meja kecil berderet. Mirip sekali dengan lesehan ala Malioboro Yogya.

Pak Parno langsung mengajak kami duduk, dan memesan teh poci dan nasi gudeg.
Kebetulan saya suka sekali gudeg, dan malam itu saya lapar sehingga langsung makan dengan lahap.

Kami pun mengobrol ringan, santai, sama sekali tidak ada suasana formil layaknya atasan dan bawahan.

Beliau bertanya apakah saya betah dan kesulitan selama tugas di Jakarta. Dan apa saja yang sudah saya kerjakan.
Saat saya jawab kalau saya senang-senang saja, meski di awal sempat kaget karena ritme kerja yang jauh berbeda dengan kantor saya di Palembang, beliau tertawa.

“Sekarang kamu tahu Nduk, gimana rasanya merintis koran baru,” katanya masih tertawa terbahak-bahak.

Sambil menyeruput teh poci dengan gula batu, Pak Parno lalu bercerita tentang kisah-kisahnya merintis berbagai media di berbagai kota. Betapa kita harus mengenali karakter masyarakat setempat. Betapa local content itu penting.

Dan bagaimana mendamaikan idealisme sebagai jurnalis dengan kepentingan bisnis yang pada kenyataannya seringkali berbenturan.

“Media tanpa idealisme akan ditinggalkan pembacanya. Tapi kalau hanya berisi idealisme juga tidak ada yang mau baca. Buat apa kita bikin media Nduk,” katanya dengan gayanya yang khas. Energik, fokus, tapi santai.

Esok paginya, saya kembali bertemu dengan Pak Parno di kantor. Kali ini, beliau tampil rapi lengkap dengan hem, jas dan dasi. Rupanya ada meeting perusahaan bersama Pak Dahlan Iskan (DI).

Saat melihat beliau berdua, saya baru sadar betapa mirip nya Pak Parno dengan Pak DI. Bukan fisiknya, karena Pak Parno perawakannya lebih kecil dan gesit. Tapi gaya bicara, sikap dan semangat dalam bekerja. Mirip sekali.

Sejak itu, jika beliau sedang di Jakarta, bagi saya itu berarti akan makan nasi gudeg di Melawai.

Pada sesi makan lesehan selanjutnya, saya pernah bertanya pada beliau, mengapa mendirikan begitu banyak media. Bahkan di satu daerah. Saya bertanya, bukankah itu tidak efisien?

Seperti biasa, Pak Parno langsung punya jawabannya. Sedikit serius meski tentu saja tetap saja diselingi guyon.

Beliau bercerita tentang karakter pembaca yang selalu berubah begitu dinamis. Namun yang paling menarik perhatian saya, yaitu saat beliau mengatakan, jika media-media sekunder diperlukan salah satunya sebagai “medan” latihan bagi kader-kader pilihannya.

“Mana bisa saya santai begini kalau saya tidak punya orang-orang yang bisa saya andalkan dan percayai untuk menjaga Palembang Nduk,” katanya sambil tersenyum senang.

Lagipula, tambah Pak Parno lagi, makin banyak media yang kita dirikan, makin banyak karyawan yang bisa bekerja. “Mereka bisa memberi nafkah keluarganya Nduk.”
Saya terdiam saat itu. Benar-benar mengesankan, mengetahui bagaimana bisnis besar dijalankan dengan nilai-nilai hidup sedalam itu.

Dan sekarang, sosok jurnalis tangguh dan pebisnis hebat itu telah tiada. Seorang atasan yang saya tidak pernah merasa beliau atasan saya. Tetapi “bapak” saya. Orang tua yang telah banyak menghasilkan begitu banyak karya nyata yang memberikan nilai-nilai hidup dan kehidupan ribuan orang keluarga besar Sumatera Ekspress grup.

Selamat jalan Pak Parno….
Terima kasih atas semuanya…
Allah lebih sayang dengan Bapak….

Komentar

Berita Lainnya